Minggu, 03 Mei 2020

Menu Masakan 10 Hari Pertama Ramadan

Terhitung sejak Work from Home (WFH) dan disusul dengan puasa, aku memantapkan diri untuk melancarkan keterampilan masak. Yang kenal aku pasti tahu betapa payahnya aku sebelumnya dalam bab dapur. Membedakan merica dan ketumbar serta lengkuas dan jahe saja nggak bisa. Sekarang sudah bisa dong. Berikut adalah menu masakan yang aku buat selama 10 hari pertama puasa.

1. Cumi Cabe Hijau (porsi untuk 2-3 orang)


Bahan:
Cumi ¼ kg
Cabai hijau segenggam (kurang lebih 20 biji)
Cabai rawit merah 4 biji
Tomat kecil (3 biji – bisa pakai 2 biji untuk yang besar)

Bumbu:
Bawang merah 7 siung
Bawang putih 5 siung
Daun jeruk 5 lembar (sobek)
Serai 2 batang (memarkan)
Saus tiram 3 sendok makan
Garam
Kaldu jamur
Jeruk nipis 1 buah
Minyak goreng

Proses memasak:
  1. Cuci cumi dan buang bagian tulang lunaknya yang mirip plastik. Lalu beri perasan jeruk nipis dan diamkan selama kurang lebih 10 menit setelah itu bilas. Saat proses mencuci ini, jangan menghilangkan seluruh tintanya karena menurutku tinta cumi membuat masakan menjadi lebih sedap. Kuncinya adalah jangan memencet atau memotong bagian kepalanya saat dicuci karena biasanya tinta cumi kebanyakan ada di situ
  2. Panaskan sedikit minyak dan masukan bawang merah dan bawang putih yang sudah diiris sampai harum
  3. Masukkan cabai hijau dan cabai rawit merah dan tumis sampai sedikit layu
  4. Masukkan daun jeruk, serai, tomat, dan cumi yang sudah dipotong dan tumis sampai serai dan daun jeruk layu serta aroma cumi yang amis hilang.
  5. Masukkan saus tiram, garam, dan kaldu jamur
  6. Koreksi rasa dan pastikan cumi sudah matang namun tidak sampai keras
  7. Sesudah matang sempurna, angkat dan sajikan


     2. Ayam Jahe (porsi untuk 3-4 orang)


Bahan:
Ayam potong (1/2 kg)
Daun bawang 2 buah (potong besar-besar)

Bumbu:
Jahe (2 buah sebesar ibu jari, geprek)
Bawang putih 4 buah
Garam
Lada
Minyak wijen 2 sendok makan
Saus tiram 2 sendok makan
Kaldu jamur
Minyak goreng

Proses memasak:
  1. Rebus ayam potong selama 1 menit lalu buang air rebusannya
  2. Rebus ayam potong di dalam panci kembali bersama dengan jahe, daun bawang, lada, dan garam
  3. Angkat dan tiriskan setelah direbus kurang lebih 30 menit, jangan buang air rebusannya
  4. Tumis bawang putih yang sudah dicincang halus bersama dengan minyak goreng, minyak wijen, saus tiram, kaldu jamur, dan sedikit garam
  5. Siramkan bawang putih tadi di atas ayam
  6. Nikmati dengan sup dari air rebusan kedua


 3. Tumis Tahu Cabe Saus Tiram (porsi untuk 3-4 orang)


Bahan:
Tahu goreng persegi 10 biji (potong menjadi 9)
1 butir kentang (potong kecil-kecil)
Cabai hijau besar 15 biji
Cabai merah besar 5 biji
Cabai rawit merah 4 biji
Tomat 2 buah

Bumbu:
Bawang merah 5 butir
Bawang putih 7 butir
Daun jeruk 4 lembar (sobek)
Serai 2 batang (geprek)
Saus tiram 3 sendok makan
Garam
Kaldu jamur
Minyak goreng

Proses memasak:
  1. Goreng kentang yang sudah dipotong, jangan sampai kering
  2. Tumis bawang merah dan bawang putih sampai harum
  3. Masukkan potongan cabai hijau, cabai merah, dan cabai rawit merah bersama dengan daun jeruk dan serai
  4. Masukkan tomat, aduk sampai hancur
  5. Masukkan tahu goreng yang sudah dipotong dan kentang kemudian aduk-aduk
  6. Masukkan saus tiram, kaldu jamur, dan garam kemudian koreksi rasa
  7. Angkat dan sajikan

    4. Sambal Teri Medan (porsi untuk 4-5 orang)



Bahan:
Teri medan basah ¼ kg
Cabai merah besar 20 biji
Cabai rawit merah 5 biji

Bumbu:
Bawang merah 7 buah
Bawang putih 7 buah
Daun jeruk 5 buah (sobek)
Serai 2 batang (memarkan)
Garam
Gula jawa sebesar ibu jari
Kaldu jamur

Proses memasak:
  1. Goreng teri medan namun jangan sampai kering
  2. Masukkan bawang merah, bawang putih, cabai merah, dan cabai rawit merah yang sudah dihaluskan, tumis sampai matang
  3. Masukkan daun jeruk dan serai
  4. Masukkan teri medan
  5. Masukkan garam, gula jawa, dan kaldu jamur
  6. Koreksi rasa
  7. Setelah matang, rasanya pas, dan semua bahan tercampur rata, matikan kompor namun tetap aduk-aduk sambal supaya tidak gosong di bagian bawah


     5. Plecing Lombok (porsi untuk 3 orang)


Bahan:
Cabai rawit merah 5 buah
Terasi sebesar 1,5 ibu jari (bakar)
Tomat 3 buah
Jeruk limau 5 buah
Kangkung 1 ikat
Terong bulat 7 biji
Kecambah 2 genggam

Bumbu:
Garam
Kaldu jamur

Proses memasak:
  1. Haluskan cabai rawit bersama dengan tomat dan terasi yang sudah dibakar
  2. Masukkan garam dan kaldu jamur
  3. Beri perasan jeruk limau
  4. Rebus kangkung dan kecambah, jangan terlalu lama
  5. Sajikan sambal dengan sayuran


     6. Air Sagu Gula Melaka (porsi untuk 3 orang)


Bahan:
Sagu mutiara 1 bungkus
Susu putih (saya pakai merk Indomilk low fat)
Gula jawa 2 tangkup
Es batu

Bumbu:
1 bungkus bubuk vanili
Sedikit garam
1 lembar daun pandan (ikat)

Proses memasak:
  1. Rebus sagu mutiara dengan cara berikut ini: (1) masukkan sagu mutiara setelah air mendidih, (2) masak selama 5 menit kemudian matikan api lalu tutup rapat selama 30 menit agar semua butiran sagu berubah warna menjadi merah dan tidak meninggalkan titik putih, dan (3) setelah itu masak kembali selama 5 menit
  2. Setelah matang, siram sagu mutiara dengan air dingin agar tidak menggumpal
  3. Masukkan 2 tangkup gula jawa, bubuk vanili, dan sedikit garam ke dalam air mendidih lalu aduk-aduk sampai mengental
  4. Susun bahan di dalam gelas dengan urutan: air gula – es batu yang sudah dihancurkan – sagu mutiara kemudian siram dengan susu
  5. Sajikan

    7. Sup Ikan Bening Asam Pedas (porsi untuk 4-5 orang)


Bahan:
Ikan 1 ekor (saya biasanya memakai barakuda, potong-potong)
Kemangi 2 ikat
Tomat 2 buah (potong-potong)

Bumbu:
Bawang merah 5 buah
Bawang putih 5 buah
Cabai rawit merah 5 buah
Daun jeruk 5 lembar (sobek)
Serai 2 batang (geprek)
Garam
Jeruk nipis 4 butir
Kaldu jamur

Proses memasak:

  1. Cuci bersih ikan yang sudah dipotong kemudian lumuri dengan air dari 2 buah jeruk nipis dan diamkan kurang lebih selama 10 menit
  2. Tumis bawang merah dan putih yang sudah dipotong-potong sampai harum
  3. Masukkan potongan cabai rawit merah, daun jeruk, dan serai kemudian lanjutkan menumis
  4.  Masukkan air dan biarkan sampai mendidih
  5. Masukkan ikan
  6. Masukkan air perasan dari 2 buah jeruk nipis
  7. Tambahkan garam serta kaldu jamur
  8. Masukkan potongan tomat
  9. Setelah sudah matang, masukkan daun kemangi, aduk-aduk lalu matikan api
  10. Sajikan

 8. Pepes Pindang Kemangi (porsi untuk 6 orang)



Bahan:
Ikan pindang 8 buah (bersihkan dan belah dua)
Kemangi 2 ikat
Daun pisang
Tomat hijau 2 buah (potong-potong)

Bumbu:
Bawang merah 7 buah
Bawang putih 7 buah
Cabai rawit merah 5 buah
Cabai merah keriting 5 buah
Daun jeruk 6 lembar
Serai 3 batang
Ketumbar 1 genggam
Kunyit 1 buah sebesar ibu jari (goreng)
Kemiri 3 buah (goreng)
Garam
Kaldu jamur

Proses memasak:

  1. Haluskan kemiri dan kunyit yang sudah digoreng bersama dengan bawang merah, bawang putih, kemiri, cabai rawit merah, dan cabai merah keriting sampai halus (untuk tips, ketumbar menjadi bahan yang pertama ditumbuk karena keras dan alot)
  2. Campurkan bumbu yang sudah dihaluskan tersebut dengan ikan pindang dan daun kemangi sampai tercampur sempurna, jangan lupa masukkan garam dan kaldu jamur
  3. Tata di atas daun pisang dengan membagi adonan menjadi 3
  4. Tambahkan potongan tomat, daun jeruk, dan serai pada tiap bungkus daun pisang
  5. Kukus kurang lebih 45 menit
  6.  Setelah matang, bakar di atas teflon sampai daun pisangnya menjadi coklat
  7. Sajikan

     9. Seblak (porsi untuk 4 orang)


Bahan:
Kerupuk udang warna merah 1 bungkus (ini kalau tidak ada kerupuk khusus seblak, karena kalau kerupuknya asal, rasa kerupuknya tidak manis)
Bakso 10 butir
Telur ayam 2 buah

Bumbu:
Kencur 5 butir kecil
Bawang merah 5 buah
Bawang putih 5 buah
Cabai rawit merah 5 buah
Garam
Gula pasir
Kaldu jamur

Proses memasak:

  1. Rebus kerupuk, angkat, kemudian bilas dengan air dingin setelah matang agar tidak menggumpal
  2. Haluskan kencur, bawang merah, bawang putih, dan cabai rawit merah
  3. Tumis dengan menggunakan sedikit minyak sampai harum
  4.  Masukkan telur ayam
  5. Masukkan bakso dan kerupuk dan aduk sampai tercampur rata (jika ingin berkuah, tambahkan air)
  6. Bumbui dengan garam, sedikit gula, dan kaldu jamur kemudian koreksi rasa
  7. Sajikan setelah matang

10. Pho Ga a.k.a. Sup Ayam Vietnam (porsi untuk 2-3 orang)


Bahan:
Bihun atau mi beras 1 bungkus
Ayam kampung ½ kg
Daun bawang 2 batang
Seledri 2 buah (seharusnya pakai daun ketumbar, tetapi nggak doyan dan sulit menemukannya di Indonesia)
Kecambah 4 genggam
Cabai rawit merah 5 buah (potong-potong)

Bumbu:
Bawang bombay 2 buah
Bunga lawang 4 buah
Kayu manis 3 potong
Kapulaga 4 buah
Jahe 4 buah
Ketumbar setengah genggam
(Semua rempah di atas disangrai di atas teflon sampai harum)
Garam
Kaldu jamur

Proses memasak:

  1. Siram bihun atau mi beras dengan air mendidih
  2. Rebus ayam selama 1 menit lalu buang kuahnya
  3. Rebus kembali ayam kampung bersama dengan rempah-rempah yang sudah disangrai selama 1 jam  (kalau pakai panci presto cukup 20 menit)
  4. Angkat ayam, saring kuah
  5. Rebus kembali kuah yang sudah disaring dengan menambahkan garam dan kaldu jamur kemudian koreksi rasa
  6. Tata bihun atau mi beras, kecambah, seledri, daun bawang, dan ayam yang sudah disuwir di atas mangkuk
  7. Siram dengan kuah dan sajikan

Kamis, 22 Februari 2018

5 LAGU YANG PALING SERING DIPUTAR DI 2017



2017 bisa dilabeli tahun paling roller coaster selama hampir 29 tahun aku hidup di dunia. Dalam satu tahun, aku bekerja di dua wilayah berbeda yang berada di luar ibu pertiwi. Ada banyak drama terjadi, mulai dari persiapan pergi sampai rasa rindu yang sering membuat mata basah. Selama masa-masa itu dan juga masa peralihan dari satu drama ke drama lain, musik selalu menjadi senjata manjur yang bisa menurunkan sedikit kadar drama.

    1. Honne – Someone That Loves You


Setiap malam lagu ini selalu ada di daftar putar lagu yang aku dengar selama tinggal di Dili. Mengapa malam? Karena pagi sampai sore kerja dan malamnya ternyata juga masih kerja. Hahaha. Sebenarnya versi asli lagu ini dinyanyikan oleh Honne dan Izzy Bizu. Di awal Januari 2017, aku nggak sengaja menemukan kolaborasi yang dilakukan Honne dan Naomi Scarlett, seorang penyanyi yang berbasis di London dan ternyata juga merupakan backing vocalnya mereka.          
Menurutku versi mereka lebih berterima untukku. Musik Honne yang bergenre electro-soul pas saat dipadukan dengan suara Scarlett yang super lembut, berbeda dengan suara Izzy Bizu yang rancak (aku nggak tahu bagaimana harus menjelaskan). Bukan berarti suara Izzy Bizu jelek. Ini hanya masalah selera. Sebagai tambahan, pada kolaborasi dengan Scarlett, Honne memainkan musik dengan memakai instrumen yang lebih minimalis. Tema lagu jadi lebih tersampaikan karena pendengar nggak salah fokus dengan musik yang hingar bingar. Cocok banget untuk menemani otak yang sedang berpikir mengerjakan tugas. Musiknya nggak ganggu irama berpikirku. .
Kalau soal tema, masih soal hubungan percintaan. Kisahnya tentang 2 orang yang saling suka tetapi masih ragu-ragu. Yang cewek maunya segera dapat kejelasan tetapi dia tahu kalau si cowok nggak mudah mengambil pilihan karena dia masih punya cewek. Jadi, ya “I’m waiting and I’m patient”. Semacam “Mau Dibawa Ke Mana”nya Armada Band versi electro-soul yang elegan karena permintaan memaksanya nggak terlalu vulgar.

    2. John Mayer – Rosie


Selang beberapa hari setelah John Mayer mengunggah video klip pertama dari album “The Search for Everything” berjudul “Still Feel Like Your Man”, aku menemukan video berisi lirik untuk lagu “Rosie” yang ada di album yang sama. Pertama kali dengar langsung suka. Pertama karena aku suka permainan gitarnya John Mayer di lagu ini. Kedua karena karena lagu ini sebenarnya adalah permintaan John agar Katy Perry balik sama dia. Ini hanya tebak-tebakan saja sih sebenarnya tetapi banyak spekulasi di internet yang sepakat dengan pendapatku. Keinginan minta balik ini sangat jelas terbaca lewat liriknya yang hampir semua isinya adalah kata-kata permohonan untuk balikan tanpa menggunakan “please”.
Lagu ini biasanya kuputar saat menunggu jam mengajar tiba. Selama di Dili, YouTube dan playlist di laptop adalah sumber hiburan utama. Sayangnya, saat istirahat mengajar pun kadang aku disibukkan dengan laporan dan seabrek tanggung jawab yang harus dipenuhi. Karena YouTube pasti mengandung video yang bisa mengalihkan konsentrasi, aku selalu bergantung pada playlist. “Rosie” sering nangkring di urutan pertama dan sering sekali diputar.

    3. Tulus – Bumerang


Sudah jadi penggemar musik Tulus sejak “Sewindu”. Aku punya semua album Tulus lengkap dari album pertama sampai yang terbaru dan sering sekali memasangnya di playlist. Entah mengapa masuk di bulan Oktober, aku sering sekali memutar “Bumerang” dari album “Gajah” padahal biasanya hanya didengar sambil lalu saja. Lagu ini pernah pada suatu hari kelabu pada musim dingin di bulan November menjadi satu-satunya lagu yang aku dengarkan dari pagi sampai malam.
Lagu ini sebenarnya membingungkan. Isinya berisi kekecewaan seseorang karena merasa dipermainkan oleh mantannya. Jadi, mantannya ini memang sering gonta-ganti pacar dan tidak ada yang diseriusin. Yang menjadi persona di lagu ini menjadi sakit hati dan dia percaya akan karma. Makanya judulnya “Bumerang”. Dia berharap mentannya suatu saat akan kena jatah disakiti juga dan lebih besar kadarnya karena dia sudah menyakiti banyak hati sebelumnya. Yang membingungkan adalah bagian liriknya. Si persona dalam lagu terkadang menyebut mantannya dengan “dia”, namun kadang dengan “mu”/“kau”.
Pada akhirnya aku menyimpulkan bahwa pada saat dia menggunakan “mu” atau “kau”, si persona bilang bahwa dia sudah nggak peduli sama si mantan dan sudah melupakannya. Si mantan hanya perlu menunggu karma yang datang. Namun, pada saat dia menyebut si mantan dengan “dia”, jelas sekali terbaca kalau si persona belum bisa melupakan sakit hatinya. Dia bahkan bilang kalau dia mau membalas perbuatan si mantan. Kontras banget kan dengan efek bumerang yang si persona harap akan mengenai si mantan saat pakai panggilan “mu”. Itu mungkin adalah hal yang secara tidak sadar lama-lama membuatku tertarik dengan lagu ini.  


    4. Chet Baker


Chet Baker mungkin menjadi musisi yang musiknya paling sering kuputar selama di Tiongkok. Jalanku menemukan musiknya pun melalui proses yang panjang. Semua berawal ketika John Mayer menulis caption tentang musisi jazz Bill Evans di Instagram dan Instastorynya. Aku yang penasaran pun mulai mencari Bill Evans di YouTube. Salah satu penampilannya yang kusaksikan adalah saat berkolaborasi dengan seorang pemain terompet. Aku pun langsung luluh lantak pertama kali mendengar melodi yang keluar dari terompetnya. Dialah Chet Baker. Kemudian aku pun meninggalkan Bill Evans dan segera beralih musik Chet Baker.
Awalnya aku mengira kalau hanya akan mendengarkan suara terompetnya saja, tetapi ternyata dia juga seorang penyanyi. Dan suaranya begitu menggetarkan hati (duileh). Dia kalau menyanyi ya menyanyi saja. Tidak pakai improvisasi meliuk-meliuk yang biasa dipakai penyanyi. Entah mengapa emosi yang disampaikan lewat cara menyanyi seperti itu menurutku malah tersampaikan. Coba dengarkan “Time After Time” atau “My Funny Valentine”. Jadilah aku mengunduh beberapa penampilan Chet Baker, baik saat sedang menyanyi, bermain terompet, atau keduanya.
Musik Chet Baker pada akhirnya biasa menemani keseharianku di sana. Baik saat suasana santai atau sibuk, aku merasa musiknya cocok. Saat ini, setiap kali mendengar Chet Baker di Indonesia, aku akan langsung mengingat periode hidupku selama di Tiongkok. Aku kembali ingat dengan segala aktivitas dan perasaan saat itu. Ajaib ya bagaimana sebuah lagu bisa membawa kembali masa yang sudah berlalu ke kehidupan kita saat ini.


    5. Joni Mitchell – Both Sides, Now


Aku selalu nggak habis pikir dengan Alanis Morissette yang bisa bikin Jagged Little Pill waktu usianya baru 22. Kemudian aku menemukan Joni Mitchell dan semakin nggak mengerti lagi. Bagaimana seseorang bisa menulis lagu dengan lirik yang seharusnya baru bisa ditulis saat seseorang paling nggak sudah hidup 50 tahun? Apa yang telah dilewati dua orang itu dalam hidup sampai bisa menulis lirik yang sangat dalam dan bijaksana?
Perkenalanku dengan Joni Mitchell juga nggak sengaja. Sebenarnya aku sudah sering mendengar namanya, namun baru sekitar Oktober 2017 benar-benar mendengarkan lagu-lagunya. Kesannya setelah mendengar: serupa menyimak puisi yang dimusikalisasi. Ada satu lagu yang sangat aku suka. Judulnya Both Sides, Now. Lagu ini berisi tentang perpindahan fase dalam kehidupan seseorang, saat dia awalnya berpikir secara naif sampai pada sikap memandang semua kejadian dalam hidup dengan cara yang berbeda sama sekali dibandingkan saat dia masih naif. Dia punya kesimpulan bahwa hidup ini memang misterius dan nggak mungkin bisa dipahami secara menyeluruh.
Lagu ini sering nangkring di playlist dalam berbagai kesempatan. Namun, paling sering memang saat mood sedang mellow. Pernah suatu hari aku memenuhi playlistku hanya dengan lagu ini saat sedang mengerjakan deadline pekerjaan yang akhirnya selesai pukul 2 pagi padahal keesokannya tetap harus mengajar. Saat itu aku benar-benar sedang gila. Aku pikir saat itu lagu ini banyak menolongku supaya nggak sakit dan tetap bersemangat. Hahahaha. 


Sumber gambar: https://www.youtube.com/watch?v=mN1hJXzJyNU
https://en.wikipedia.org/wiki/The_Search_for_Everything
https://genius.com/Tulus-bumerang-lyrics
http://www.sokillingman.com/transcriptions/chet-baker-my-little-suede-shoes/ 
https://genius.com/Joni-mitchell-both-sides-now-lyrics 

Selasa, 30 Januari 2018

KERETA API

Sudah hampir seminggu saya ada di Indonesia setelah hampir setengah tahun di negeri orang. Setiap pulang dari tempat yang jauh, saya selalu takjub dengan perubahan sekecil apapun yang menurut saya terjadi di kota tempat saya berdomisili, Jogja dan Wates. Selama seminggu ini, kebetulan saya sudah beberapa kali bolak-balik Jogja-Wates menggunakan kereta Prambanan Ekspres atau yang sering disebut Prameks. Saya menyadari satu perubahan: jumlah orang yang menonton lalu lalang kereta api di pinggir rel tiap sore bertambah banyak.

Bahkan pemandangan tersebut semakin menarik saat saya menyadari ada banyak pedagang kecil yang ikut mengais rezeki dengan mangkal di titik-titik yang dianggap strategis untuk menonton kereta lewat. Jenis dagangannya beragam. Mulai cilok sampai jasa naik odong-odong. Berdasarkan pengamatan saya, titik tersebut biasanya berada di lokasi yang dekat dengan jalan utama desa.

Awalnya saya sempat sinis dengan cara orang-orang ini mencari hiburan kala sore. Memangnya nggak ada cara lain apa untuk cari hiburan. Kereta lewat aja ditunggu. Lagian, apa yang menarik dari bodi kereta kita. Nggak ada mulus-mulusnya. Sampai kemudian saya menyadari satu hal dalam perjalanan pulang ke Wates dari Jogja naik Prameks sore ini.

Setelah saya memperhatikan beberapa titik berkumpulnya masyarakat untuk menonton kereta lewat, saya sadar bahwa mayoritas massanya adalah keluarga yang punya anak kecil, terutama usia balita. Fakta ini membawa ingatan saya ke masa lebih dari dua puluh tahun yang lalu saat setiap sore Bapak sering membawa saya melihat kereta melintas di perhentian kereta sisi barat kota Wates. Selepas mandi dan diberi bedak, saya akan setia menunggu Bapak pulang kerja. Kalau suara motornya sudah terdengar, saya akan langsung keluar rumah dan menunggu dinaikkan ke tangki motornya. Saya masih punya ingatan tentang rupa tutup tangki bensinnya saking seringnya duduk di sana.

Bapak akan berkendara membawa saya ke depan SD Kanisius Wates yang lokasinya ada di samping rel untuk menunggu lewatnya si kuda besi. Saat lokomotif kereta sudah mulai nampak, kadang saya akan mulai berdiri di tangki dan Bapak akan memegangi perut saya. Saya ingat pelukan lengannya di perut karena sering memainkan arlojinya. Ritual ini mulai hilang menjelang saya masuk SD karena saat itu saya lebih sering main dengan anak-anak tetangga sampai sore. Lalu karena Bapak akhirnya pergi saat usia saya 7 tahun, tidak pernah ada lagi ritual yang sama dalam hidup saya.  

Sejak dulu saya sadar kalau alasan kecintaan saya pada kereta api banyak dipengaruhi oleh kenangan tersebut. Tapi baru sore ini saya menyadari bahwa menunggu kereta lewat sebenarnya adalah cara sederhana orang tua Indonesia - terutama di Jawa karena ada rel kereta api - yang punya anak balita untuk mendekatkan diri dengan anaknya. Fisik yang capek setelah bekerja seharian masih harus mengalah untuk diistirahatkan demi sang permata hati. Keikhlasan untuk mengalah dengan rasa capek itu namanya cinta dan ternyata ia tidak lekang karena sampai sekarang, perasaan saya selalu hangat tiap kali melihat kereta.

Saya memang tak pernah bisa mengingat apa yang Bapak dan saya bicarakan saat menunggu kereta karena bahkan mungkin tidak ada dialog berarti yang terjadi (sambil sedang mencoba memikirkan beberapa kemungkinan dialog antara anak balita perempuan dan ayahnya). Namun, kenangan yang diberikan Bapak nyatanya sudah cukup membekali saya untuk tumbuh menjadi anak yang tak pernah merasa kekurangan rasa kasih sayang dari orang tua. Dulu saat saya sering menangis kalau ingat Bapak, ada guru saya di SD yang pernah bilang kalau Bapak sebenarnya tidak benar-benar pergi. Saya mulai paham arti perkataannya saat sudah dewasa. Untuk memahami memang perlu waktu; namun untuk merasakan, tidak perlu menunggu sampai dewasa.   

Setelah ini tentu saja saya tidak akan berani sinis lagi saat melihat gerombolan orang yang tiap sore menunggu kereta lewat. Karena di sana ada orang tua, ayah dan ibu, yang sebenarnya sedang menegosiasikan waktu istirahat dengan badan mereka yang capek, demi menunjukkan kepada anak-anaknya bahwa mereka begitu dicintai. 




Sumber gambar: http://moziru.com/explore/Train%20Station%20clipart%20black%20and%20white/