Kamis, 22 Februari 2018

5 LAGU YANG PALING SERING DIPUTAR DI 2017



2017 bisa dilabeli tahun paling roller coaster selama hampir 29 tahun aku hidup di dunia. Dalam satu tahun, aku bekerja di dua wilayah berbeda yang berada di luar ibu pertiwi. Ada banyak drama terjadi, mulai dari persiapan pergi sampai rasa rindu yang sering membuat mata basah. Selama masa-masa itu dan juga masa peralihan dari satu drama ke drama lain, musik selalu menjadi senjata manjur yang bisa menurunkan sedikit kadar drama.

    1. Honne – Someone That Loves You


Setiap malam lagu ini selalu ada di daftar putar lagu yang aku dengar selama tinggal di Dili. Mengapa malam? Karena pagi sampai sore kerja dan malamnya ternyata juga masih kerja. Hahaha. Sebenarnya versi asli lagu ini dinyanyikan oleh Honne dan Izzy Bizu. Di awal Januari 2017, aku nggak sengaja menemukan kolaborasi yang dilakukan Honne dan Naomi Scarlett, seorang penyanyi yang berbasis di London dan ternyata juga merupakan backing vocalnya mereka.          
Menurutku versi mereka lebih berterima untukku. Musik Honne yang bergenre electro-soul pas saat dipadukan dengan suara Scarlett yang super lembut, berbeda dengan suara Izzy Bizu yang rancak (aku nggak tahu bagaimana harus menjelaskan). Bukan berarti suara Izzy Bizu jelek. Ini hanya masalah selera. Sebagai tambahan, pada kolaborasi dengan Scarlett, Honne memainkan musik dengan memakai instrumen yang lebih minimalis. Tema lagu jadi lebih tersampaikan karena pendengar nggak salah fokus dengan musik yang hingar bingar. Cocok banget untuk menemani otak yang sedang berpikir mengerjakan tugas. Musiknya nggak ganggu irama berpikirku. .
Kalau soal tema, masih soal hubungan percintaan. Kisahnya tentang 2 orang yang saling suka tetapi masih ragu-ragu. Yang cewek maunya segera dapat kejelasan tetapi dia tahu kalau si cowok nggak mudah mengambil pilihan karena dia masih punya cewek. Jadi, ya “I’m waiting and I’m patient”. Semacam “Mau Dibawa Ke Mana”nya Armada Band versi electro-soul yang elegan karena permintaan memaksanya nggak terlalu vulgar.

    2. John Mayer – Rosie


Selang beberapa hari setelah John Mayer mengunggah video klip pertama dari album “The Search for Everything” berjudul “Still Feel Like Your Man”, aku menemukan video berisi lirik untuk lagu “Rosie” yang ada di album yang sama. Pertama kali dengar langsung suka. Pertama karena aku suka permainan gitarnya John Mayer di lagu ini. Kedua karena karena lagu ini sebenarnya adalah permintaan John agar Katy Perry balik sama dia. Ini hanya tebak-tebakan saja sih sebenarnya tetapi banyak spekulasi di internet yang sepakat dengan pendapatku. Keinginan minta balik ini sangat jelas terbaca lewat liriknya yang hampir semua isinya adalah kata-kata permohonan untuk balikan tanpa menggunakan “please”.
Lagu ini biasanya kuputar saat menunggu jam mengajar tiba. Selama di Dili, YouTube dan playlist di laptop adalah sumber hiburan utama. Sayangnya, saat istirahat mengajar pun kadang aku disibukkan dengan laporan dan seabrek tanggung jawab yang harus dipenuhi. Karena YouTube pasti mengandung video yang bisa mengalihkan konsentrasi, aku selalu bergantung pada playlist. “Rosie” sering nangkring di urutan pertama dan sering sekali diputar.

    3. Tulus – Bumerang


Sudah jadi penggemar musik Tulus sejak “Sewindu”. Aku punya semua album Tulus lengkap dari album pertama sampai yang terbaru dan sering sekali memasangnya di playlist. Entah mengapa masuk di bulan Oktober, aku sering sekali memutar “Bumerang” dari album “Gajah” padahal biasanya hanya didengar sambil lalu saja. Lagu ini pernah pada suatu hari kelabu pada musim dingin di bulan November menjadi satu-satunya lagu yang aku dengarkan dari pagi sampai malam.
Lagu ini sebenarnya membingungkan. Isinya berisi kekecewaan seseorang karena merasa dipermainkan oleh mantannya. Jadi, mantannya ini memang sering gonta-ganti pacar dan tidak ada yang diseriusin. Yang menjadi persona di lagu ini menjadi sakit hati dan dia percaya akan karma. Makanya judulnya “Bumerang”. Dia berharap mentannya suatu saat akan kena jatah disakiti juga dan lebih besar kadarnya karena dia sudah menyakiti banyak hati sebelumnya. Yang membingungkan adalah bagian liriknya. Si persona dalam lagu terkadang menyebut mantannya dengan “dia”, namun kadang dengan “mu”/“kau”.
Pada akhirnya aku menyimpulkan bahwa pada saat dia menggunakan “mu” atau “kau”, si persona bilang bahwa dia sudah nggak peduli sama si mantan dan sudah melupakannya. Si mantan hanya perlu menunggu karma yang datang. Namun, pada saat dia menyebut si mantan dengan “dia”, jelas sekali terbaca kalau si persona belum bisa melupakan sakit hatinya. Dia bahkan bilang kalau dia mau membalas perbuatan si mantan. Kontras banget kan dengan efek bumerang yang si persona harap akan mengenai si mantan saat pakai panggilan “mu”. Itu mungkin adalah hal yang secara tidak sadar lama-lama membuatku tertarik dengan lagu ini.  


    4. Chet Baker


Chet Baker mungkin menjadi musisi yang musiknya paling sering kuputar selama di Tiongkok. Jalanku menemukan musiknya pun melalui proses yang panjang. Semua berawal ketika John Mayer menulis caption tentang musisi jazz Bill Evans di Instagram dan Instastorynya. Aku yang penasaran pun mulai mencari Bill Evans di YouTube. Salah satu penampilannya yang kusaksikan adalah saat berkolaborasi dengan seorang pemain terompet. Aku pun langsung luluh lantak pertama kali mendengar melodi yang keluar dari terompetnya. Dialah Chet Baker. Kemudian aku pun meninggalkan Bill Evans dan segera beralih musik Chet Baker.
Awalnya aku mengira kalau hanya akan mendengarkan suara terompetnya saja, tetapi ternyata dia juga seorang penyanyi. Dan suaranya begitu menggetarkan hati (duileh). Dia kalau menyanyi ya menyanyi saja. Tidak pakai improvisasi meliuk-meliuk yang biasa dipakai penyanyi. Entah mengapa emosi yang disampaikan lewat cara menyanyi seperti itu menurutku malah tersampaikan. Coba dengarkan “Time After Time” atau “My Funny Valentine”. Jadilah aku mengunduh beberapa penampilan Chet Baker, baik saat sedang menyanyi, bermain terompet, atau keduanya.
Musik Chet Baker pada akhirnya biasa menemani keseharianku di sana. Baik saat suasana santai atau sibuk, aku merasa musiknya cocok. Saat ini, setiap kali mendengar Chet Baker di Indonesia, aku akan langsung mengingat periode hidupku selama di Tiongkok. Aku kembali ingat dengan segala aktivitas dan perasaan saat itu. Ajaib ya bagaimana sebuah lagu bisa membawa kembali masa yang sudah berlalu ke kehidupan kita saat ini.


    5. Joni Mitchell – Both Sides, Now


Aku selalu nggak habis pikir dengan Alanis Morissette yang bisa bikin Jagged Little Pill waktu usianya baru 22. Kemudian aku menemukan Joni Mitchell dan semakin nggak mengerti lagi. Bagaimana seseorang bisa menulis lagu dengan lirik yang seharusnya baru bisa ditulis saat seseorang paling nggak sudah hidup 50 tahun? Apa yang telah dilewati dua orang itu dalam hidup sampai bisa menulis lirik yang sangat dalam dan bijaksana?
Perkenalanku dengan Joni Mitchell juga nggak sengaja. Sebenarnya aku sudah sering mendengar namanya, namun baru sekitar Oktober 2017 benar-benar mendengarkan lagu-lagunya. Kesannya setelah mendengar: serupa menyimak puisi yang dimusikalisasi. Ada satu lagu yang sangat aku suka. Judulnya Both Sides, Now. Lagu ini berisi tentang perpindahan fase dalam kehidupan seseorang, saat dia awalnya berpikir secara naif sampai pada sikap memandang semua kejadian dalam hidup dengan cara yang berbeda sama sekali dibandingkan saat dia masih naif. Dia punya kesimpulan bahwa hidup ini memang misterius dan nggak mungkin bisa dipahami secara menyeluruh.
Lagu ini sering nangkring di playlist dalam berbagai kesempatan. Namun, paling sering memang saat mood sedang mellow. Pernah suatu hari aku memenuhi playlistku hanya dengan lagu ini saat sedang mengerjakan deadline pekerjaan yang akhirnya selesai pukul 2 pagi padahal keesokannya tetap harus mengajar. Saat itu aku benar-benar sedang gila. Aku pikir saat itu lagu ini banyak menolongku supaya nggak sakit dan tetap bersemangat. Hahahaha. 


Sumber gambar: https://www.youtube.com/watch?v=mN1hJXzJyNU
https://en.wikipedia.org/wiki/The_Search_for_Everything
https://genius.com/Tulus-bumerang-lyrics
http://www.sokillingman.com/transcriptions/chet-baker-my-little-suede-shoes/ 
https://genius.com/Joni-mitchell-both-sides-now-lyrics 

Selasa, 30 Januari 2018

KERETA API

Sudah hampir seminggu saya ada di Indonesia setelah hampir setengah tahun di negeri orang. Setiap pulang dari tempat yang jauh, saya selalu takjub dengan perubahan sekecil apapun yang menurut saya terjadi di kota tempat saya berdomisili, Jogja dan Wates. Selama seminggu ini, kebetulan saya sudah beberapa kali bolak-balik Jogja-Wates menggunakan kereta Prambanan Ekspres atau yang sering disebut Prameks. Saya menyadari satu perubahan: jumlah orang yang menonton lalu lalang kereta api di pinggir rel tiap sore bertambah banyak.

Bahkan pemandangan tersebut semakin menarik saat saya menyadari ada banyak pedagang kecil yang ikut mengais rezeki dengan mangkal di titik-titik yang dianggap strategis untuk menonton kereta lewat. Jenis dagangannya beragam. Mulai cilok sampai jasa naik odong-odong. Berdasarkan pengamatan saya, titik tersebut biasanya berada di lokasi yang dekat dengan jalan utama desa.

Awalnya saya sempat sinis dengan cara orang-orang ini mencari hiburan kala sore. Memangnya nggak ada cara lain apa untuk cari hiburan. Kereta lewat aja ditunggu. Lagian, apa yang menarik dari bodi kereta kita. Nggak ada mulus-mulusnya. Sampai kemudian saya menyadari satu hal dalam perjalanan pulang ke Wates dari Jogja naik Prameks sore ini.

Setelah saya memperhatikan beberapa titik berkumpulnya masyarakat untuk menonton kereta lewat, saya sadar bahwa mayoritas massanya adalah keluarga yang punya anak kecil, terutama usia balita. Fakta ini membawa ingatan saya ke masa lebih dari dua puluh tahun yang lalu saat setiap sore Bapak sering membawa saya melihat kereta melintas di perhentian kereta sisi barat kota Wates. Selepas mandi dan diberi bedak, saya akan setia menunggu Bapak pulang kerja. Kalau suara motornya sudah terdengar, saya akan langsung keluar rumah dan menunggu dinaikkan ke tangki motornya. Saya masih punya ingatan tentang rupa tutup tangki bensinnya saking seringnya duduk di sana.

Bapak akan berkendara membawa saya ke depan SD Kanisius Wates yang lokasinya ada di samping rel untuk menunggu lewatnya si kuda besi. Saat lokomotif kereta sudah mulai nampak, kadang saya akan mulai berdiri di tangki dan Bapak akan memegangi perut saya. Saya ingat pelukan lengannya di perut karena sering memainkan arlojinya. Ritual ini mulai hilang menjelang saya masuk SD karena saat itu saya lebih sering main dengan anak-anak tetangga sampai sore. Lalu karena Bapak akhirnya pergi saat usia saya 7 tahun, tidak pernah ada lagi ritual yang sama dalam hidup saya.  

Sejak dulu saya sadar kalau alasan kecintaan saya pada kereta api banyak dipengaruhi oleh kenangan tersebut. Tapi baru sore ini saya menyadari bahwa menunggu kereta lewat sebenarnya adalah cara sederhana orang tua Indonesia - terutama di Jawa karena ada rel kereta api - yang punya anak balita untuk mendekatkan diri dengan anaknya. Fisik yang capek setelah bekerja seharian masih harus mengalah untuk diistirahatkan demi sang permata hati. Keikhlasan untuk mengalah dengan rasa capek itu namanya cinta dan ternyata ia tidak lekang karena sampai sekarang, perasaan saya selalu hangat tiap kali melihat kereta.

Saya memang tak pernah bisa mengingat apa yang Bapak dan saya bicarakan saat menunggu kereta karena bahkan mungkin tidak ada dialog berarti yang terjadi (sambil sedang mencoba memikirkan beberapa kemungkinan dialog antara anak balita perempuan dan ayahnya). Namun, kenangan yang diberikan Bapak nyatanya sudah cukup membekali saya untuk tumbuh menjadi anak yang tak pernah merasa kekurangan rasa kasih sayang dari orang tua. Dulu saat saya sering menangis kalau ingat Bapak, ada guru saya di SD yang pernah bilang kalau Bapak sebenarnya tidak benar-benar pergi. Saya mulai paham arti perkataannya saat sudah dewasa. Untuk memahami memang perlu waktu; namun untuk merasakan, tidak perlu menunggu sampai dewasa.   

Setelah ini tentu saja saya tidak akan berani sinis lagi saat melihat gerombolan orang yang tiap sore menunggu kereta lewat. Karena di sana ada orang tua, ayah dan ibu, yang sebenarnya sedang menegosiasikan waktu istirahat dengan badan mereka yang capek, demi menunjukkan kepada anak-anaknya bahwa mereka begitu dicintai. 




Sumber gambar: http://moziru.com/explore/Train%20Station%20clipart%20black%20and%20white/

Sabtu, 07 Januari 2017

EULOGY UNTUK PAPA SEORANG SAHABAT

“Itu lukisan siapa, Len?” merupakan pertanyaan pertama yang saya ajukan pada sahabat saya, Ellen, saat pertama kali berkunjung ke rumahnya.
“Mama sama papaku,” jawabnya.
Entah ia masih mengingat percakapan tersebut atau tidak. Belasan tahun telah berlalu sejak pertanyaan tersebut saya lontarkan. Lima belas tahun tepatnya.
Dan kenangan tersebut entah mengapa datang kembali 3 hari yang lalu.

Mungkin Anda sempat membaca sekilas lewat sosial media atau surat kabar tentang kepergian Kepala Dinas Perhubungan DIY karena kecelakaan. Sepedanya tertabrak dari belakang oleh pengendara sepeda motor di daerah Sedayu. Pengendara sepeda tersebut terjatuh dan tak sadarkan diri sampai kemudian dinyatakan telah berpulang. Pengendara sepeda tersebut adalah Pak Sigit Haryanta, papa Ellen, laki-laki dalam lukisan tadi.  

Saya tentu tak pernah mengenal Beliau  sebagai Kepala Dinas Perhubungan. Saya lebih mengenalnya sebagai ayah dari salah satu sahabat saya saat SMP. Kalau saya ditanya, apa kenangan yang paling diingat dari Almarhum? Jawaban saya ya lukisan tadi.

Itu kali pertama saya bertemu Pak Sigit. Memang benar, lewat lukisan. Saya lebih dulu mengenal sosoknya lewat cerita-cerita Ellen di kelas sebelum punya kesempatan bersua. Dulu Ellen sering sekali bercerita tentang ayahnya pada saya dan 2 anggota geng kami yang lain. Saya masih ingat beberapa.
“Yan, aku sama Papaku tadi malam ngobatin kucing yang perutnya sobek.” Ellen dan adiknya menemukan seekor kucing yang perutnya mulai membusuk di depan rumahnya. Dibantu ayahnya, mereka memberikan obat bubuk di bagian perut si kucing. Saya tidak ingat apakah kucing tersebut akhirnya sembuh.
Atau, “Yan, buku yang kupinjam di perpus diompolin Elsa dan Papaku moso malah ketawa.” Elsa adalah adik kedua Ellen yang saat itu masih balita. Tidak sengaja ia pipis di buku yang Ellen pinjam dari perpustakaan. Saat melihat dan mengetahui alasan Ellen menyetrika buku tersebut, ayahnya terbahak. Kalau tidak salah saat itu Elsa ngompol di buku berjudul “Belenggu” karya Armijn Pane.

Lewat cerita-cerita itulah saya merasa mengenal Beliau jauh sebelum bertemu langsung. Saat saya pada akhirnya punya kesempatan untuk bertemu, seingat saya tidak ada rasa canggung yang saya rasakan. Percakapan dengan Beliau, walaupun selalu sebentar dan jarang terjadi, adalah salah satu hal yang paling saya tunggu saat berkunjung ke rumah Ellen. Pertanyaan yang sering sekali Beliau ajukan adalah, “Sudah makan belum, Yan?”. Seringnya kami ngobrol soal aktivitas saya dan kabar tetangga-tetangga saya yang kebetulan Beliau kenal. Sederhana memang. Namun, bagi saya yang sudah ditinggal ayah sejak usia 7 tahun, punya kesempatan untuk sekedar bercakap dengan orang-orang yang usianya kira-kira sama dengan ayah saya kalau ia masih hidup, merupakan kebahagiaan kecil yang selalu saya cari. 

Ellen mungkin tidak tahu bahwa cerita-cerita tentang Papanya yang sering ia sampaikan turut membangun sedikit demi sedikit kenangan saya tentang Pak Sigit. Dalam kenangan saya, ia seolah adalah ayah saya sendiri.

Selepas SMP, saya jarang berkomunikasi dengan Ellen karena SMA Ellen berlokasi di Jogja sedangkan saya di Wates. Kami juga kuliah di universitas yang berbeda. Namun, saat kuliah, pada beberapa kesempatan saya menginap di rumah Ellen di Jogja dan di saat itulah saya punya kesempatan untuk bertemu kembali dengan papanya. Saya terkejut saat Beliau masih ingat saya. Pertanyaan “Sudah makan belum, Yan?” masih Beliau lontarkan. Saat saya kuliah, pertanyaan tersebut ditambah, “Masih nglajo kamu?”. 

Saya selalu memperhatikan sikap Beliau pada keluarganya. Beliau adalah ayah yang humoris, ramah, dan perhatian. Pada beberapa kesempatan saat saya masih SMP, Beliau tidak ragu membantu serta menemani Ellen dan saya membuat prakarya. Pernah juga saat itu kami se-geng nonton pasar malam di alun-alun Wates sampai menjelang tengah malam. Saat kami sampai di rumah Leny, salah satu anggota geng, kami dapat kabar kalau Pak Sigit sudah menjemput Ellen beberapa kali. Padahal Ellen tidak minta dijemput. 

Saat saya kebetulan menginap di rumah Ellen di Jogja ketika masa kuliah, saya selalu menemukan Pak Sigit datang menjenguk Ellen dan adiknya, Andre, sebelum pulang ke rumahnya di Wates. Padahal Beliau  sering pulang malam dari kantornya. Butuh lebih dari sekedar cinta untuk bisa bersikap seperti itu. Beliau adalah ayah berkarakter kuat yang sosoknya diimpikan oleh semua anak di dunia ini. Saya tahu Ellen, Andre, dan Elsa pasti sangat kehilangan. Mereka patut berbangga memiliki ayah seperti Pak Sigit.

Tulisan ini saya persembahkan untuk Beliau yang kini sudah beristirahat dengan tenang. Beliau merupakan orang baik yang hidupnya secara tidak langsung mempengaruhi orang-orang yang bahkan tidak dekat dengannya, seperti saya. Itu mungkin sebabnya mengapa hal yang pertama kali saya ingat tentang Beliau adalah lukisannya, media yang pertama kali memperkenalkan saya dengan Beliau. Ingatan paling kuat saya tentang Beliau tidak dibangun lewat pertemuan langsung namun lewat kesaksian dari mereka yang mencintai Beliau. 

Selamat jalan, Pak Sigit…


Sumber gambar: http://m.metrotvnews.com/jateng/peristiwa/5b2M34vN-10-go-car-terjaring-razia-di-yogya


Sabtu, 31 Desember 2016

KETIKA SAYA HARUS ANTRE SAAT MALAM TAHUN BARU 2017

Bagaimana perayaan Malam Tahun Baru 2017 kalian? I wish I could stay at home and watch TV with my family. Sayangnya, keinginan tersebut tidak bisa dilaksanakan karena saya dan adik laki-laki saya yang biasa saya panggil Plab harus bertemu dokter gigi langganan. Pindah tanggal kontrol sebenarnya memungkinkan namun sulit karena si dokter pasiennya banyak. Walhasil, tepat pukul 08:15 di malam Tahun Baru 2017, kami berangkat dari Wates ke Jalan Parangtritis. Perjalanan dari Wates sampai ke Gamping, jalanan cenderung masih lengang. Namun, mulai dari Gamping, kepadatan lalu lintas sudah mulai terasa. Itulah yang membuat kami memilih untuk lewat ringroad. Biasanya, kami lewat Brigjen Katamso.

Singkat cerita, sampailah saya dan Plab ke tempat praktik pukul 09:10. Sebenarnya dokter gigi langganan kami sudah mulai buka praktik sejak ba’da maghrib, namun kami sudah titip untuk dituliskan namanya di daftar antrean pasien pada penjaga gedung lewat SMS. Kami dapat kabar kalau kami dapat antrean no.7 sehingga kami berangkat menjelang malam.

Saat sampai di lantai dua ruang praktik, saya lihat sudah ada 5 orang pasien yang menunggu. Saya check nama saya dan Plab di papan antrean, benar no.7. Setelah itu saya mencari tempat duduk dan mulai menanyakan pada 2 ibu-ibu di depan saya antrean sudah sampai no ke berapa. Mereka tidak menjawab pertanyaan saya dan hanya balas memandang. Saya berpikir keras mengapa mereka tidak menjawab pertanyaan saya. Saya khawatir cara bertanya saya pada mereka dianggap kurang sopan. Oleh karena itu, ketika pasien yang ada di ruang praktik keluar dan seorang bapak bersiap masuk, saya kembali bertanya pada Bapak itu dengan cara yang menurut saya sopan, “Maaf, Pak, sekarang sudah antrean nomor berapa ya?” Mau tahu jawaban si Bapak?

Bapak itu hanya memperhatikan saya dan melenggang masuk ruang praktik sambil senyum-senyum. Ajegile!

Bangsa Jepang saat mau naik kendaraan pun antre

Saya mulai sadar bahwa orang-orang ini tidak masuk sesuai dengan daftar antrean yang sudah terpampang. Plab juga mengendus hal yang sama sehingga ia refleks berdiri dari tempat duduknya dan berdiri tepat di depan pintu. Saat si Bapak keluar, Plab langsung masuk ke ruang praktik dan balik kanan untuk menghadapi orang yang memaksa masuk tidak sesuai antrean.

Benar saja, salah satu dari ibu-ibu yang tidak merespon pertanyaan saya sebelumnya memaksa masuk. Plab memblokir pintu sambil dengan tenang bertanya, “Ibu nomor berapa?”

Si Ibu berkata, “Saya sudah antre dari tadi.”

Adik saya kesal dan bertanya kembali, “Ibu di papan antrean nomor berapa?”
Dengan pandangan tidak fokus lagi memandang yang mengajak bicara, ia menjawab, “Nomor sepuluh.”

“Saya nomor tujuh. Berarti saya dulu yang masuk,” kata Plab.

Si Ibu hanya mematung sambil kemudian mencari orang lain untuk melampiaskan kekesalannya. Sialnya, saya, yang dari saat dicuekin pertanyaannya oleh si bapak sudah pasang tampang jutek, akhirnya kena juga. Si Ibu memperhatikan saya dengan tatapan benci. Akhirnya saya bilang, “Kami nomor tujuh jadi kami lebih dulu,” sambil melemparkan tatapan membunuh a la Ronda Rousey. Si Ibu akhirnya duduk kembali.

Setelah sukses memperjuangkan hak kami, kami komplain soal tingkah orang-orang tak beradab tadi pada Bu Dokter dan ternyata Beliau tidak tahu sama sekali soal kekacauan antrean di luar ruang praktiknya. Begitu pun dengan Pak Dino, penjaga bangunan yang biasanya dititipi para pasien untuk menuliskan nama mereka di nomor antrean. Duuuhhhh. Dari beberapa kali kunjungan kami ke situ, baru kali ini saya menemukan sistem antrean macam kasus Jessica-Mirna. Ruwet.

Para pasien yang kacau ini punya sistem antre a la mereka sendiri: mereka datang, nulis nama di papan antre, namun masuknya sesuai dengan yang ada lebih lama di tempat itu. Lha apa kabar yang sudah datang awal, nulis nomor antrean 5, lalu pulang terlebih dahulu untuk menunggu giliran? Masa yang menulis nomor 10 lebih didahulukan dari orang yang nomor 5 ini.

Sepulang kontrol, saya dan Plab masih membicarakan kasus tadi dan betapa rendahnya kesadaran orang Indonesia tentang antre. Sepertinya antre merupakan hal sepele, tapi tunggu sampai kalian merasakan antreannya diserobot. Rasanya aura membunuh dalam diri kita yang bahkan keberadaannya pun mungkin tak pernah disadari tiba-tiba muncul.

Antre adalah salah satu cara bagaimana teori tentang sistem yang adil itu diimplementasikan dalam kehidupan. Ketika kalian mengantre, kalian sedang melaksanakan sekaligus memperjuangkan hak kalian untuk mendapat perlakuan yang adil. Jangan biarkan seorang pun di dunia ini merebut hak tersebut. Kalau kalian diam dalam soal yang katanya dianggap remeh ini, kalian tidak akan punya kekuatan untuk memperjuangkan hak-hak yang lebih besar. Begitu juga halnya ketika melihat orang lain diserobot antreannya. Jangan hanya diam. Bukan kali ini saja saya dan Plab mendapat pengalaman serobot menyerobot antrean. Sepanjang yang bisa saya ingat, kami tidak pernah diam.

Pulangnya, kami lewat sekitaran Via Via yang jalannya dipenuhi orang-orang dan kendaraan yang rebutan bergerak. Di saat motor-motor, sepeda, dan becak mengantre untuk melewati sisi jalan sebelah kiri yang masih lengang, ada seseorang yang melepaskan kembang api yang bisa meletus di tengah antrean tersebut. Saya dan Plab yang termasuk dalam antrean tersebut hanya bisa misuh. Sayangnya, kami gagal menemukan pelakunya. Kalau kami tahu dan yakin dengan pelakunya, saya tidak akan ragu untuk misuhi dan menampar wajahnya. Kembang api petasan itu berbahaya. Pagi ini saya melihat berita kalau ada 6 orang masuk RS gara-gara tidak sengaja terkena kembang api jenis ini. Somplak bener pelakunya! Untung kami masih selamat.

Setelah itu, kami pergi ke Mister Burger di Jalan Sudirman untuk membeli Hot Sausage Cheese yang menjadi favorit Plab. Jalanan Jogja di Malam Tahun Baru 2017 serupa antrean sembako. Apalagi lalu lintas di Jalan Sudirman yang mayoritas mengarah ke Tugu. Macet total. Saat sampai di Mister Burger pun, saya harus mengantre cukup lama.

Tepat di depan giliran saya, ada 6 orang mbak-mbak dan mas-mas yang usianya mungkin di awal 30an sedang memilih-milih menu. Memilih menu merupakan kegiatan yang biasa kita lakukan sebelum memesan. Yang tidak biasa itu kalau tiap orang dari 6 orang itu membutuhkan kurang lebih 3 menit (iya, saya sampai menghitung pakai detikan di jam tangan!)untuk memutuskan pilihan. 3x6=18 menit! Padahal antrean di belakang mereka sudah mengular. Sebelum sampai di gilirannya, orang-orang ini sebenarnya bisa lho memperhatikan menu yang terpampang besar-besar (plus harganya) di dinding Mister Burger sehingga sudah tahu apa yang mereka mau pesan.

Orang-orang yang mengantre di belakang saya sudah teriak semacam, “Keburu 2017, nih!” atau “Lama banget sih!”. Saya sih memilih memasang muka Ronda Rousey lagi. Sayangnya, enam orang ini benar-benar muka badak. Mereka sudah tahu kalau diteriaki dan banyak orang jengah dengan lamanya waktu yang mereka habiskan untuk memesan. Anehnya, orang-orang ini masih saja cuek. Saat 18 menit kemudian mereka selesai memesan dan membayar, antrean sudah tambah mengular. Entahlah. Saya bingung juga dengan keberadaan orang-orang yang tidak peka saat mengantre macam mereka ini.

Setelah mendapatkan pesanan, saya dan Plab bersiap pulang. Saat orang-orang antre menuju arah Tugu, kami perlu bersabar menerobos arus tersebut untuk bisa ke arah Gramedia. Untungnya ada mas-mas bermobil merah yang rela memundurkan mobilnya untuk kami sehingga kami berhasil menyeberang ke sisi utara Jalan Sudirman dan pulang lewat ringroad.  Akhirnya, ada juga hal yang bisa membuat lega di akhir Malam Tahun Baru 2017. Semoga Malam Tahun Baruan kalian tidak semenjengkelkan saya. 

Sumber gambar: http://touristinparadise.blogspot.co.id/2005/06/yokoso-japan-day-05.html

Selasa, 27 Desember 2016

SEBUAH PENDAPAT UNTUK SING STREET

Apakah kalian suka film musikal? Apa film musikal favorit kalian? The Sound of Music? West Side Story? Mamma Mia!? Mulai sekarang, nampaknya kalian harus mempertimbangkan penambahan satu judul lagi dalam daftar film musikal yang harus ditonton sebelum mati. Siapa tahu film ini bisa jadi favorit kalian. Judulnya Sing Street. Sebagai penggemar film musikal, radar saya tidak mampu membaca keberadaan film ini sampai pertengahan Desember 2016. Itu pun karena saya tidak sengaja membaca daftar nominasi Golden Globe 2017. Padahal film ini sudah diedarkan sejak Maret 2016. Duuhh, ke mana saja saya? Mungkin karena Sing Street merupakan film indie sehingga pemasaran dan reviewnya tidak seheboh film-film Hollywood.

Sing Street merupakan film ke-sekian John Carney, sutradara Once dan Begin Again yang juga merupakan film musikal. Once sudah lama menjadi favorit saya sedangkan Begin Again menurut saya terlalu Hollywood, apalagi dengan adanya Keira Knightley, Mark Ruffalo, dan Adam Levine sebagai pemainnya. Saya lebih suka saat Carney menggunakan aktor dan aktris yang belum terkenal seperti yang dilakukannya dalam Once (nama Glen Hansard tentu saja diketahui banyak orang tetapi dia bukan aktor dan juga bukan super star seperti Levine) dan Sing Street. Alasannya, mereka membuat penonton seperti saya yang merupakan orang biasa lebih memaknai kisah mereka yang umumnya juga digambarkan Carney sebagai orang biasa.  

Anyway, film ini bersetting tempat di Irlandia pertengahan tahun 80an ketika negara tersebut sedang dilanda resesi parah yang menyebabkan banyak generasi mudanya berimigrasi ke Inggris untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Selain berdampak pada anak muda, resesi ini juga memaksa sebuah keluarga di Dublin mengeluarkan anak bungsu mereka yang bernama Conor dari sebuah sekolah Jesuit prestisius dan memindahkannya ke sekolah Katolik bernama Synge Street yang biayanya lebih rendah. Sekolah tersebut adalah sekolah khusus anak laki-laki yang isinya mayoritas susah diatur dan tukang bully.

Untuk mengalihkan perhatian dari suasana sekolah baru yang dibencinya sekaligus untuk menarik perhatian seorang cewek yang ditaksirnya, Conor memutuskan untuk membuat sebuah band bersama teman-teman barunya yang juga sekolah di Synge Street: Darren yang jadi manajer mereka, Eamon si maniak kelinci, Ngig yang menjadi satu-satunya anak berkulit hitam di sekolah mereka (dan mungkin di seluruh Dublin kata Darren), Larry yang bertugas menggebuk drum, serta Garry si pembetot bas. Sepakat menamai band mereka Sing Street, mereka latihan selama 2 kali seminggu dan membuat video untuk tiap lagu yang mereka ciptakan. Tentu saja semua video tersebut dibintangi oleh cewek bernama Raphina yang ditaksir Conor.

Film ini keren banget karena menggambarkan proses bermusik anak-anak remaja yang dipengaruhi oleh banyak musisi di tahun 80an seperti Duran Duran, Spandau Ballet, dan The Cure. Ada beberapa lagu dari musisi-musisi tersebut yang dijadikan original soundtrack film ini. Favorit saya adalah “Stay Clean”nya Motorhead dan “Maneater”nya Daryl Hall and John Oates. Karena ini film musikal, tentu saja ada beberapa lagu yang dibuat khusus untuk film ini dan dimainkan oleh Sing Street. Yang paling saya suka berjudul “Up” dan sampai sekarang saya nggak bisa berhenti memasangnya di playlist.

Sebenarnya merupakan sebuah kesalahan ketika saya melabeli film ini dengan hanya genre musikal karena walaupun musik merupakan aspek yang tidak terpisahkan dalam film ini, ada juga unsur drama dan komedi. Unsur komedi paling banyak ditemukan di awal film, terutama saat proses pencarian personil band dan pembuatan video (kalian harus memperhatikan bagian akhir dari video mereka yang berjudul “The Riddle of the Model”) sedangkan unsur drama dominannya terdapat di bagian tengah dan akhir film. Jika unsur komedi disebabkan oleh tingkah beberapa karakter, unsur drama dalam film ini lebih fokus pada kehidupan Conor. Selain perlakuan keras yang harus diterimanya dari Brother Baxter, gurunya, di usia remaja Conor juga harus menghadapi perpisahan ayah dan ibunya serta cintanya pada Raphina yang awalnya bertepuk sebelah tangan.

Semua pengalaman tersebut ia tuangkan dalam lirik lagu bandnya sebagai upaya untuk keluar dari kesedihan dan tekanan yang diterimanya di sekolah dan di rumah, seperti “Brown Shoes” yang berisi lirik yang isinya melawan dominasi Brother Baxter padanya serta “Drive It Like You Stole It” yang menggambarkan pertengkaran antara ayah ibunya yang intensitasnya semakin sering ia dengar serta bayangan idealnya tentang di mana ia dan bandnya seharusnya memainkan lagu tersebut: dalam sebuah pesta prom yang dihadiri oleh orang-orang yang dicintainya.

Pada akhirnya, Conor memutuskan untuk membawa hidupnya ke arah yang ia mau dengan berimigrasi ke Inggris bersama Raphina menggunakan speedboat. Keputusan ini tentu sarat dengan resiko, mereka bisa saja mati dalam perjalanan. Belum lagi kegagalan yang mungkin mereka hadapi di Inggris nanti karena hanya bermodalkan nekat. Namun, jiwa muda mereka yang berisi semangat dan keberanian mampu mengalahkan bayang-bayang negatif yang mungkin akan mereka temui. Dalam taraf tertentu, keputusan Conor dan Raphina bisa memberikan efek positif pada penonton film ini sehingga saat kelar menonton Sing Street, kalian kemungkinan besar akan 40% semakin percaya pada keputusan yang akan kalian ambil. Setidaknya, itu yang saya rasakan pasca menonton film ini. Selain itu, saya juga jadi kecanduan dengan musik dekade 80an. Selamat menonton!



 Sumber gambar: https://www.pinterest.com/sydneyrosebud/sing-street/

Kamis, 01 Desember 2016

THE ALPHA GIRL'S GUIDE

Pertengahan bulan September yang lalu saya membaca sebuah buku non-fiksi yang sangat bagus. Buku tersebut berisi aspek-aspek apa saja yang harus dipertimbangkan matang-matang apabila seorang wanita ingin menjadi alpha girl. Apa itu alpha girl? Alpha girl adalah tahapan awal dari perempuan yang saat dewasa nanti tumbuh menjadi alpha female? Apa lagi itu alpha female? Intinya, mereka adalah perempuan yang memiliki karakter yang menonjol sehingga disegani oleh lingkungannya. Mereka biasanya dijadikan pemimpin dan panutan dari kelompoknya.

Menjadi alpha female butuh proses yang panjang, tidak bisa dadakan. Setiap alpha female pasti pernah menjadi remaja atau anak muda. Dan seorang alpha female pastilah seorang alpha girl saat ia muda. Proses menjadi alpha girl ini tidak mudah walaupun tidak berarti kamu tidak bisa menikmati masa muda. Karakter dan sikap memang tidak bisa dibentuk dengan tiba-tiba. Semuanya perlu usaha, pembiasaan, dan … latihan! Buku ini memaparkan aspek-aspek apa saja dalam hidup yang patut mendapat perhatian dari calon alpha female sejak mereka muda. Prosesnya tidak sepenuhnya serius. Ada banyak sisi menyenangkan dari usaha menjadi seorang alpha girl. Ini yang membuat buku ini sangat menarik. Isinya serius tapi disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan jauh dari kesan menasehati dan mengatur.


Lalu, aspek apa saja yang harus diperhatikan oleh mereka yang ingin tumbuh menjadi alpha girl? Menurut Henry Manampiring, penulis buku ini, ada 6 aspek: pendidikan, pertemanan, percintaan, pekerjaan, penampilan, dan karakter sebagai penjaga. Untuk saya yang bahkan sudah melampaui masa berproses menjadi alpha girl (27 masih girl nggak sih), buku ini masih sangat menginspirasi, terutama bagian penampilan. Saya tidak tahu apakah saya ini alpha female atau bukan karena menurut Oom Piring, status alpha ini bukan kita yang menyematkan pada diri kita sendiri namun berdasarkan pengakuan orang-orang di sekitar kita. Namun, terlepas dari kenyataan iya atau tidaknya saya seorang alpha female, saya selalu ingin melakukan segalanya dengan maksimal, baik untuk diri saya maupun kelompok saya. Dan aspek yang selama ini sering saya lewatkan atau sepelekan adalah penampilan.

Cenderung tomboy dengan make up sangat minimalis (krim siang, bedak Marcks’, dan lipgloss) serta memiliki selera fashion sederhana, tampilan saya memang jauh dari teman-teman sejawat yang hapal produk-produk make up terbaru dan rajin menyisihkan tabungan untuk mengikuti trend fashion. Ternyata hal seperti ini harus diperhatikan kalau kalian ingin unggul di dalam kelompok. Namun, poin yang paling penting dalam penampilan ternyata bukan itu. Kesehatan ternyata menempati posisi utama dan saya baru menyadarinya. Karena buku ini pula saya jadi semakin semangat olahraga. Sebelumnya saya rutin jogging seminggu minimal 2x dan setiap hari mengayuh sepeda. Sekarang, tiap bangun pagi saya tidak alpa dengan 10 menit latihan untuk membuat perut sixpack. Terbukti bahwa buku ini membawa perubahan baik dalam kehidupan saya.

Selain 6 aspek tadi, ada juga bab tentang penjelasan istilah alpha female dan alpha girl di bagian awal, wawancara dengan 2 alpha female, dan kata-kata penutup dari penulisnya yang inspiratif dalam bab “Your Alpha Future”.

Saya tidak akan bilang bahwa buku ini adalah buku motivasi. Saya tidak suka kata “motivasi” karena sejak SMA saya merasa ilfeel dengan acara berkedok motivasi baik di kampus maupun di televisi serta motivator yang menurut saya selalu gagal total menyadarkan saya (baca: membawa saya ke jalan yang menurut mereka benar). Oleh karena itu, saya sangat merekomendasikan buku ini yang telah memberikan perubahan baik ke hidup saya, terutama pada aspek kesehatan, tanpa diksi yang penuh dengan busa-busa bernada ajakan.

Saya sangat tertarik di bab penampilan. Mungkin kalian akan merasa terbantu di aspek lain, seperti percintaan atau pekerjaan. Silakan dibuktikan. Buku ini terdiri dari 253 halaman dengan tulisan yang besar-besar dan dihiasi dengan kartun-kartun lucu di dalamnya. Saya kemarin biasa membacanya sebelum tidur dan sudah khatam dalam dua malam. Jadi, jangan terlalu serius saat membacanya. Dinikmati saja. Menurut saya, itu cara terbaik menikmati buku ini.

Oh iya. Sebelum membaca buku ini, saya sudah mengikuti akun Twitter dari penulisnya sejak tahun 2009, tahun pertama saya twitteran. Twit-twitnya inspiratif tapi disampaikan in a fun way. Jadi untuk mereka yang juga penasaran dengan penulisnya yang baru saja jadi ayah ini (selamat Oom Piring!), kalian bisa mengunjunginya di @manampiring . Selamat membaca! 

Sumber gambar: http://happyfitdiary.com/667/being-alpha-girls/

Senin, 21 November 2016

TIBALAH SAATNYA GEORGE CLOONEY DIDEPAK COLIN FIRTH

Dunia masih sibuk nggak sih membahas betapa stylish dan menawannya George Clooney? Atau jangan-jangan sudah ada kandidat lain? Bagi saya yang pernah mengagumi si Mr.Ocean, nampaknya saya harus bilang bahwa posisinya sebagai pria paling seksi di atas usia 50 harus rela diberikan pada Colin Firth. Sudah saatnya tapuk kepemimpinan diestafetkan. Dan menurut saya, Colin Firth adalah kandidat yang tepat.
Usia di atas kepala 5? Iya? Seksi? Iya. Stylish? Iya. Punya istri cantik dan juga fashionable seperti Amal Alamuddin? Iya. Aktor terkenal dan berbakat? Iya. Bahkan untuk kategori yang terakhir ini, Colin Firth menang telak karena dia pernah memenangkan piala Oscar untuk kategori aktor terbaik lewat film “The King’s Speech” sedangkan Clooney, walaupun sudah masuk nominasi beberapa kali, sayangnya belum mampu merebut penghargaan tersebut.
Sejak kapan tepatnya Colin Firth bisa dinobatkan sebagai salah satu anggota geng pria seksi di atas kepala lima? Jawaban pertanyaan tersebut jelas tidak hanya satu. Untuk saya, keseksiannya nampak menjadi sangat jelas saat menjadi agen rahasia Kingsman dengan nama sandi Galahad. Hati saya luluh lantak karena keseksiannya saat ia mengunci pintu di sebuah bar sambil bilang “Manners maketh man”. Imej Firth yang selama ini tergambar di kepala saya sebagai pria bersahaja yang kehidupannya lurus-lurus saja berubah drastis lewat Kingsman. Dia menjadi tangguh, macho, dan cerdik. Jangan lupakan juga efek formal attire yang tidak pernah alpa dipakai Firth di film tersebut. Hilanglah sudah Mark Darcy di Bridget Jones trilogi atau George VI di “The King’s Speech”. Mulai saat itu, hanya ada Colin Firsth bersetelan jas lengkap yang rapi jali dan menawan seperti di Kingsman
Sebelum Kingsman, saya sebenarnya tidak pernah sadar kalau ia bisa sangat seksi. Di dua film awal Bridget Jones, pilihan lebih saya sematkan pada Hugh Grant, rival Firth. Namun coba bandingkan Hugh Grant dan Colin Firth sekarang. Yang terakhir nampak jauh lebih seksi. Mungkin memang ada beberapa pria yang keseksiannya justru timbul saat mereka semakin berumur.
Saya sudah mencoba untuk mendata alasan-alasan apa saja yang mungkin membuat Colin Firth nampak semakin seksi di usia kepala limanya. Dan saya menemukan empat alasan utama yang sifatnya sangat subjektif jadi kalian dilarang protes.

1. Efek Setelan Formal 
Sekarang ya, siapa sih wanita yang nggak gremet-gremet kalau ada pria pakai setelan formal dengan ukuran yang pas di tubuh? Nggak harus berotot mrengkel-mrengkel kok untuk bisa terlihat menarik dalam balutan setelan formal. Colin Firth memang tidak punya tubuh kekar mirip The Rock, namun, di manapun ia tampil, ia jarang lepas dari setelan formal dengan potongan yang sempurna (bahkan berkelahi aja pakai setelan necis lho di Kingsman). Di Bridget Jones’s Baby, Firth tidak pernah kelihatan lepas dari setelannya kecuali saat sex scene bersama Bridget. Hal itu semakin menegaskan Colin Firth + setelan formal = seksi. Nggak bisa diganti pakai baju yang lain. Ingatlah kalimat yang saya tulis di awal bagian ini kalau cowok dalam balutan setelan formal selalu bisa memikat wanita.

2. Aksen British 
Well, memangnya George Clooney seksi karena beraksen British? Ya jelas tidak. George Clooney kan dari Amerika Serikat. Itulah mengapa Colin Firth jauh lebih seksi dari George Clooney. Sudah bukan rahasia lagi kalau banyak pria Inggris yang rupawan dengan aksennya yang kental sukses membuat sebagian besar wanita di dunia ini klepek-klepek. Mulai dari Gary Oldman, Jeremy Irons, Daniel Day-Lewis, sampai generasi Benedict Cumberbatch harus bertanggung jawab pada semakin banyaknya jumlah wanita yang tak bisa tidur nyenyak pasca nonton film-film mereka. Aksen British bagi wanita macam saya ini adalah lambang dari komunikasi yang elegan dan penuh dengan tata krama. Kalau kualitas tersebut dimiliki oleh pria, wanita mana yang tidak akan tertarik?  

3. Macho
Kualitas ketiga ini mau tidak mau harus ditunjukkan dengan ketrampilan berkelahi. Otot saja tidak akan berpengaruh. Lebih baik tubuh berproporsi biasa saja namun jago berkelahi daripada berotot tapi kalah melulu dalam perkelahian. Di Kingsman, karakter Galahad, terutama saat adegan di dalam gereja di mana ia harus membunuh semua orang yang berada di dalamnya, terlihat sangat macho.

4. Family Man 
Saya sering sekali menilai kualitas seorang aktor dari keharmonisan keluarganya. Aktor yang saya idolakan biasanya adalah seorang family man: sayang keluarga, tidak pernah selingkuh, dan mantannya tidak tersebar di seluruh penjuru bumi. Itu sebabnya saya tidak akan pernah mengidolakan Jude Law karena ia tidak bisa memenuhi ketiga kriteria tersebut. Firth punya keluarga yang jauh dari gosip dan rumor jelek. Dia hidup harmonis bersama istrinya yang super cantik dan stylish serta 3 anaknya.

Gabungan keempat hal tersebut saya rasa cukup untuk mendepak George Clooney dari posisi teratas kategori aktor di atas 50 tahun paling seksi dan digantikan dengan Colin Firth. Ada yang protes? Coba ajukan kandidat lain dan beri saya alasan.

Sumber: https://lookastic.com/men/celebrities/colin-firth