Minggu, 09 Februari 2014

JAKARTA DI BULAN JANUARI 2014


Liburan semester yang panjang asyiknya diisi dengan kegiatan yang menyenangkan atau bermanfaat. Well, bisa juga kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat sekaligus. Liburan semester saya dimulai per tanggal 14 Januari setelah ujian terakhir dan berakhir di awal Maret. Saya sudah merasa takut kalau liburan ini akan berakhir sia-sia jadi saya merencanakan beberapa kegiatan untuk mengisi kekosongan waktu hampir dua bulan ini. Salah satu yang saya lakukan adalah pergi ke Jakarta dan mencoba keliling Jakarta dengan busway.
Saya beruntung karena punya saudara di sana sehingga tidak perlu untuk mencari penginapan dan bisa menghemat ongkos. Untuk beberapa alasan, saya sering jalan-jalan sendiri dan menikmati pemandangan. Tapi jalan-jalan ke Jakarta sendirian kok rasanya tidak menyenangkan ya? Karena sepanjang jalan saya pasti membutuhkan teman diskusi atau paling tidak teman yang sama-sama tidak tahunya sehingga kalau tersesat ya tersesat bersama lah. Kebetulan adik laki-laki saya, Plab, juga sedang dalam masa liburan semester. Tidak sampai dua hari dari kepulangannya dari liburan dari Bandung bersama teman-teman kampusnya, dia sudah anteng bersama saya dalam kereta api ekonomi Bengawan Tambahan yang berangkat dari stasiun Wates pukul 19.00 malam.
Tiket kereta api ini harganya hanya 95 ribu rupiah. Saya dan Plab sepakat kalau tempat duduknya jauh lebih nyaman daripada kereta ekonomi Gajah Wong seharga 150an ribu. Tempat duduknya berhadap-hadapan dan memang space untuk kaki penumpang yang saling berhadapan lebih sempit daripada Gajah Wong. Namun, kalau naik kereta api, kunci kenyamanan menurut saya ada di kursinya. 10-11 jam duduk di kursi yang keras akan sangat menyiksa pantat dan panggul.
Kami sampai di stasiun Senen pukul 5 lewat 10 menit. Sebenarnya untuk sampai ke Tebet, tempat oom saya tinggal, akan lebih dekat jika turun di stasiun Jatinegara. Tapi saat itu beberapa jalan ke Jatinegara ditutup karena banjir. Oom dan sepupu saya sudah menjemput di parkiran saat kami tiba di sana. Jakarta pukul 6 kurang masih lengang sehingga mobil bisa melaju dengan lancar dan tidak menemui kemacetan sama sekali.
Setelah nonton TV dan melepas kangen dengan keponakan saya Dastan, kami mandi dan bersiap untuk berangkat. Oom kami sangat baik karena begitu tahu saya dan Plab berencana jalan-jalan dengan Trans Jakarta, oom segera mencari rute TJ di internet dan mencetaknya dengan tinta warna. Suksesnya perjalanan kami sangat terbantu dengan adanya rute tersebut.
Sebelum bercerita tentang tempat-tempat wisata yang saya kunjungi, saya ingin mengatakan bahwa kemarin adalah pertama kali saya naik Trans Jakarta atau busway. Trans Jakarta adalah transportasi umum yang sangat keren. Dengan ongkos 3500 rupiah saja, kita bisa keliling Jakarta. Armadanya banyak sehingga tidak perlu menunggu terlalu lama, haltenya nyaman dan didesain dengan sangat mempertimbangkan pejalan kaki, serta ada ruang khusus wanita dalam bus. Trans Jogja masih kalah jauh dan sayangnya pemerintah Jogja terlihat tidak ada inisiatif untuk mengembangkan transportasi umum ini seperti Trans Jakarta. Menunggu Jogja macet parah dulu mungkin ya?
Kamis, 23 Januari 2014. Kami berangkat dari Tebet pukul 10 pagi dan menunggu di depan Seven Eleven Tebet untuk menunggu bus Kopaja no 62 yang melewati halte TJ Manggarai. Sebenarnya kurang dari 10 menit saja, kami sudah bisa sampai ke Manggarai tapi kemacetan di pertigaan Manggarai benar-benar parah (dan tidak pernah tidak parah) sehingga paling tidak kami menghabiskan 20 menit di dalam bus 62. Ongkos bus kota di Jakarta sama dengan di Jogja, hanya 3000 rupiah. Setelah sampai di halte, kami naik TJ arah Kota. Salah satu halte yang kami lewati dalam perjalanan ke arah Kota adalah halte Monas. Di situlah kami turun dan berjalan kaki ke arah Monas.

  1. Monumen Nasional
Bulan Januari bukanlah waktu yang tepat untuk melancong di Jakarta, apalagi dengan jalan kaki. Hujan bisa saja turun sepanjang hari. Waktu terang tidak lebih dari satu jam. Selebihnya diisi hujan deras dan gerimis. Kira-kira itulah kondisi yang ada ketika saya dan Plab berusaha untuk mencapai Monas. Perjalanan dari pintu gerbang ke monumennya bukanlah jarak yang dekat dan setengah perjalanan kami diisi dengan usaha menghindari hujan, baik dengan berteduh di bawah pohon, memakai satu payung untuk berdua, maupun berteduh di pos satpam. Untungnya di tengah perjalanan kami menjumpai kereta yang memang disiapkan oleh pihak Monas untuk mengantar dan mengembalikan pengunjung ke dekat pintu gerbang. Pengunjung tidak perlu membayar untuk naik ke kereta ini.
Untuk masuk Monas pengunjung harus membeli tiket di loket yang terletak di bawah tanah. Harganya 5000 rupiah per orang. Mahasiswa/pelajar mendapat potongan 2000 rupiah apabila menunjukkan kartu pelajar/mahasiswa. Saat itu saya dan Plab berniat menunjukkan KTM kami untuk mendapatkan potongan tapi penjaga loket mengatakan tidak perlu dan langsung memberi kami tiket berharga 3000 rupiah per orang.
Untuk sampai ke ruangan di dalam Monas, pengunjung harus melewati lorong yang cukup panjang, naik tangga untuk keluar dari pintu bawah tanah, dan berjalan sebentar untuk mencapai pintu samping Monas. Kami disambut dengan lagu daerah “Butet” saat keluar dari tangga bawah tanah.
Lantai dasar Monas penuh dengan diorama yang dimulai dari masa manusia purba sampai ke zaman pembangunan di masa Orde Baru. Kalau berjalan searah dengan jarum jam, pengunjung akan mengetahui periode-periode sebelum dan sesudah bangsa Indonesia meredeka. Pada dasarnya, diorama ini memberi tahu sejarah singkat tentang kehidupan bangsa Indonesia sebelum bisa dikatakan sebagai sebuah bangsa. Ada diorama tentang kedatangan bangsa Barat, periode cultuurstelsel, perjuangan merebut kemerdekaan di basis lokal dan nasional, proklamasi kemerdekaan, dan pertarungan di Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan. Tidak semua kejadian dibuat dioramanya, namun diorama-diorama yang terdapat di Monas bisa cukup memberikan gambaran perjalanan bangsa Indonesia sampai menjadi sebuah bangsa yang merdeka. Sayangnya belum ada diorama tentang Reformasi 1998 yang menandai akhir Orde Baru.
Pengunjung bisa naik ke lantai paling atas dan melihat ke bawah dari puncak Monas, tidak jauh dari ujung Monas yang berlapis emas. Sayangnya saat kami ke sana, lift menuju puncak Monas sedang dalam masa renovasi sehingga eksplorasi kami hanya terbatas di ruang diorama. Di lantai yang sama juga terdapat dua kamar mandi dan mushola yang cukup besar. Sayangnya kebersihannya tidak terawat. Genangan air di dekat KM menyebabkan bau yang tidak sedap.
Kami pulang melewati pintu yang sama dan kali ini disambut dengan lagu daerah Papua “Yamko Rambe Yamko”. Setelah melewati tangga dan lorong yang sama, kami naik tangga lagi untuk keluar dari ruang bawah tanah dan mencari kereta yang akan membawa kami ke dekat pintu gerbang.

  1. Museum Nasional
Sebenarnya saya dan Plab tidak memiliki rencana untuk pergi ke Museum Nasional. Kami bahkan tidak tahu bahwa museum ini sangat dekat dengan halte Monas tempat kami turun. Keluar dari Monas, sebenarnya mood saya dan Plab sudah sangat buruk karena harus main kucing-kucingan dengan hujan. Alangkah indahnya jika perjalanan kemarin didukung dengan cuaca yang cerah apalagi trotoar di sekitar Monas luas dan nyaman untuk pejalan kaki. Di tengah mood yang jelek tanpa tahu ke mana lagi harus pergi, saya tidak sengaja melihat ke  arah Museum Nasional yang berada tepat di sebelah kiri trotoar tempat saya berjalan. Pertama kali yang menarik dari tempat ini adalah sebuah patung logam yang berjudul “Ku Yakin Sampai Di Sana” karya perupa Nyoman Nuarta. Patung ini bentuknya absurd. Plab menganggapnya mirip seperti lubang hitam. Saya sendiri lebih condong ke sarang burung yang belum selesai.

Di samping patung black hole yang menghiasi halaman depan museum ini, terdapat patung gajah berwarna hijau yang juga terbuat dari logam. Inilah yang menyebabkan museum ini lebih sering disebut sebagai Museum Gajah. Patung gajah ini adalah hadiah dari raja Thailand saat berkunjung ke Indonesia.  Kalau dipikir-pikir, aneh juga sebenarnya karena satu-satunya hal yang berkaitan dengan gajah yang bisa didapatkan di museum ini adalah fosil gading dan arca Ganesa.
Harga tiket museum ini hanya 5000 rupiah dan bisa membawa kamera tanpa dikenakan biaya. Tas atau bawaan yang berat bisa dititipkan di dekat loket pendaftaran. Saya bisa mengatakan bahwa dari semua tempat wisata yang saya kunjungi di Jakarta selama empat hari, Museum Nasional adalah tempat favorit saya dan salah satu tempat paling keren yang pernah saya kunjungi.
Museum ini terdiri dari empat lantai dan memiliki gedung dengan dua sayap. Basement digunakan untuk toilet dan ruang pertemuan. Lantai satu museum ini dipenuhi dengan beraneka ragam arca yang berasal dari banyak daerah, koleksi kain dan keramik, fosil manusia, binatang, dan tumbuhan purba, serta berbagai benda tradisional dari semua provinsi di Indonesia. Ada ruang khusus yang digunakan untuk menyimpan koleksi keramik dari berbagai negara di Asia, seperti Jepang, China, dan Vietnam. Arca terbesar di lantai I adalah Arca Bhairawa yang berdiri di atas tumpukan tengkorak. Tingginya mungkin sekitar 4 meter dan berasal dai abad ke-14. Arca ini berasal dari Sumatra Barat yang membuatnya berbeda secara ukuran dan bentuk dengan kebanyakan arca di Jawa.
Lantai dua, tiga, dan empat berisi benda-benda tradisional dari berbagai daerah. Perbedaannya dengan lantai pertama, benda-benda di sini sangat khusus dan lebih mahal. Misalnya, ada beberapa perhiasan yang terbuat dari emas dan perak. Beberapa buah perhiasan ini belum lama ini sempat dicuri dan menjadi berita besar karena perhiasan emas yang hilang berusia cukup tua dan memiliki nilai yang tidak sedikit. Selain perhiasan, ada banyak sekali prasasti dan benda-benda kuno, seperti sepeda, jam, dan peti. Beberapa benda yang menarik perhatian saya adalah kjokkendmoddinger  atau tumpukan kerang yang merupakan sisa-sisa dapur manusia purba dan peti besi yang digunakan untuk membawa barang-barang dan berasal dari beberapa abad yang lalu. Kjokkenmoddinger selalu mengingatkan saya dengan guru sejarah kelas 1 SMP saya yang bernama Bu Supartini. Beliau yang mengajarkan tentang kehidupan manusia purba termasuk memperkenalkan istilah kjokkenmoddinger yang selama ini hanya bisa saya bayangkan bentuknya seperti apa.
Sebelum sempat menjelajah semua bagian dari museum ini, jam tutup museum sudah diumumkan sehingga kami mau tidak mau harus mengakhiri perjalanan sore itu. Museum ini buka sampai jam 4 sore. Kami kembali lagi di hari berikutnya setelah waktu shalat Jumat dan kami gunakan untuk mengelilingi museum sepuasnya. Saya dan Plab mengunjungi ruang arca yang benar-benar keren. Ada banyak sekali arca dari berbagai daerah dan periode. Walaupun berbeda daerah, cara orang-orang zaman dahulu menggambarkan beberapa karakter memiliki persamaan. Kesamaan ini bisa dilihat pada patung Ganesa. Selain arca, ada juga koleksi arca-arca yang belum jadi dan ditempatkan di halaman belakang.
Hal lain yang menarik dari museum ini adalah pengunjungnya mayoritas adalah ekspatriat atau pelancong asing. Ada orang Indonesia yang berkunjung ke sini namun jumlahnya jarang. 


                      

  1. Kwitang
Pertama kali tahu Kwitang saat kelas 2 SMP lewat film AADC. Semua orang yang pernah lihat film ini pasti ingat adegan saat Cinta yang memakai T-Shirt warna pink menengok kembali ke arah Rangga saat ia pergi meninggalkan Rangga karena merasa disalahkan. Peristiwa itu berlatar di Kwitang saat keduanya jalan-jalan memilih buku. Kwitang yang saya jumpai tidak seperti itu lagi. Kata Oom saya dan pegawai halte busway Kwitang, penjual buku di situ sudah tak seramai dulu lagi karena beberapa gulung tikar dan pindah tempat jualan. Hanya tinggal beberapa toko dan lapak-lapak kecil yang tersebar di sepanjang jalan dan gang-gang masuk. Itu pun jumlahnya tak seberapa.
Tentu saja kebanyakan buku-buku di sini adalah buku-buku bajakan berharga miring yang masih bisa ditawar. Tujuan awal saya ke sini adalah mencari buku-buku dan koran-koran dari puluhan tahun lalu tapi melihat kondisi dan koleksi toko-toko dan lapak-lapak di sana, kemungkinan besar tidak mungkin menemukannya. Mayoritas buku yang dijual adalah buku-buku baru. Buku paling lama yang bisa ditemukan mungkin berasal dari tahun 70an dan 80an. Akhirnya saya membeli dua buku, Salah Asuhan karya Abdoel Moeis dan Bukan Pasar Malam yang ditulis Pram. Dua-duanya pernah saya baca, bahkan buku kedua sampai tiga kali, tapi saya belum memilikinya sebagai koleksi pribadi. Dua buku tersebut saya beli dengan harga 55.000 rupiah. Maklum bajakan. Dan sebenarnya masih bisa ditawar lebih jauh lagi tapi saya bukan orang yang pintar menawar dan tidak betah berlama-lama melakukan proses tersebut.

  1. Stasiun Senen
Saya dan Plab ke stasiun Senen bukan dalam rangka mengagumi arsitektur bangunannya atau sekedar jalan-jalan. Kami ke sana untuk membeli tiket pulang. Kami memutuskan untuk naik kereta Progo seharga 85.000 untuk membawa kami pulang ke Wates pada hari Minggu. Usaha membeli tiket tersebut benar-benar gila. Kami antri selama 2 jam. Belum pernah sebelumnya saya antri selama itu hanya untuk dua biji tiket kereta. Antrian orang yang membeli atau menukar tiket bisa mengular sampai ke luar. Mungkin hal ini disebabkan karena hari Raya Imlek jatuh pada hari Jumat sehingga  banyak orang yang pulang kampung. Sebenarnya jumlah loketnya ada 10 lebih. Masalahnya ada pada sistem pelayanan yang menurut saya masih sangat payah. Seorang petugas loket melayani pembeli tiket bisa sampai 15 menit lebih. Apalagi kalau itu adalah loket penukaran tiket. Seorang mas-mas yang berdiri di antrian sebelah saya harus menunggu lebih dari dua jam. Ia berdiri di antrian  dari sebelum saya datang dan masih berdiri di tengah antrian saat saya telah mendapatkan tiket dan bersiap pulang. Benar-benar gila! Saya tidak mau membayangkan apa yang terjadi di sana menjelang Lebaran. Saran saya, kalau sudah tahu kapan mau pulang dari liburan di Jakarta, lebih baik tiketnya dibeli bersamaan dengan saat membeli tiket berangkat.
Stasiun Senen tidak sebesar Gambir. Kereta-kereta ekonomi biasanya berangkat dari sini. Jadi kalau kami pulang ke Wates naik kereta ekonomi, kami tidak bisa naik dari Jatinegara walaupun stasiun tersebut lebih dekat dengan Tebet. Sedangkan kereta eksekutif dan bisnis berangkat dari Gambir. Di stasiun Senen, ada beberapa calo yang terang-terangan menawarkan tiket dan tidak ditindak oleh aparat padahal jumlah petugas keamanan di sini bisa dibilang tidak sedikit. Tapi sekali lagi, jumlahnya memang tidak bisa mengimbangi jumlah penumpang dan pembeli tiket yang sangat besar. Daerah Senen akan macet kala jam-jam sibuk dan banyak dijumpai penjual makanan kaki lima dan berbagai barang lainnya. Stasiun ini dekat dengan Pasar Senen. Saya buta arah saat di Jakarta, tapi pada dasarnya dua tempat ini bersebelahan.
Di sekitar tempat ini tidak ada Trans Jakarta sehingga dengan saran seorang bapak tukang ojek yang baik, kami memutuskan naik Kopaja nomor 17 dan berhenti di Manggarai. Kami memutuskan berjalan sampai ke Tebet namun di tengah jalan bertemu dengan Kopaja nomor 62. Setelah berdiskusi dengan Plab, kami memutuskan untuk naik Kopaja tersebut untuk mencapai Tebet mengingat walaupun masih kuat, kaki memang terasa agak pegal karena berjalan seharian.
Jumat, 24 Januari 2014, hampir semua museum tutup mulai jam 11 dan buka kembali pukul 1 siang. Sayangnya saya dan Plab tidak bisa berangkat kurang dari pukul 10 karena kami tidak bisa begitu saja melewatkan waktu untuk bermain bersama keponakan kami yang super lucu. Oom dan keponakan kami yang masih dua tahun mengantarkan kami ke halte Tebet. Kali ini kami diminta mencoba jalur Trans Jakarta yang baru oleh Oom sehingga paling tidak bisa tahu jalan-jalan penting di Jakarta. Kami mulai dari halte Tebet dan berhenti di halte Semanggi. Di sini kami harus melewati jalur pejalan kaki khusus bagi penumpang Trans Jakarta yang super panjang dan keren. Kata Tante saya, jalur ini adalah jalur pejalan kaki TJ terpanjang di Jakarta. Dari jalur ini kami bisa melihat jalan raya yang sibuk dan gedung-gedung mewah, termasuk Balai Sarbini. Dari halte Semanggi kami harus menunggu bus arah Kota dan berhenti di halte Monas. Sama seperti jalur yang kemarin kami tempuh.
Kami sampai di halte Monas jam 11 kurang yang bertepatan dengan jam tutup museum sehingga harus menunggu sampai buka. Plab shalat Jumat di mushola Keminfo. Daerah Monas adalah wilayah yang kanan kirinya penuh dengan kantor-kantor pemerintah. Setelah waktu shalat Jumat, tujuan pertama kami adalah Museum Taman Prasasti dan dilanjutkan ke Museum Nasional lagi karena di hari sebelumnya kami belum sempat melihat semua koleksi.

  1. Museum Taman Prasasti
Museum ini bisa dicapai dari halte Monas hanya dengan berjalan kaki. Terletak di daerah Tanah Abang, museum ini dulunya adalah sebuah pemakaman yang dikenal dengan nama Kober. Dahulu pemakaman Kober digunakan untuk menguburkan jasad-jasad orang terkanal, seperti gubernur jenderal Hindia Belanda, seniman, dan arsitek. Setelah dibongkar dan jasad-jasadnya dipindahkan (beberapa diambil oleh pihak keluarga), lokasi ini kemudian dijadikan sebagai museum. Seperti namanya, museum ini memiliki banyak prasasti yang biasanya diukir di nisan seseorang. Jadi secara umum, tempat ini adalah kuburan karena terdiri dari banyak sekali nisan, namun minus jenazah. Beberapa area dibatasi dengan tali rafia yang mengindikasikan pengunjung dilarang berdiri melewati batas tersebut. Mungkin karena kondisi nisan yang sudah sangat tua atau sedang dalam perbaikan.
Dengan hanya membayar tiket 5000 rupiah dan boleh membawa kamera tanpa harus membayar, kami bisa sepuasnya mengelilingi dan mengambil foto nisan-nisan kuno di sana. Ada banyak sekali nisan yang berasal dari zaman kolonial. Bahkan saya menemukan sebuah nisan berbahasa Belanda berangka tahun 1705 di bagian depan museum. Saya tidak tahu apakah itu adalah nisan atau prasasti peringatan, karena memakai bahasa Belanda. Selain nisan, memang di museum ini juga bisa ditemukan prasasti pendirian bangunan. Di tempat ini ada banyak sekali patung malaikat tapi sepertinya patung-patung tersebut dibuat untuk mempercantik tampilan museum.
Prasasti makam gubernur jenderal Hindia Belanda terletak di bagian belakang museum. Beberapa di antaranya disemen di dinding. Selain gubernur jenderal, lokasi ini juga menyimpan koleksi makam para sastrawan, arsitek, seniman, dan rohaniwan. Profesi-profesi ini bisa terbaca di beberapa prasasti. Oleh penjaga museum, saya ditunjukkan makam Miss Riboet, aktris papan atas kolonial di awal abad 20. Suaminya adalah seorang Tionghoa yang bernama Tio Tik Djien. Informasi ini bisa didapatkan di prasastinya. Ada juga nisan Soe Hok Gie. Dulu dia memang dimakamkan di sini. Saat pekuburan ini akan dirombak, keluarga dan teman-temannya memindahkan jenazahnya dan sepakat untuk membakar tulang belulangnya. Abunya ditaburkan di segala penjuru di kawasan lembah Mandalawangi, Gunung Pangrango.
Secara umum, kondisi museum ini bisa dikatakan cukup terawat. Terlihat ada tukang kebun yang rajin membersihkan lingkungan museum. Namun sayangnya ada beberapa prasasti yang hurufnya tidak bisa dibaca lagi karena dimakan usia dan pengaruh cuaca. Saya tidak tahu bagaimana seharusnya memperlakukan nisan-nisan dan batu-batu peringatan yang umurnya sangat tua ini. Tidak mungkin memang untuk membangun atap yang menyelimuti seluruh kompleks museum ini. Semoga keberadaan museum ini tetap diperhatikan oleh pemerintah dan masyarakat dapat turut serta menjaganya.
Suasana museum ini sangat sepi. 30 menit pertama, hanya saya dan Plab yang menjadi pengunjung di museum ini. Baru kemudian datang dua orang pengunjung, laki-laki dan perempuan, yang ternyata melakukan pemotretan dengan nisan-nisan sebagai latarnya. Museum ini memang banyak sekali dijadikan tempat untuk shooting video klip dan pemotretan. Kami keluar dari museum ini pukul 2 siang dan langsung menuju Museum Nasional. Kalau ingin mengunjungi Museum Taman Prasasti, usahakan tidak sampai pukul 3 karena jam tersebut adalah jam tutup museum.
Sabtu, 25 Januari 2014 adalah hari terakhir saya dan Plab bisa jalan-jalan keliling Jakarta dengan Trans Jakarta. Kami berencana untuk mengunjungi beberapa museum di daerah Kota Tua. Kebetulan keluarga Oom saya juga berencana untuk liburan ke sana jadi kami berangkat bersama. Sayangnya kami baru bisa berangkat pada pukul 11 siang dari Tebet karena harus menunggu keluarga yang dari Depok. Lalu lintas Jakarta arah Kota Tua hari Sabtu macet. Mobil kami berhenti cukup lama saat sampai di daerah Glodok. Mendekati Kota Tua, nuansanya agak berbeda karena banyak bangunan-bangunan kuno berarsitektur Eropa yang masih berdiri. Kami parkir di belakang kantor Imigrasi yang sangat dekat dengan museum Fatahillah di Kota Tua. 


   
  1. Museum Fatahillah
Nama resmi Museum Fatahillah adalah Museum Sejarah Jakarta karena berisi banyak barang-barang sejarah dari Eropa, Cina, dan kerajaan-kerajaan di Indonesia yang memiliki andil dalam mendefinisikan Jakarta. Jakarta beberapa abad yang lalu adalah sebuah kota Bandar besar dengan populasi multietnis. Sebenarnya kalau mau jujur, inilah tujuan wisata yang paling saya idam-idamkan untuk dikunjungi saat berada di Jakarta. Sayangnya saat saya sampai di sana, museum sedang mengalami renovasi sehingga tidak terbuka untuk umum. Konon salah satu isi museum ini adalah barang-barang peninggalan para gubernur jenderal, termasuk lukisan-lukisan potret mereka. Renovasi museum ini diprediksi selesai pada tahun 2015. Kecewa? Pasti. Renovasi ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah DKI untuk melakukan pembenahan di wilayah Kota Tua. Paling tidak hal ini membuat saya belajar bahwa sebelum liburan, kita harus tahu kondisi terkini dari objek wisata yang ingin dikunjungi.
Hal pertama yang menarik bagi saya saat masuk ke kompleks museum adalah keberadaan peluru-peluru meriam yang jumlahnya puluhan dan tersebar di beberapa tempat. Peluru-peluru ini berukuran besar, sudah berkarat dan bisa dipastikan berasal dari zaman VOC. Ada juga meriam-meriam yang keadaannya tidak jauh berbeda dengan peluru-pelurunya. Walaupun tidak bisa masuk ke museumnya, saya cukup puas memandangi megahnya gedung ini dan luasnya lapangan yang ada di depannya. Merinding rasanya membayangkan salah satu bagian dari kompleks ini pernah dijadikan sebagai penjara di zaman kolonial yang kondisinya tidak manusiawi. Ada kira-kira lima menit saya berdiri di tengah-tengah lapangan dan mengarahkan pandangan saya secara menyeluruh mulai dari sayap kiri bangunan, pintu masuk yang sangat kokoh, atap yang unik, dan sayap kanan bangunan. Di tengah-tengah lapangan tempat saya berdiri terdapat sebuah sumber air yang telah dibangun menjadi kolam. Ada sebuah penanda yang menyatakan bahwa sumber air tersebut merupakan sumber air minum bagi masyarakat sekitar di zaman kolonial.
Lapangan kompleks Museum Fatahillah dikelilingi dengan para penyedia jasa foto yang berkostum unik serta penyewaan sepeda onthel. Bahkan saat saya meninggalkan museum, ada sebuah grup reog yang sedang tampil di tengah-tengah lapangan.
Tepat di depan Museum Fatahillah, terdapat kantor pos dengan bangunan kuno khas zaman kolonial. Saat keluar dari mobil sampai berjalan ke lapangan, saya ingat tidak bisa melepaskan pandangan dari beberapa jendela tua yang berada di samping kiri gedung kantor pos ini. Lingkungan ini memang pantas disebut sebagai Kota Tua.




  1. Museum Wayang
Museum ini terletak persis di sebelah kanan Museum Fatahillah (maaf saya buta arah di Jakarta). Bangunannya sangat unik. Mirip bangunan-bangunan di Eropa yang digunakan sebagai toko dan terletak di pinggir jalan. Ini membuktikan bahwa bentuk asli bangunan yang berasal dari zaman kolonial masih dipertahankan. Bagian dalam bangunan ini juga sangat unik karena terdiri dari banyak lorong-lorong yang bagian kanan kirinya penuh dengan koleksi wayang yang dibingkai atau disimpan dalam wadah kaca. Tiket masuk museum hanya sebesar 2000 rupiah dan tidak perlu membayar untuk membawa kamera. Museum ini terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama berisi koleksi wayang dari beberapa daerah di Nusantara.
Lantai pertama didominasi oleh koleksi wayang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Betawi. Bentuk wayang dari Jakarta unik sekali. Tokoh-tokohnya adalah para pendekar berbaju hitam dan pihak kolonial Belanda. Ada juga formasi lengkap keluarga si Unyil. Lantai pertama terdiri dari 2 ruangan dan dipisahkan oleh sebuah lorong yang di bagian kirinya penuh dengan prasasti yang biasanya berada di makam orang-orang penting di zaman dahulu. Salah satunya adalah milik Gubernur Jenderal Van Imhoff. Ruangan di lantai 2 tidak terlalu luas dan hanya terdiri dari koleksi alat-alat yang digunakan dalam memainkan wayang.
Lantai ketiga memiliki banyak sekali koleksi wayang yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Beberapa di antaranya adalah sumbangan dari negara yang bersangkutan. Prancis ternyata memiliki tradisi wayang yang jumlah karakternya cukup banyak. Begitu juga dengan Inggris dan Polandia. Namun wayang di sana berbentuk seperti boneka. Wayang dari China ukurannya besar dan mirip dengan tokoh-tokoh yang biasanya dipentaskan di drama panggung klasik mereka. Wayang-wayang dari Kamboja dan Thailand cukup mirip dengan wayang di Indonesia. Ini baru ruangan pertama di lantai ketiga. Kalau berada di  ruangan ini, jangan lupa untuk melihat ke lantai. Di lantai ada beberapa gambar tentang perbedaan bagian-bagian tubuh wayang di Indonesia. Contohnya, perbedaan antara hidung mancung dan pesek dalam karakter wayang di Indonesia.
Ruangan lain berisi berbagai jenis wayang yang sebelumnya belum pernah saya kenal. Dan semua wayang ini berasal dari Indonesia! Contohnya adalah wayang yang seluruh tubuhnya terdiri dari ayat-ayat suci Al Quran. Ada juga wayang rumput dan wayang yang dulu biasa digunakan oleh para misionaris dalam memberi khotbah. Ruangan ini juga menyimpan koleksi lengkap gamelan yang biasanya mengiringi pertunjukan wayang.
Untuk menuju pintu keluar, kami harus melewati sebuah jalan menurun yang sebelah kanan kirinya masih dihiasi dengan kotak kaca berisi koleksi wayang dan topeng. Kebanyakan adalah wayang dari Bali yang bentuknya lebih detail dan megah. Jalan menurun ini akan membawa pengunjung ke sepasang ondel-ondel besar yang menunggu di kaki tangga. Ini menandakan akhir perjalanan mengelilingi Museum Wayang.

  1. Museum Seni Rupa dan Keramik
Terletak persis di sebelah kiri Museum Fatahillah, gaya bangunan Museum Seni Rupa dan Keramik mengingatkan pada bangunan di zaman Yunani kuno yang dulu sering saya lihat di ensiklopedi Yunani Kuno saat masih SD. Warna bangunannya putih dengan beberapa pilar besar yang menopang atap berbentuk segitiga. Terasnya sangat luas dan ada dua buah patung pelukis ternama Indonesia, Raden Saleh dan S. Sudjojono. Tiket masuknya 5000 rupiah per orang, tapi tidak diperbolehkan menggunakan kamera yang memiliki flash. Penggunaan kamera HP masih diizinkan. Hal ini dilakukan untuk melindungi koleksi lukisan yang rentan terhadap sinar.
Museum ini terdiri dari beberapa ruangan yang menyimpan koleksi lukisan dan keramik. Lukisan-lukisan sudah dikelompokkan secara periodik. Kalau melihat susunan lukisan berdasarkan periodisasinya, kita bisa menyimpulkan bahwa pelukis pelopor di Indonesia adalah Raden Saleh. Bukan berarti bahwa sebelum Raden Saleh tidak ada pelukis di Indonesia, namun karyanya yang sangat berpengaruh bisa dijadikan titik awal perkembangan seni lukis Indonesia.
Periode Raden Saleh ini diikuti dengan periode-periode berikutnya. Salah satunya adalah lukisan yang dikelompokkan di bawah tema Mooi Indie. Dosen saya, Prof Faruk, pernah membahas sekilas tentang lukisan ini di kelas pascakolonialisme. Pada dasarnya, lukisan Mooi Indie adalah lukisan yang bertema pemandangan alam Indonesia yang saat itu dianggap memiliki keindahan tersembunyi yang layak untuk ditampilkan. Tokoh-tokohnya antara lain Lee Man Fong dan Walter Spies. Periode mooi indie ini diteruskan kembali ke lantai pertama dengan beberapa periode lainnya. Antara lain adalah periode zaman Jepang, Lekra, sampai yang terakhir adalah periode Seni Rupa Baru. Dari beberapa lukisan tersebut, ada lukisan Henk Ngantung yang pernah menjadi Gubernur DKI dan lukisan Affandi yang sangat mudah dikenali. Sayangnya ada banyak sekali lukisan asli di museum ini. Dengan kondisi museum yang tidak sebaik museum-museum di Eropa, mungkin akan lebih baik jika pihak museum hanya memajang lukisan reproduksinya saja.
Bagian lain dari museum menyimpan koleksi keramik yang amat banyak dan berasal dari zaman yang bervariasi. Kebanyakan keramik yang dipajang berasal dari luar negeri. Hebatnya lagi, museum ini memiliki koleksi keramik China dari beberapa dinasti. Ada juga sebuah kotak kaca khusus yang digunakan untuk menyimpan pecahan keramik-keramik yang ditemukan di lambung kapal karam dan disebut dengan BMKT (Barang Muatan Kapal Karam).




  1. Car Free Day Bunderan HI
Hari Minggu adalah hari terakhir saya di Jakarta karena saya pulang di malam harinya. Pagi hari setelah sarapan, sepupu saya dan suaminya mengajak saya untuk pergi ke Car Free Day yang ada di Bunderan HI. Akhirnya kami bertiga ditambah Tante dan keponakan saya berangkat pada pukul 9 pagi. Sangat sulit untuk mencari parkiran mobil di sekitaran HI saat hari Minggu. Banyak jalan ditutup untuk CFD, termasuk jalur busway. Akhirnya kami parkir di lantai 3 sebuah hotel yang berada di sekitaran Bunderan HI. Dari situ kami bisa berjalan ke CFD.
Car Free Day adalah sebuah kegiatan yang diselenggarakan untuk memberi ruang pada penduduk Jakarta untuk berolahraga di sekitaran HI dengan meminimalisir penggunaan kendaraan bermotor. Jadi, di CFD ini banyak sekali orang-orang yang bersepeda dan melakukan jogging. Saat saya datang ke CFD, kebetulan Presiden SBY sedang hadir untuk mengkampanyekan gerakan tertib lalu lintas untuk keselamatan. Ada panggung besar yang dilengkapi dengan monitor untuk melakukan telekonferensi dengan Kapolda Jawa Timur dan gubernurnya. Acara ini diramaikan dengan beberapa drum band yang salah satunya memainkan lagu ciptaan SBY. Selain acara kampanye tertib lalu lintas, ada banyak sekali komunitas yang berada di CFD. Mereka rata-rata membawa spanduk besar yang memberi informasi tentang komunitas mereka. Saya sempat melihat komunitas Fathinistic yang melakukan long march. Komunitas ini membawa banyak spanduk karena mereka ternyata adalah Fathinistic dari berbagai daerah yang khusus berkumpul di CFD.
Tidak banyak yang bisa kami lakukan di sana selain duduk dan mengamati sekitar. Jalan sangat penuh dengan orang. Tidak ada ruang untuk berolahraga. Lagipula kami memang datang ke sana bukan untuk berolahraga. Kegiatan pagi di CFD kami akhiri dengan membeli sate padang dan bubur ayam dari pedagang yang banyak berjualan di sekitar lokasi.

  1. Thamrin City
Thamrin City adalah pusat perbelanjaan di daerah Tanah Abang dan terkenal menjadi tempat grosir. Jadi pembeli membeli banyak barang dengan harga miring untuk kemudian dijual kembali. Lokasinya dekat dengan Pasar Tanah Abang yang belum lama sering diberitakan di televisi terkait penggusuran pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir-pinggir jalan sehingga menghambat lalu lintas dan relokasi mereka ke tempatnya yang baru. Bisa dilihat sekarang kalau wilayah tersebut sudah lumayan tertata walaupun masih macet. Ada banyak barang yang dijual di sini, mulai dari baju, sepatu, perabotan, sampai oleh2. Yang paling laris tentu saja bagian baju. Tante dan sepupu saya membeli baju-baju muslim untuk dijual kembali kepada teman-teman mereka di kantor. Di mana-mana terdapat tulisan “Thamrin City Pusat Grosir Batik”, namun jumlah penjual batik tidak sebanyak yang saya bayangkan. Lebih banyak didominasi oleh penjual baju muslim.
Bangunannya terdiri lebih dari 5 lantai (tidak sempat menghitung) dan apabila datang ke sana menggunakan mobil, mobil harus naik ke lantai dua atau tiga untuk parkir. Di Jakarta sudah terlalu banyak kendaraan pribadi, jadi sistem parkir seperti ini sangat membantu menghindari kemacetan. Kalau di Jogja kebanyakan parkir mobil masih di basement.
Yang menarik untuk saya adalah pusat buku bekas yang lokasinya terletak dengan pintu masuk parkiran. Walaupun tidak sebesar shopping centre di Jogja atau Kwitang, penjualnya memiliki beberapa koleksi novel bahasa Inggris, majalah bekas, dan cerita-cerita silat Indonesia zaman dulu.
Beberapa saran yang bisa saya sampaikan bagi teman-teman yang ada niat yang berkunjung ke ibukota untuk melancong antara lain:
  1. Pastikan tidak datang saat musim hujan.
  2. Walaupun Jakarta terkenal dengan banyak mall, jangan lupa untuk berkunjung ke museum-museumnya. Beberapa museum tertua di Indonesia ada di kota ini.
  3. Lebih baik menggunakan Trans Jakarta atau motor sebagai transportasi. Selain asyik, dua transportasi tadi jarang terkena macet jika dibandingkan mobil atau angkutan lain.
  4. Jangan lupa untuk mencari informasi tentang tempat yang akan dikunjungi, seperti jam buka dan tutup serta kondisi tempat wisatanya (misal: sedang direnovasi atau tidak).
  5. Kalau bisa menginap di tempat keluarga, teman, atau kenalan untuk menghemat biaya.
  6. Akan lebih baik apabila membawa bekal (makan dan minum) dari rumah berhubung kita tidak pernah tahu kebersihan makanan di tempat-tempat wisata.
  7. Pakailah pakaian dan alas kaki yang nyaman agar betah berjalan-jalan.
  8. Hati-hatilah dengan barang bawaan. Jakarta terkenal dengan kriminalitas. Kalau naik bus, sebisa mungkin tas atau ransel ditaruh di depan.
  9. Jangan sungkan untuk bertanya apabila tersesat. Tapi pastikan bahwa kalian bertanya pada orang yang tepat (petugas busway atau polisi). Bukan bermaksud suudzon dengan orang-orang lain, tapi ada baiknya berhati-hati dengan orang yang tidak dikenal.
Begitulah hasil jalan-jalan saya bersama Plab selama empat hari di Jakarta. Masih banyak tempat lain yang belum sempat kami kunjungi. Semoga tulisan ini bisa memberi sedikit gambaran bagi siapa saja yang berniat untuk melancong ke ibukota. 

Rabu, 23 Oktober 2013

KACUKAN KEMELAYUAN

Diambil dari koleksi Dwi Lisa Susanti

Bagi yang baru pertama kali mendengar frasa ini, sama. Saya juga. Kebetulan saya mendapat kesempatan untuk mengetahui arti frasa ini saat megikuti sebuah kuliah umum yang digelar oleh Program Pascasarjana Prodi Ilmu Sastra UGM pada hari Selasa, 22 Oktober 2013. Kuliah umum tersebut menghadirkan Prof. Dr. H.M. J. Maier sebagai pembicara. Beliau adalah ahli Sastra Melayu dari University of California Riverside. Beliau adalah murid langsung Prof. Teeuw, ahli sastra Indonesia dari Universitas Leiden.  Prof. Maier adalah juga penerjemah beberapa karya sastra Indonesia terkenal ke bahasa Belanda. Beberapa di antaranya: “Ken Arok”, “Bukan Pasar Malam”, “Sri Sumarah”, dan “Jejak Langkah”. Saat ini Beliau sedang dalam sebuah proyek bersama seorang dosen Universitas Sanata Dharma untuk menerjemahkan sebuah karya Roland Barthes yang berjudul The Pleasure of the Text.
Pembahasan tentang kacukan kemelayuan berangkat dari buku tersebut. Buku ini menempatkan pembaca dalam posisi yang lebih penting daripada penulis. Yang perlu dipahami adalah, dalam proses membaca, yang paling penting bukanlah proses untuk mencari ide namun mencari kenikmatan. Ide atau gagasan terdapat di setiap buku dan bisa ditemukan oleh pembaca sedangkan kenikmatan adalah milik pribadi pembaca yang proses pencariannya lebih personal.
Dalam memperhatikan pembaca, Barthes meminta untuk mulai melihat pada jenis teks dan membedakannya menjadi dua. Barthes memiliki istilah khusus untuk menyebut teks sebagai teks yang readerly dan writerly. Yang pertama digunakan untuk teks yang memiliki kenikmatan yang dicari oleh pembaca. Novel dapat digolongkan dalam kategori ini. Writerly digunakan untuk teks yang memiliki kualitas untuk menantang pembacanya sehingga sebagai hasil akhir, pembaca akan menuliskan hasil pembacaannya terhadap buku tersebut.
Klasifikasi ini menurut Prof. Maier menarik jika dihubungkan dengan sastra Melayu. Kebanyakan sastra Melayu memiliki banyak versi dan setiap ditulis ulang, selalu ada perubahan-perubahan yang dilakukan oleh penulis barunya. Sebagai contoh adalah teks Hang Tuah. Saat ini ada 10 versi teks Hang Tuah. Hal ini disebabkan karena tiap kali membaca, pembaca menganggapnya sebagai teks writely sehingga saat ia menuliskannya kembali, ia memberi pemaknaan yang baru atas teks tersebut sebagai hasil dari proses membacanya. Jadi, teks-teks baru mengandung pengulangan dari teks sebelumnya namun masih terdapat perbedaan, kalau tidak bisa disebut sebagai penyimpangan.
Tidak hanya terjadi di masa sebelum dikenal mesin cetak untuk menggandakan teks, di abad 20 pun ditemukan teks-teks yang dicetak dengan isi yang berbeda dengan naskah aslinya. Contohnya adalah novel Sitti Nurbaya karangan Marah Rusli. Di halaman pertama, teks awal yang menyebut bendera dengan warna merah-putih-biru, pada teks berikutnya menyebutnya dengan merah putih saja. Alasannya tentu saja terkait dengan politik.
Dari sini, mulai menarik untuk menyelidiki bagaimana cara orang Melayu berpikir dan jawaban tersebut dapat diperoleh dengan menyimak karya sastra yang dihasilkan dalam bahasa tersebut. Prof. Maier memilih menggunakan bahasa Melayu untuk menyebut bahasa Indonesia karena ia masih termasuk rumpun bahasa Melayu dan merupakan hasil dari perkembangan bahasa tersebut.
Prof. Maier memiliki argumen awal bahwa bahasa Melayu sangat cair karena gampang berubah. Sebagai akibatnya, teks berisi banyak hal yang berbeda dari teks pertamanya sehingga sastra Melayu dapat disebut sastra yang hybrid atau campur aduk. Istilah kacukan memiliki arti yang sama dengan campur aduk. Istilah ini juga disebut dalam naskah Hang Tuah. Naskah Hang Tuah menceritakan seorang hamba yang mengabdi di isatana kerajaan Melaka namun akhirnya keluar dan berpetualang di Indrapura. Berhubung ia pintar menari, ia dipanggil menari di salah satu kerajaan. Pihak kerajaan terkesan dengan tariannya dan menganggap bahwa ia adalah seorang Melayu asli. Hang Tuah menyangkal dengan mengatakan bahwa dirinya adalah Melayu kacukan. Ia punya identitas campur aduk. 
Jawaban tentang keaslian Melayu kemudian dipertanyakan. Melayu itu sebenarnya apa? Menurut KBBI, Melayu merupakan kata benda, tapi kenapa bisa dipakai untuk kata sifat? Apakah Melayu itu nama daerah, nama bangsa, atau nama bahasa? Tidak ada jawaban pasti dan pertanyaan tersebut menurut Prof. Maier merupakan pertanyaan yang tak perlu ditanyakan. Namun bangsa Melayu memang selalu tergerak untuk mencari keaslian mereka. Orang Melayu selalu menyimpan impian untuk menjadi sempurna. Dalam teks Hang Tuah, pertanyaan pihak kerajaan tentang keaslian dirinya menunjukkan bahwa keaslian sebagai orang Melayu mendapat tempat dalam masyarakat. Padahal apabila kita lihat lebih jauh, istilah Melayu merupakan konstruksi dari masyarakat penjajah. Sebelum dijajah, para nelayan yang tinggal di semenanjung Malaka atau petani yang bercocok tanam di pedalaman Riau misalnya, tidak menyadari bahwa mereka orang Melayu. Saat pertama kali diberi pertanyaan tentang siapa sebenarnya mereka, kemungkinan besar mereka akan menjawabnya dengan jawaban semacam petani dari Riau atau nelayan dari Bagansiapiapi.
Konstruksi Melayu, oleh karena itu, memiliki hubungan dengan kekuasaan kolonial yang dulu pernah bercokol di wilayah Asia Tenggara, baik Indonesia maupun Malaysia. Untuk mengaitkan isu ini dengan bahasa, fakta bahwa bahasa Melayu merupakan hasil standardisasi kolonial merupakan bukti otentik. Kolonial membagi bahasa Melayu menjadi Melayu sungguh dan Melayu pasar. Melayu sungguh adalah bahasa yang pada akhirnya berkembang menjadi bahasa Indonesia sedangkan Melayu pasar merupakan bahasa yang digunakan oleh kebanyakan rakyat, mayoritas rakyat kecil, di wilayah semenanjung Malaka dan Sumatra. Melihat dari fakta ini, bukankah bahasa Indonesia sebenarnya adalah hasil konstruksi pemerintah kolonial? Selama ini kita selalu bangga dengan menyebut bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Namun persatuan itu sendiri pun adalah sumbangsih dari pemerintah kolonial.
Bahasa Melayu yang dipakai oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia dan Malaysia, oleh karena itu bisa disebut sebagai Melayu kacukan, Melayu yang tidak murni, Melayu yang bukan sungguh karena yang sungguh itu tidak pernah ada. Jalan ke sana selalu mendapat pertentangan karena kacukan ada di mana-mana. Apabila ini diterapkan dalam teks, tidak ada teks Melayu yang asli. Semuanya kacukan sehinggan mengklasifikasi teks sebagai yang adiluhung dan rendahan sungguh adalah perbuatan yang salah menurut Prof. Maier.
Pertanyaan dan jawaban dalam diskusi:
  1. Pertanyaan   : Ada sebuah buku yang menyatakan bahwa cerita pelipur lara adalah contoh Melayu Sungguh. Lalu bagaimana kaitannya dengan kacukan?           Jawaban        : Kalau kita memahami Melayu hanya dari ceritanya saja, tentu saja tidak akan pernah menemukan jawaban karena Melayu itu luas. Seperti yang telah dibahas tadi, semua teks adalah teks kacukan. Oleh karena itu, konsep Melayu Sungguh tak pernah ada.
  1. Pertanyaan   : Bagaimana tanggapan Bapak tentang fenomena bahasa Alay dalam bahasa Indonesia? Apakah termasuk kacukan?                                                 Jawaban        : Dulu Sutan Takdir Alisjahbana pada tahun 1981, sekembalinya ia dari Amerika Serikat dan menyadari perkembangan bahasa Indonesia di negaranya, berkseimpulan bahwa eksperimen bahasa Indonesia gagal. Bahasa Indonesia tidak bisa menyatukan Indonesia karena ada banyak dialek yang blang blonteng. Jadi, bahasa alay atau slang selalu ada namun masih tetap ada semacam kesadaran untuk menjadikan bahasa tertentu, dalam hal ini bahasa Indonesia, sebagai bahasa persatuan.
  1. Pertanyaan   : Kalau Melayu yang sebenarnya tidak ada? Bagaimana memahami Melayu sebagai constructed identity?                                                                               Jawaban        : Secara politik, pada dasarnya setiap negara memiliki bahasa persatuan. Tapi kalau kita mengambil Malaysia sebagai contoh, hanya sedikit orang yang mengerti bahasa Melayu. Kebanyakan yang mengerti adalah orang yang menganggap diri mereka orang Melayu. Sedangkan orang Cina atau India yang tinggal di sana tidak merasa berkewajiban untuk mempelajarinya. Tapi toh masyarakat itu tetap bersama terlepas dari apakah masyarakat tersebut menggunakan bahasa yang sama atau tidak. Selalu ada yang meracuni dan menuntut adanya ideologi dalam kaitannya dengan identitas. Walaupun mereka nantinya memiliki identitas, mereka masih dalam lingkaran identitas yang ditentukan oleh kekuasaan.
  1. Pertanyaan   : Bagaimana kaitan antara kacukan Kemelayuan dengan estetika?Jawaban        : Setiap orang memiliki konsepnya sendiri tentang identitas walaupun  ia kadang harus ikut identitas lain yang telah ditentukan. Tapi yang paling menarik dari semuanya adalah kita selalu mencari identitas salah satunya melalui bahasa walaupun usaha untuk menstandardisasinya akan selalu gagal. Bahasa ini adalah salah satu bentuk dari estetika.
  1. Pertanyaan   : Kalau saya ingin meneliti tentang sastra Melayu klasik, bagaimana cara membedakan antara sastra yang kacukan dengan yang sungguh?                     Jawaban        : Bagaimana cara mendefinisikan sastra klasik dan kacukan, menurut saya itu tidak mungkin bisa. Dalam sastra klasik Melayu, tulisan Nasrani dinafikkan karena selama ini mereka mau membangun ideologi bahwa Melayu adalah Islam. Mereka menganggap teks-teks Nasrani bukan asli Melayu, kacukan. Padahal sastra Melayu Islam sendiri adalah kacukan karena teks baru selalu dibangun berdasarkan teks sebelumnya. Tidak ada perbedaan antara sastra Melayu klasik dan sastra Melayu kacukan, pun antara sastra Melayu Islam dan sastra Melayu Nasrani.
  1. Pertanyaan   : Apabila semua teks adalah kacukan, apakah ini berarti ilmu pengetahuan, terutama bahasa dan sastra, tidak butuh adanya pengklasifikasian teks?       Jawaban        : Saya dan orang-orang seangkatan saya tumbuh bersama paham strukturalisme yang diajarkan di kelas. Dalam strukturalisme, ada pengklasifikasian. Tapi paham pascastrukturalisme membuat kita mengerti bahwa tidak ada pengklasifikasian karena nyatanya dunia ini penuh dengan kekacauan. Oleh karena itu, tidak ada pengklasifikasian dalam sastra. Semua jenis teks itu setara. Mereka semua kacukan.
Pandangan Pak Maier menawarkan salah satu perspektif dalam melihat teks di ranah sastra Melayu secara khusus dan semua jenis teks secara umum. Tentang tidak adanya penggolongan teks, saya sempat mendiskusikan hal ini dengan teman sekelas saya. Jika teks memang tidak diklasifikasikan, bagaimana kemudian cara kita untuk meneliti teks sastra populer misalnya? Karena selama ini kami diajarkan bahwa metode meneliti sastra populer berbeda dengan metode meneliti sastra adiluhung. Tapi pertanyaan saya memang tidak harus dijawab. Ilmu menawarkan begitu banyak interpretasi, apalagi ilmu bahasa. Tinggal memilih mana yang menurut kita cocok.


Minggu, 08 September 2013

YUKIGUNI (DAERAH SALJU)


Yasunari Kawabata adalah penerima Nobel Sastra pertama dari Jepang. Penghargaan tersebut diterima tahun 1968. Kawabata terkenal dengan prosa lirisnya. Prosa liris adalah bentuk tulisan seperti prosa yang memiliki irama tertentu. Prosa liris Kawabata di Jepang dikategorikan sebagai haiku. Salah satu karyanya yang dianggap monumental dan mengandung bait-bait haiku adalah sebuah novel berjudul Yukiguni yang dialihbahasakan dalam bahasa Inggris menjadi Snow Country. Penerbit Gagas Media menerbitkan versi bahasa Indonesianya dengan judul Daerah Salju dengan penerjemah A.S. Laksana.
Daerah Salju adalah sebuah kisah cinta antara seorang pria Tokyo bernama Shimamura dengan seorang geisha di daerah pemandian air panas (onsen) bernama Komako. Shimamura rutin mengunjungi pemandian air panas di setiap musim dingin saat salju mulai menyelimuti desa tempat tinggal Komako dan selalu menggunakan jasa geisha tersebut. Komako adalah geisha onsen yang kehidupannya sangat sederhana dibandingkan dengan rekan-rekan seprofesinya di Tokyo dan Kyoto. Ia belajar samisen dengan otodidak. Shimamura yang seorang pengamat amatir tarian Barat seolah menemukan pelengkap dalam kesederhanaan tradisional Komako. Komako memainkannya samisen dan menemaninya tiap malam walaupun ia akan langsung pergi sebelum matahari pagi bersinar. Dalam budaya Jepang tradisional, seks dipercaya menjadi salah satu jalan untuk mendapatkan kebahagiaan. Seorang pria beristri tidak dilarang untuk menyewa jasa wanita panggilan.  
Komako memiliki perasaan yang sama terhadap Shimamura. Namun keduanya telah mafhum sedari awal bahwa hubungan mereka tidak akan bisa berhasil. Kehidupan Komako yang keras dan sulit seolah tidak bisa mengimbangi jalan pikiran Shimamura yang penuh dengan fantasi. Ketdakmampuan Shimamura dalam mengerti dan melengkapi Komako digambarkan dalam sebuah insiden kebakaran yang juga menjadi penutup dari novel ini. Saat Komako berlari memberikan bantuan pada Yoko, wanita yang kecantikannya juga dikagumi oleh Shimamura, Shimamura mematung dan hanya mampu memandang Komako yang berlari panik dan menjerit mendekati jasad Yoko.
Naskah ceritanya diterjemahkan dengan baik oleh pengalihbahasa jadi tidak ada kesulitan dalam memahami cerita dan alurnya. Walaupun bukan merupakan haiku lagi ketika sudah diterjemahkan, namun pembaca masih dapat mengagumi keindahan karya sastra ini melalui penggambaran hal secara sangat detail oleh Kawabata. Detail tidak membuat ceritanya menjadi membosankan. Malah justru menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari petualangan Shimamura dan Komako. Paragraf berikut bisa menjadi contoh:

Pada saai itulah, cahaya muncul di tengah wajah si gadis. Bayangan di cermin tidak cukup kuat untuk menahan cahaya di luar sana, sementara cahaya di luar pun tidak terlalu kuat untuk meredupkan bayangan. Cahaya bergerak melintasi wajah, tetapi tidak sampai membuat wajah itu berkilau. Cahaya itu adalah bintik yang jauh dan samar. Saat ia mengirimkan pancarannya ke bola mata si gadis, saat mata dan cahaya itu saling bertindihan, mata itu menjadi kilau cahaya indah sekaligus ganjil, yang mengapung di lautan malam. (Kawabata, 2010: 8)
Paragraf tersebut menggambarkan Shimamura yang sedang mengagumi kecantikan seorang wanita bernama Yoko yang ia lihat dalam perjalanan naik kereta menuju onsen. Di sepanjang halaman buku, tidak sulit untuk menemukan kalimat-kalimat indah lainnya.
Menurut beberapa analisis sastra yang saya baca, Komako sebenarnya adalah representasi budaya tradisional Jepang yang mulai luluh karena modernisasi, dalam hal ini diwakili Shimamura. Tragisnya akhir cerita ini mungkin merupakan kekecewaan Kawabata akan makin terkikisnya nilai-nilai tradisional Jepang. Bagi yang tertarik untuk menikmati karya sastra Jepang yang sangat berkualitas karena merangkum aspek budaya, sastra, dan kehidupan itu sendiri, buku setebal 188 halaman ini bisa menjadi salah satu pilihan. Selamat membaca! 

Sabtu, 31 Agustus 2013

CHICKEN SOUP FOR THE SOUL: LOVE STORIES


     Paling tidak sekali seumur hidup, orang pasti pernah melakukan sesuatu dengan tidak berpikir panjang. Hal tersebut biasanya berimbas pada hasil yang buruk. Untungnya kali ini saya tidak mendapatkan hasil yang buruk. Bahkan bisa dibilang bagus. Jadi saya mendapatkan buku Chicken Soup for the Soul: Love Stories tanpa punya alasan kenapa. Asal ambil saja. Biasanya saya punya alasan yang kuat untuk meminjam sebuah buku. Paling tidak diawali dengan membaca sinopsis yang ada di belakang buku. Kali ini tidak. Tiba-tiba saja saya sudah berada di dekat meja peminjaman dengan membawa buku ini.
Sejak SD saya sudah gemar dengan seri-seri Chicken Soup dan sudah lama saya tidak membaca seri-seri tersebut. Mungkin alam bawah sadar sayalah yang membuat saya mengambil keputusan untuk meminjam buku ini tanpa pikir panjang. Ada memori yang sudah akrab akan seri-seri ini.
Dari dulu, konsep seri-seri Chicken Soup tidak berubah. Beberapa orang mengirimkan tulisan sesuai tema yang ditentukan oleh tim editor. Karena seri yang saya baca adalah seri Love Stories atau Kisah Cinta, maka isinya adalah tentang pengalaman mencintai dan dicintai seseorang serta bagaimana dengan mencintai dan dicintai, mereka menemukan kebahagiaan dan semangat dalam hidup. Kedengarannya simpel. Namun saat mulai membaca, biasanya sulit melepaskan buku ini. Untuk saya, ada dua alasan kenapa biasanya saya sulit berhenti membaca buku ini sekali sudah di tangan: 1. ceritanya singkat dan padat 2. mayoritas kisah nyata (walaupun ada bumbu-bumbu tambahan).
Jadi secara isi, buku ini jauh dari kata-kata motivasi tapi buku ini bisa memotivasi. Motivasinya disalurkan lewat pengalaman orang-orang yang pernah mengalami masalah dalam mencintai dan dicintai. Untuk orang seperti saya yang masih jomblo dan belum punya pengalaman dengan lawan jenis, buku ini cukup inspiratif karena menjelaskan dengan cara sederhana tentang apa yang dimaksud dengan dedikasi dan kesabaran. Walaupun dalam konteks buku ini, yang dimaksud dedikasi adalah dedikasi dengan pasangan atau kesetiaan, namun kata ini juga bisa diterapkan dalam konteks yang sangat umum. Sedangkan kesabaran biasanya terdapat dalam kisah-kisah pasangan yang telah menempuh kebersamaan sampai merayakan pernikahan emas atau perak. Kisah-kisah mereka biasanya fokus pada dalamnya kesabaran yang melahirkan saling pengertian dalam menghadapai satu sama lain. Dalam merajut kebersamaan, entah dengan pasangan, rekan kerja, maupun teman, sering terdapat ketidakcocokan. Dengan kesabaran, banyak pernikahan dan pertemanan yang bisa langgeng sampai maut memisahkan.
Buku ini terdiri dari delapan bab: Bagaimana Kami Bertemu, Kekuatan Cinta, Syukur, Mengatasi Rintangan, Di Mata Seorang Anak, Pemahaman dan Pelajaran, Kekuatan dari Memberi, serta Saat-saat Istimewa. Beberapa kontributor menyumbangkan lebih dari satu tulisan untuk edisi ini. Untuk saya, tidak ada bab favorit dan cerita favorit. Namun, cerita yang menurut saya inspiratif dan bisa dijadikan pelajaran biasanya bersumber dari pasangan yang telah bersama selama puluhan tahun dan telah mengalami masa bahagia dan duka bersama namun tetap bertahan saling mencintai. Salah satunya tulisan Betty King dalam bab 6 “Pemahaman dan Pelajaran” yang berjudul “Pernikahan dengan Landasan yang Kuat”.
Buku ini ringan dan inspiratif karena menceritakan pengalaman cinta menarik dari beberapa orang. Untuk yang sedang jatuh cinta dan berusaha menemukan cinta, buku 344 halaman ini pasti bisa memberikan sesuatu yang berguna untuk menjalani hari-hari dengan pasangan dan melihat cinta dengan sudut pandang yang lebih lebar. Selamat membaca!

Jumat, 30 Agustus 2013

PASAR


Setiap daerah, apalagi kalau itu ibukota kabupaten, pasti memiliki sebuah pasar tradisional yang biasanya terletak di tengah-tengah kota. Posisinya di tengah kota bertujuan untuk menunjukkan kepada masyarakat kota lain tentang betapa makmurnya masyarakat pemilik pasar tersebut. Sudah sejak lama pasar secara tidak langsung dipakai sebagai parameter maju dan sejahteranya suatu daerah.
Fakta tentang pasar tradisional ini tidak hanya bisa dijumpai di Indonesia namun juga di negara-negara lain. BBC sering meliput tentang kondisi pasar-pasar di daerah Afrika dan Asia. Kenyataannya, di Afrika bahkan orang harus rela berjalan berpuluh-puluh kilometer untuk bisa menjual hasil bumi atau hasil karya kemudian membarternya dengan barang-barang kebutuhan di pasar tradisional. Pasar tradisional adalah satu-satunya tempat yang bisa menyediakan transaksi unik  ini. Orang dari berbagai macam latar belakang berkumpul untuk bertransaksi. Jelas pasar tradisional adalah satu-satunya tempat di mana mereka bisa mendapatkan barang-barang kebutuhan yang tidak tersedia di kampung mereka.
Selain kegiatan ekonomi, ada juga interaksi sosial yang diwakili dengan kegiatan tawar-menawar. Lewat tawar-menawar, interaksi sosial yang lebih intim dapat dibangun. Dalam tawar menawar, manusia dituntut untuk berkomunikasi lewat berbicara. Pengetahuan manusia salah satunya dibangun dan disalurkan dengan berbicara. Dalam berbicara, timbullah rasa akrab. Tidak jarang kita mengenal penjual beras langganan keluarga di pasar yang juga turut diundang di pernikahan kakak perempuan kita. Atau pembeli langganan toko buah yang selalu menyempatkan barang tujuh menit untuk mengobrol dengan si penjual tentang kabar anaknya yang kuliah di kota lain atau kesehatan tetangganya yang makin memburuk.
Namun, keberadaan pasar tradisional saat ini tergeser dengan makin maraknya pasar modern atau yang lebih sering disebut dengan supermarket. Keberadaan supermarket sebenarnya adalah cara untuk memenuhi kebutuhan manusia saat ini. Manusia zaman sekarang butuh praktis dan cepat. Tidak perlu ada percakapan bertele-tele lewat tawar menawar jika yang dibutuhkan hanya sebotol air mineral, bukan? Di dalam masyarakat modern, orang-orang bergerak. Mereka mencoba efisien dengan waktu karena waktu adalah uang.  Dalam bertransaksi pun, pasar modern lebih tertarik dengan alat pembayaran yang nilainya bisa ditakar. Nominal menjadi yang paling utama. Dengan kata lain, ekonomi adalah tujuan utama diadakannya kegiatan jual beli di pasar modern.
Sebenarnya, jika ditilik dari fungsi-fungsi, baik itu sosial maupun ekonomi, pasar tradisional dan supermarket sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Biasanya jika terdapat masalah seperti ini, solusinya adalah menyatukannya. Dengan kata lain, mendirikan beberapa supermarket di kota yang memiliki pasar tradisional adalah solusi yang bijak. Yang menjadi permasalahan saat ini adalah jumlah supermarket yang dikhawatirkan bisa menggeser dan bahkan menenggelamkan fungsi pasar tradisional sebagai sumber pendapatan masyarakat kecil yang menggantungkan hidup dari berdagang di pasar tradisional dan memenuhi kebutuhan sosial masyarakat untuk berinteraksi. Solusi yang diambil beberapa kepala daerah untuk membatasi pertumbuhan supermarket cukup bijak. Pasar tradisional pun juga perlu pemeliharaan agar menarik minat orang-orang yang lebih tertarik pergi ke supermarket. Hal ini biasanya terjadi di kota-kota besar.
Di daerah-daerah yang masyarakatnya masih menganggap bahwa acara berkumpul, membantu, dan mengetahui kabar satu sama lain sebagai hal utama, pasar tradisional masih memiliki tempat di kehidupan. Mereka masih membutuhkan ruang untuk mengekspresikan jati diri mereka sebagai masyarakat komunal. Pasar tradisional adalah salah satu konsep yang tersisa untuk dapat memenuhi fungsi-fungsi tersebut. Sayangnya, daerah-daerah ini biasanya adalah daerah yang belum tersentuh modernisasi. Tapi di kota-kota besar pun, masih banyak orang yang membutuhkan keberadaan pasar tradisional. Bangsa yang sudah tumbuh dengan warisan komunal secara turun-temurun memang tidak mudah melepas esensi kebersamaan yang telah diwariskan nenek moyangnya.
Di tengah modernisasi yang makin merambah ke kota-kota pelosok Indonesia, mempertahankan keberadaan pasar tradisional menjadi suatu kebutuhan sebagai bentuk apresiasi pemerintah serta masyarakat daerah tersebut terhadap masyarakat pedagang di sekitar kawasan tersebut dan tradisi sosial yang telah menjadi kebutuhan masyarakat komunal.
Ketika menghabiskan hari Minggu mengunjungi pasar tradisional, saya tahu bahwa para penjual ini mungkin merasakan bahwa makin hari makin sedikit pembeli yang mau bersusah-payah naik turun mencari barang kebutuhan sambil melakukan penawaran. Namun sampai sejauh ini mereka masih bertahan. Bukti bahwa masih ada yang membutuhkan mereka. Mereka sudah bertahan selama ini dan akan terus bertahan sampai nanti. Semoga saya tidak salah. 

Rabu, 21 Agustus 2013

SINDROM


Ada sindrom baru yang menyerang saya. Lebih tepatnya cara berpikir saya. Sindrom ini merangsang saya untuk membuat kesimpulan bahwa hari yang lalu terlihat lebih baik. Ini bukan berarti saya tidak bersyukur dengan apa yang saya alami dalam hidup selama 24 tahun ini. Hanya saja, akhir-akhir ini saya cenderung merasa sering membandingkan segala sesuatu di sekitar. Tiba-tiba saya menjadi seseorang yang  memperhatikan orang-orang di lingkup hidup saya. Kemudian semuanya selalu berujung pada kesimpulan bahwa orang-orang ini lebih menyenangkan beberapa tahun yang lalu dan keadaan di tempat-tempat itu lebih menyenangkan dua tahun yang lalu. Seolah masa lalu punya kapasitas yang lebih besar untuk membawa kebahagiaan bagi hidup dibandingkan masa kini.
Ada kecenderungan dalam diri saya masa lalu terlihat lebih jujur dan penuh optimisme. Ada seorang teman yang pernah bilang bahwa masa muda selalu penuh dengan mimpi-mimpi dan hal tersebut membuatmu merasa hidup. Your life seems complete katanya. Namun semakin menua, perlahan akan timbul kesadaran bahwa tidak semua mimpi di masa lalu bisa dicapai dengan mudah. Kemudian orang mulai lupa dengan idealisme di masa muda dan berganti prinsip untuk lebih fokus mengikuti ke mana arus hidup membawa mereka. Lebih realistis katanya.
Entah sudah berapa kali kalimat macam “Semakin tua, kamu akan semakin lupa dengan idealisme di masa muda” diucapkan beberapa orang dari beragam profesi kepada saya. Frekuensi diucapkannya kalimat macam itu semakin meningkat seiring bertambah dewasanya saya. Dulu saya tak merasa perlu untuk memikirkannya, tapi semakin ke sini, semakin ada semacam desakan untuk mempertanyakan kebenaran pertanyaan tersebut. Saya lihat sekitar. Saya amati orang-orang di sekitar saya. Lalu saya mulai sadar bahwa ada perbedaan besar dalam diri mereka. Sebelumnya tak pernah saya berpikir tentang perubahan tersebut. Namun sekali memutuskan untuk mencoba mengamatinya, segalanya tampak jelas. Si A semakin serius dan lebih jarang melempar joke seperti saat masih sekolah. Si B sering bercerita tentang macam-macam pekerjaan yang menurutnya menghasilkan pundi-pundi materi yang tidak sedikit. Si C bercerita banyak hal tentang anaknya yang mulai tumbuh besar dan suami yang sangat perhatian. Saya pikir ia dulu akan jadi seorang akademisi karena kepintarannya yang di atas rata-rata. Si D menjadi sangat suka membuat kalimat-kalimat bijak tentang hidup di media sosial. Semuanya terlihat sangat relistis, aktif, dan berkejaran dengan waktu. Dan mereka terlihat berbeda.
Di mana masa lalu? Seolah tiap orang sudah siap di garis start untuk memulai sebuah perlombaan kehidupan. Entah apa yang dikejar. Dalam perlombaan ini, tiba-tiba semua orang menjadi lebih berpengalaman dari yang lain. Lebih pintar dari kebanyakan, dan lebih percaya diri untuk mengeluarkan statement yang berisi petuah dan kebijakan hidup. Saya juga mengejar banyak hal dalam hidup. Saya manusia normal yang punya banyak cita-cita. Dan saya merasa sendiri karena merasa seolah sayalah yang tak pernah berubah. Inilah alasan kenapa saya sangat merindukan masa-masa sebelum hari ini.
Ada rasa takut saat ini. Tak pernah saya merasa nyaman dengan orang-orang yang tidak saya kenal. Tapi akan lebih takut saya jika mengetahui orang-orang yang dulunya saya pikir saya kenal ternyata telah jauh berubah.
Mungkin saya yang salah. Mungkin saya harus mulai merobek dinding kebijaksanaan versi saya dan menghadapi hari ini dengan penuh semangat seperti mereka. Passionate, proud, grasping. Mencoba untuk lebih realistis tentang hidup, kata beberapa di antara mereka pada saya. Juga menyadari bahwa idealisme tidak bisa dipertahankan sampai mati. Ia bukan hal yang rigid, namun fleksibel. Dan bahwa cita-cita kadang tak selamanya bisa diraih. Cita-cita yang mungkin diwujudkan adalah yang paling dekat dari jangkauan. Lain daripada itu hanyalah angan-angan belaka. Tataplah masa depan lewat hari ini dan mulailah bersikap realistis.
Inikah saya? Mirip Gil dalam Midnight in Paris yang terjebak dalam era favoritnya di 1920an dan menganggap bahwa masa lalu ternyata lebih menyenangkan. Padahal orang-orang dari masa tersebut memiliki sindrom yang sama, mengagungkan era Belle Epoque di 1890an. Siklus ini tak akan pernah habis dikejar. Jadi akan lebih realistis ketika memutuskan berani untuk bersikap di hari ini walaupun konsekuensinya kamu harus berubah.
Benarkah? 

Rabu, 10 Juli 2013

SEJARAH KECIL PETITE HISTOIRE INDONESIA JILID 4

Yang mula-mula menarik perhatian dari buku ini adalah sampul yang bergambar foto jam gadang. Ini berbeda dari tiga buku sebelumnya yang biasanya bergambar lukisan-lukisan yang merepresentasikan bagian-bagian dari sejarah maupun budaya kepulauan Nusantara kita tercinta. Jam gadang mengingatkan saya pada banyak hal tentang sebuah propinsi nun jauh di hampir ujung Sumatra. Bangunan ini merupakan representasi Sumatra Barat yang paling terkenal. Sedangkan Sumatra Barat adalah rumah dari beberapa tokoh nasional seperti Mohammad Hatta, Tan Malaka, serta beberapa pengarang terkenal seperti Mochtar Lubis dan A.A. Navis. Mungkinkah ini pertanda bahwa buku ini mayoritas akan membahas segala yang berhubungan dengan bumi Pagarruyung?
Dari 19 bab yang ada dalam Petite Histoire jilid 4 ini, memang ada beberapa bab yang khusus bercerita tentang sejarah perang Pidari/Padri dan juga beberapa anggota keluarga Rosihan Anwar yang memang asli Minang, namun mayoritas bab adalah tulisan dari berbagai isu dan genre.
Bab pertama adalah sejarah dan cerita penyelenggaraan Musyawarah Media Massa Islam Sedunia yang pertama di Jakarta bulan September 1980. Bab kedua berisi tentang kisah Soedjatmoko, intelektual Indonesia yang pernah menjadi rektor Universitas PBB di Tokyo dan anggota delegasi RI pada Dewan Keamanan PBB. Yang paling menarik dari tulisan tersebut bagi saya adalah fakta bahwa kapasitas intelektualitas Koko (panggilan Soedjatmoko) yang tinggi mengenai politik dan filsafat Barat diimbangi dengan pengetahuannya tentang mistis Jawa sehingga ia dianggap oleh George McTurnan Kahin sebagai jembatan antara Barat dan Jawa. Bab ketiga berisi tulisan mengenai Soe Hok Gie, terutama keterlibatan penulis dan Soe dalam Studi Club yang juga diikuti oleh P.K. Ojong dan Onghokham di awal tahun 60an. Ada hal menarik yang disinggung Rosihan, yaitu anggapan Soe bahwa dirinya angkuh dan tertulis dalam buku hariannya yang diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran. Rosihan nampak tidak terima dengan perlakuan tersebut. Hal lain yang disinggung dalam bab ini adalah definisi revolusi dan pembangunan nasional.
Bab keempat berisi tulisan Rosihan sebagai komunis yang menyoroti status Soekarno dan Hatta yang sebenarnya antikapitalis. Bab kelima sebagai ahli resensi dari otobiografi Ajip Rosidi berjudul Hidup Tanpa Ijazah. Bab keenam adalah laporannya sebagai reporter di Sri Lanka, Australia, dan Kamboja. Bab 7 sebagai pengarang editorial yang menulis peristiwa 17 Oktober 1952 tentang rasionalisasi tentara dengan mengurangi jumlahnya dari 200.000 menjaadi 100.000 yang kemudian memancing pimpinan tentara untuk melakukan show force dengan mengorganisir demonstrasi orang-orang sipil yang didukung tank serta artileri.
Bab kedelapan tentang pengalaman menjadi penulis di Pos Kota dan C&R. Bab kesembilan berisi tulisan Rosihan Anwar tentang Prof. Koestedjo sebagai pengalaman lain penulis yang juga seorang sejarawan informal. Bab kesepuluh berisi tulisan tentang Angkatan 1945. Rosihan sendiri termasuk golongan angkatan ini. Ia menceritakan pengalamannya menulis sebagai sastrawan dan usahanya mendirikan Siasat dan Gelanggang. Awalnya Gelanggang adalah ruang kebudayaan di majalah Siasat namun lama-lama berkembang dan dapat berdikari. Penamaan Angkatan 45 yang sekarang telah diterima dalam dunia sastra Indonesia muncul pertama kali di ruang kebudayaan tersebut.
Bab kesebelas tentang pra kedatangan presiden Barack Obama ke Indonesia. Bab keduabelas menulis tentang masalah keindonesiaan. Buku yang dijadikan acuan dalam menulis artikel tersebut adalah The Idea of Indonesia: A History (2008) karya R.E. Elson, Guru Besar Sejarah Asia Tenggara di Universitas Queensland. Bab ketigabelas tentang tentang fungsi pahlawan nasional di Indonesia yang jumlahnya mencapai ratusan dan sangat kontras dengan negara-negara lain yang kebanyakan hanya memiliki satu atau dua tokoh yang dijadikan sebagai pahlawan nasional.
Bab keempatbelas merupakan bab terpanjang dari buku ini. Isinya menceritakan tentang beberapa anggota keluarga Rosihan Anwar yang merupakan putra asli Minangkabau dan memiliki peran cukup penting di zaman kolonial maupun kemerdekaan. Sebagai contoh, ayah Rosihan yang adalah seorang ambtenaar di Binnenlands Bestuur dan kakak laki-lakinya, Johnny Anwar yang seorang kepala polisi di Padang. Karena kedudukan ayahnya yang cukup tinggi, masa kecil Rosihan cukup terjamin dan menyenangkan. Kisah-kisah tentang kota-kota yang pernah dikunjunginya di masa kecil menuntun kepada perjalanan sejarah dari kota-kota tersebut dan orang-orang di dalamnya. Salah satu yang paling saya suka adalah sejarah gerakan Pidari atau Padri di tanah Minang.
Awal gerakan Pidari dimulai dari kembalinya tiga orang dari menunaikan haji di Mekkah tahun 1803. Ketiganya terkesan oleh ajaran Wahhabi dan mencoba menyebarkan ajaran tersebut. Gerakan ini menentang perjudian, persabungan, candu, minuman keras, pemakaian tembakau dan sirih, dan beberapa aspek dari sistem matriarkal. Namun gerakan ini masih mengizinkan ziarah dan menghormati orang-orang keramat. Saat Thomas S. Raffles mengunjungi ranah Minangkabau tahun 1818, ia menuliskan bahawa daerah tersebut penuh dengan laki-laki dan perempuan yang berpakaian seperti kaum Wahhabi di padang pasir. Ajaran Wahhabi memang  menimbulkan ketegangan antara pemimpin agama dan pemimpin adat. Pemimpin adat biasanya terdiri dari keluarga Istana Pagarruyung. Pada akhirnya, para pemimpin adat atau penghulu ini memutuskan untuk memberikan dukungan pada Belanda.
Perang Padri berlangsung selama 17 tahun (1821-1838) antara Belanda dan kaum Padri. Kaum Padri dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Belanda pernah kalah dalam pertempuran di Lintau tahun 1823 karena saat itu bersamaan dengan Perang Jawa yang dipimpin oleh Diponegoro (1825-1830). Tahun 1837, benteng kota Bonjol menyerah. Tuanku Imam Bonjol ditangkap dan diasingkan ke Priangan, Ambon, lalu ke Manado. Ia meninggal di Manado tahun 1864.
Dalam pengasingannya di Manado, Tuanku Imam Bonjol sempat menulis sebuah memoar yang dibukukan dengan judul Naskah Tuanku Imam Bonjol. Jeffrey Hadler, seorang pakar masyarakat dan sejarah Minangkabau, pernah menulis esei panjang berjudul A Historiography of Violence dan the Secular State in Indonesia: Tuanku Imam Bonjol and the Uses of History (2008) serta sebuah buku berjudul Muslims and Matriarchs-Cultural (2008). Salah satu sumber Hadler adalah memoar Tuanku. Selain menceritakan awal perjuangannya, termasuk kematian orang kepercayaannya, Datuk Bandaharo, hasil penelitian Hadler yang bersumber dari memoar Tuanku juga menceritakan tentang Tuanku yang limbung saat mengetahui bahwa ajaran Wahhabi yang dianut bersama pengikut-pengikutnya selama ini telah kehilangan kepercayaan di negara asalnya. Kabar ini sampai tatkala kedua sepupunya pulang dari berhaji tahun 1823. Dalam sebuah pertemuan besar, Tuanku menyatakan diri meninggalkan ideologinya selama ini, meminta maaf atas akibat yang ditimbulkan selama perang, dan memberikan ganti rugi.
Tuanku memulihkan kembali keadaan seperti masa sebelum perang. Ia merumuskan sebuah adagium yang terkenal: “adat basandi syarak” dan “syarak basandi adat” yang berarti menjamin bahwa baik hukum Islam maupun adat setempat terkait satu sama lain dan saling bergantung.
Bab kelimabelas menceritakan tentang saudara-saudara Rosihan yang memiliki keterkaitan erat dengan pemerintah kolonial Belanda seperti kakeknya Raden Mohamad Joesoef yang bekerja sebagai stations chef atau kepala stasiun kereta api Staats Spoorwegen (SS) di Padang  dan pamannya Mohamad Joenoes yang mendapat gelijkgesteld atau persamaan hak dengan orang Eropa. Rosihan Anwar juga masih bersaudara dengan Marah Rusli, sastrawan penulis roman Sitti Nurbaya, dan Roestam Effendi, pengarang dan juga orang Indonesia pertama yang dipilih sebagai anggota parlemen Belanda (Tweede Kamer) dari Partai Komunis Belanda.
Bab keenambelas adalah liputan tentang pertempuran besar di Surabaya akhir 1945. Pertempuran legendaris tersebut ternyata tidak hanya berisi perjuangan heroik para pemuda, namun juga banyak terdapat sisi kelam yang mungkin tidak banyak diketahui oleh publik. Dalam masa yang disebut sebagai periode bersiap, atau masa mempertahankan kemerdekaan (1945-1949), orang-orang Belanda ditangkap dan dimasukkan dalam penjara Babutan dan Kalisosok. Sebagian di antaranya dikirim ke rumah bola (societeit). Terjadi banyak penyiksaan dan pembunuhan terhadap orang-orang Belanda. Banyak gadis-gadis Indo yang diperkosa oleh pemuda Indonesia.
Bab ketujuhbelas tentang catatan harian penulis selama enam bulan sejak proklamasi kemerdekaan RI. Ternyata perumusan konstitusi dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan adalah salah satu masa tersulit yang pernah dihadapi republik ini. Bab kedelapanbelas adalah cerita obrolan penulis dengan H. Junus Jahja (Lauw Chuan Tho), keturunan Tionghoa yang berkiprah dalam dunia politik dan agama Islam di Indonesia. Bab terakhir adalah cerita singkat pengalaman Rosihan Anwar bergabung dalam sebuah kelompok sandiwara di zaman Jepang. Lewat bab ini juga saya jadi tahu bahwa selain “sri panggung”, julukan yang biasanya diberikan kepada bintang panggung sandiwara perempuan, ada juga julukan yang diberikan kepada bintang panggung laki-laki, yaitu “raja jin”.
Dari dua puluh bab dalam buku ini, saya memiliki dua bab favorit, yaitu bab keempatbelas dan tujuhbelas. Bab keempatbelas memberikan suatu sisi lain dari perang Padri, sejarah, dan budaya Minangkabau yang selama ini belum saya tahu. Sedangkan bab ketujuhbelas memberikan gambaran kepada saya betapa bersemangat dan optimisnya orang-orang di zaman tersebut. Saya sampai merinding saat membacanya. Para pemimpin kita saat itu beritikad baik dan sungguh-sungguh membangun negeri. Mereka belum ditunggangi oleh individualisme untuk memperoleh keuntungan pribadi. Jika dibandingkan dengan keadaan sekarang, sangat berbeda jauh. Semoga masih banyak pemimpin yang mau bersulit-sulit memikirkan nasib rakyatnya seperti para pendahulu kita di masa enam bulan pasca proklamasi kemerdekaan. Selamat membaca!