Jumat, 15 Maret 2013

PRAMOEDYA MENGGUGAT: MELACAK JEJAK INDONESIA



Buku setebal 407 halaman ini ditulis oleh Prof. Koh Young Hun, seorang profesor berkebangsaan Korea Selatan yang mendalami sastra Indonesia. Gelar doktornya ia dapatkan dengan meneliti karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Buku ini merupakan salah satu karyanya yang juga mengupas karya sang novelis yang, mengutip A. Teeuw, hanya muncul dalam satu generasi atau malah dalam satu abad. Format tulisannya mirip dengan karya ilmiah karena tulisan ini menelaah karya-karya Pram menggunakan pendekatan tertentu dan ada pula batasan masalah.
Prof. Koh memilih 7 novel karangan Pram untuk dijadikan fokus pembahasan karena karya-karya ini dianggap sebagai karya-karya terbesar Pram dan ketujuhnya bisa disebut sebagai novel sejarah. Ketujuh novel tersebut adalah: Tetralogi Bumi Manusia (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca), Arus Balik, Arok Dedes, dan Gadis Pantai. Dua pendekatan dipilih untuk meneliti novel-novel ini, yaitu sosiologi sastra dan pendekatan kemasyarakatan.
Penulisan sebuah karya fiksi tidak bisa dilepaskan dari pengaruh pribadi si penulis termasuk pandangan dan latar belakangnya. Prof. Koh mengerti benar akan hal ini. Oleh karenanya, sebelum membahas tentang karya-karya tersebut, dalam bab-bab awal ia menceritakan kisah hidup Pram, termasuk sepak terjangnya dalam Lekra (lembaga kebudayaan PKI) dan pandangannya tentang kesusasteraan. Dalam hubungannya dengan Lekra, Prof. Koh menekankan berkali-kali bahwa Pram hanya merupakan korban dari PKI. Ia dimanfaatkan oleh petinggi PKI untuk menduduki kursi Lekra karena saat itu Pram dianggap sebagai sastrawan yang berprestasi dan sangat mumpuni. Penyangkalan tersebut menjadi sangat menonjol dan malah membuat pembaca mempertanyakan kemungkinan Pram terlibat sangat jauh dengan PKI.
Kekekeuhan Prof. Koh beralasan karena selama ini Pram dan karya-karyanya dicap sangat “merah” oleh pemerintah Orde Baru dan beberapa karyanya dianggap membawa isu pertentangan kelas. Prof. Koh ingin membuktikan bahwa semua itu tidak tepat dan lewat buku ini ia menunjukkan bukti bahwa isu terbesar yang dibawa sesungguhnya adalah kemanusiaan. Ini ditunjukkan lewat karya-karyanya yang menyoroti keadaan manusia yang tertindas dan menderita. Pram mengemukakan masalah kemanusiaan dalam konteks bagaimana manusia berusaha melepaskan dirinya dari belenggu yang merongrong dirinya. Belenggu itu bisa direpresentasikan oleh berbagai hal, mulai dari kemiskinan sampai dengan budaya.
Pram juga memiliki pandangan pribadi tentang bagaimana sastra seharusnya ditulis. Ia dikenal sebagai pengikut realisme sosialis, sebuah pandangan yang dikemukakan Maxim Gorky, yang merupakan metode dasar satra dan kritik yang menuntut agar para pengarang memberikan perhatian yang setia, penuh kebenaran, dan konkret berdasarkan ideologi, dan latihan para buruh dalam semangat sosialisme (hlm. 68). Oleh karenanya, Pram sangat menentang karya sastra yang hanya menghargai kebahagiaan perseorangan sebagai hasil akhir. Alasan ini jugalah yang membuatnya menentang humanisme universal. Ia sangat menentang sastra yang hanya bersifat fantasi dan tidak mementingkan realitas. Hal ini merupakan representasi dirinya yang sangat sensitif akan perosalan kemanusiaan. Menurut Prof. Koh, hal ini berbeda dengan tujuan komunisme yang berfokus pada pertentangan golongan.
Prof. Koh melalui wawancara yang dilakukannya dengan Pram sebelum meninggal menyimpulkan bahwa Pram sangat terinspirasi oleh gerakan Samin. Gerakan Samin adalah gerakan perlawanan rakyat jelata yang muncul sekitar tahun 1890 di Jawa terhadap kesewenang-wenangan pemerintah Belanda. Ciri khas gerakan ini adalah perlawanan tanpa kekerasan (passive resistance). Orang-orang Samin juga dikenal egaliter. Mereka hanya menggunakan bahasa Jawa ngoko untuk berkomunikasi. Berbeda dengan orang-orang Jawa kebanyakan yang menganut tingkatan bahasa. Dua hal ini terlihat jelas termanifestasikan dalam karya-karya Pram. Tokoh Minke bisa dijadikan sebagai contoh. Ia berjuang dengan menulis dan menerbitkan harian berbahasa Melayu untuk menyadarkan bangsanya atas ketertindasan yang telah mengakar selama ratusan tahun. Minke juga menolak tradisi Jawa yang memposisikan manusia berdasarkan kasta.
Dalam hal ini, Pram dikenal keras menentang feodalisme budaya Jawa yang mengungkung dan tidak membebaskan individu untuk berkarya dan berusaha mengubah keadaan. Berubahnya keadaan bagi masyarakat Jawa dianggap dapat merusak keseimbangan kosmos. Kepercayaan ini membuat masyarakat Jawa terbatas inisiatifnya untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik dan cenderung menerima keadaan. Tokoh Minke dalam Bumi Manusia yang telah mengenyam kebudayaan Barat dan berasal dari keluarga priyayi menyadari kekurangan ini. Ia tergerak untuk mengubah nasib bangsanya yang terjajah. Pertama-tama yang harus dilakukan adalah menyadarkan mereka. Dan ia memilih bidang penulisan sebagai jalan perjuangannya. Ia didukung oleh seorang tokoh wanita bernama Nyai Ontosoroh, seorang wanita korban feodalisme dan kolonialisme. Saat remaja ia dijual oleh sang ayah pada pejabat Belanda untuk dijadikan gundik. Selama menjadi gundik itu ia dikenalkan dengan pendidikan Eropa oleh sang pejabat Belanda, Herman Mellema. Pada akhirnya, Nyai Ontosoroh muncul sebagai wanita pebisnis sukses dan berpengaruh.
Minke juga mengembangkan jalan perjuangannya dengan membentuk sebuah organisasi modern pribumi yang pertama. Ia menamainya Sarekat Islam. SI berbeda dengan organisasi pribumi sebelumnya karena ia tidak membatasi diri untuk kalangan tertentu. Ia merangkul semua suku dan bangsa yang ada di Hindia Belanda. Ia juga tidak terbatas hanya pada golongan priyayi. Perjuangan Minke ini memang berakhir tragis dengan kematiannya. Namun Pram telah menunjukkan peran seorang pribumi Indonesia yang telah mengenyam pendidikan Barat namun memilih untuk melawan kolonialisme yang seharusnya bisa memberinya kenyamanan. Novel sejarah ini berbeda dengan novel-novel sebelumnya karena menyajikan 4 hal yang berbeda: citra pemberontakan atas kekuasaan kolonial, warisan budaya bangsa, gerakan kebangkitan bangsa, dan peranan wanita dalam peralihan zaman (hlm. 89).
Dalam menyikapi novel sejarah, pembaca besar kemungkinannya tidak menemukan cerita yang sama persis dengan fakta sejarah karena novel sejarah tetaplah sebuah novel yang memuat sebuah alur cerita fiksi. Penulis bebas untuk menyajikan tokoh-tokoh rekaan yang sesuai dengan zaman tersebut ataupun tokoh-tokoh nyata dari zaman tertentu. Namun penulis tetaplah memiliki misi yang ingin disampaikannya. Begitu pula Pram dan novel-novel sejarahnya. Yang terpenting dalam novel sejarah adalah ceritanya mampu membawa pembaca seolah-olah merasakan masa atau zaman di mana cerita tersebut menjadi latar belakang. Dalam Arok Dedes, Pram menyoroti proses penggulingan kekuasaan Akuwu Tumapel Tunggul Ametung oleh Ken Arok. Kisah tersebut menurut Pram adalah kudeta pertama dalam sejarah Indonesia. Lewat kelicikan dan pengorganisasian massa, Ken Arok menggulingkan sang Akuwu lewat tangan Kebo Ijo. Sang Akuwu tewas di tangan Kebo Ijo. Apabila dilihat lebih seksama, cerita Arok Dedes adalah representasi dari kudeta September 1965 ketika kekuasaan beralih dari Soekarno ke Soeharto. Adanya kelicikan, strategi, pengorganisasian massa, dan pertumpahan darah sama dengan peristiwa September 1965.
Novel sejarah Pram yang lain adalah Arus Balik. Novel ini menyoroti kehancuran kekuasaan laut Nusantara karena kedatangan bangsa Eropa dan dimulainya episode awal kolonialisme Eropa di Nusantara. Pram percaya bahwa bagi Nusantara, laut memiliki posisi yang lebih penting daripada darat. Sayangnya, raja-raja Nusantara lebih mementingkan kepentingan sendiri dan tidak menghiraukan bahaya Eropa yang mulai mendekat. Raja-raja terebut peragu karena terlalu setia pada dasar-dasar lama. Mereka kemudian tak kuasa untuk membendung hal-hal baru yang datang secara bersamaan. Inilah kunci kehancuran kerajaan Nusantara. Akibatnya, semakin jarang kapal-kapal Nusantara yang berlayar ke Utara. Sebagai gantinya, makin banyak kapal-kapal dari Utara yang masuk ke Nusantara membawa barang-barang dan ide-ide baru.
Gadis Pantai adalah representasi Pram tentang feodalisme Jawa yang tidak berpihak pada rakyat kecil dan wanita. Novel ini menggambarkan posisi perempuan dalam budaya feodal Jawa. Kalangan priyayi sering mengambil perawan dari kalangan rendah untuk dijadikan istri sementara sebelum si priyayi mendapatkan istri sebenarnya yang berasal dari golongan yang sama. Setelah menemukan istri dari strata yang sama, perempuan jelata tersebut akan dikembalikan ke orang tuanya. Perempuan dalam budaya Jawa, utamanya perempuan melarat dan dari kalangan rendahan, hanya dianggap sebagai benda. Gadis Pantai Pram adalah potret wanita dengan segala keterbatasannya yang mencoba untuk melawan budaya feodal tersebut. Ia sering mempertanyakan ketidakadilan yang terjadi antara sang Bendoro dengan bapaknya di kampung nelayan, maupun antara dirinya setelah tinggal di rumah sang Bendoro dengan mbok embannya. Gadis Pantai memang tak kuasa mengubah sistem yang sudah mendarah daging di masyarakatnya, namun ia melawan melalui penolakannya untuk bersifat dan bertingkah sama seperti masyarakat kebanyakan.
Sosoknya memang berbeda dengan Nyai Ontosoroh yang berinisiatif untuk membebaskan dirinya dari pandangan remeh orang-orang di sekitarnya. Nyai Ontosoroh menenggelamkan sebutan gundik dengan tampil menjadi seorang pebisnis sukses dan wanita yang berpengaruh. Sedangkan Gadis Pantai bersikap pasrah pada keadaan yang tidak adil. Ia terus hidup dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak ia temukan jawabannya.
Dalam novel-novel Pram, Prof. Koh menemukan gambaran nyata masyarakat Indonesia yang jejaknya dapat ditelusuri sejak ratusan tahun silam. Di dalamnya ternyata ada banyak ketimpangan namun Pram menggambarkan bagaimana di setiap zaman ada saja orang-orang yang bertekad kuat dan berjuang memperbaiki ketimpangan tersebut. Beberapa di antaranya kalah dan tak berhasil sedang beberapa yang lain mampu membawa masyarakat zamannya merasakan perbedaan yang selangkah lebih maju. Namun semuanya telah mencoba. Tidak ada tokoh-tokoh utama  Pram yang pasif dengan keadaan sekitar. Dinamika sejarah Indonesia memang dibentuk oleh orang-orang bertekad kuat seperti tokoh-tokoh Pram. Oleh karenanya, novel-novel Pram dapat dikatakan sebagai representasi masyarakat Indonesia dari zaman ke zaman. 

2 komentar:

Dasman Djamaluddin mengatakan...

DI BALIK NOVEL PRAM YANG GAGAL MERAIH NOBEL KESUSATRAAN

Minggu pagi, 30 April 2006, Pramoedya Ananta Toer, salah seorang pujangga besar Indonesia, menghela nafas terakhirnya pada pukul 08.55 WIB, di usia 81 tahun dan jenazah disemayamkan di kediamannya Jalan Multikarya II No.26, Utan Kayu Jakarta Timur.

Pram sebutan khasnya sehari-hari, lahir di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925. Secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia . Pram telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.

Nama aslinya sebagaimana diungkapkan dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul “Cerita Dari Blora,” adalah Pramoedya Ananta Mastoer. Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa "Mas" dari nama tersebut dan menggunakan "Toer.”

Mengangkat kembali masalah Pram ke permukaan bukan dikarenakan saya adalah alumnus SMA di Kabupaten Blora, tetapi lebih dikaitkan karena seorang penulis dan peneliti yang menetap di Amsterdam, Joss Wibisono di dalam Majalah Tempo edisi 7,13 Oktober 2013 mengungkap kembali kenapa para Sastrawan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, di mana Novel Pram berjudul “Tetrologi Buru,” yang dinominasikan meraih Nobel Kesusastraan bisa gagal.

Dalam hal ini Joss Wibisono mengutip Benedict Anderson, Guru Besar Universitas Cornell di New York, Amerika serikat dalam artikelnya “The Unrewarded” (Yang Tak Teranugerahi) di “New Left Review 80, “edisi Maret-April 2013. “Kelemahan panitia Nobel Kesusastraan di Stockholm, Swedia,” ujar Ben Anderson adalah kunci utamanya.”Terabaikannya Asia Tenggara jelas merupakan kelemahan dan sekaligus titik buta panitia Nobel,” tegasnya.

Diakui Ben Anderson, para Sastrawan Asia memang pernah meraihnya, semasa Rabindranath Tagore dari India. Tetapi India pada tahun 1913 itu masih jajahan Inggris. Belum sepenuhnya mewakili India. Permasalahan penterjemahan juga menjadi kendala utama. Terjemahan Novel Pram, “Tetrologi Buru,” ke dalam bahasa Inggris, roh kesusatraannya hilang begitu saja. Boleh dikatakan terjemahannya jelek. Kesimpulannya bangsa Indonesia yang juga merupakan negara jajahan Belanda, tidak bernasib sama dengan negara-negara jajahan lain. Negara Prancis, Inggris dan Spanyol telah melakukan lobi untuk sastrawan negara bekas jajahan mereka.Tetapi Belanda?

Tetapi perkembangan di Indonesia ada yang mengkaitkan bahwa pemerintah Indonesia tidak bersungguh-sungguh mendukung Novel Pram dikarenakan masa lalu Pram yang diduga terlibat Partai Komunis Indonesia sehingga dibuang ke Pulau Buru. Memang Novel “Tetra Buru”, atau “Tetra Pulau Buru,” atau “Tetralogi Bumi Manusia,” adalah nama dari empat Novel karya Pram yang terbit dari tahun 1980 hingga 1988. Novel ini pernah dilarang peredarannya oleh Jaksa Agung Indonesia selama beberapa masa. Menurut saya, sebaiknya ketika Novel Pram dinominasi, pemerintah mendukung hal tersebut. Saya berkesimpulan, banyak faktor yang mempengaruhi mengapa Novel Pram gagal meraih Nobel Kesusatraan, baik dari jeleknya penterjemahan sebagaimana diungkap Ben Anderson, kemauan negara penjajah Belanda melobi Komite Nobel hingga dukungan pemerintah Indonesia sendiri terhadap Novel Pram.(http://dasmandj.blogspot.com)

nonick mengatakan...

Terima kasih untuk komentarnya, Pak. Alasan kenapa Pramoedya tidak mendapatkan Nobel ulasan Bapak sangat menarik karena merupakan sebuah isu paskakolonial. Ternyata ada fakta bahwa dalam dunia kesusasteraan yang selama ini dijadikan sandaran untuk mengkampanyekan humanisme dan keadilan, masih ada saja pandangan melecehkan pada karya-karya kesusasteraan dari bekas negara-negara jajahan. Mungkin bahasa hasil terjemahan bisa dijadikan alasan. Namun, banyak juga sastrawan-sastrawan yang menerima Nobel dari negara-negara non bahasa Inggris seperti Elexander Solzhenitsyn dan Gunter Grass.