Sabtu, 12 November 2016

ARE YOU FEELING LIKE IN A SERENDIPITOUS MOMENT?

Malam Sabtu hujan rintik-rintik mengguyur Wates, kota kecil tempat saya berasal. Cuaca yang tepat untuk tidur sambil memeluk guling dan dihangatkan oleh selimut tebal. Sayangnya mata belum ngantuk. Akhirnya saya membongkar file-file film simpanan di hardisk. Mencari satu film yang saya harap bisa ditonton sampai merasa ngantuk. Saat scrolling ke bawah, pandangan saya berhenti di Serendipity (2001), sebuah film romantis yang ceritanya berisi rangkaian kebetulan manis yang akhirnya menyatukan dua pemain utamanya. Tipikal film romantis Hollywood pokoknya. 

Akhirnya film tersebut menjadi pilihan untuk ditonton. Mengapa? Jangan tanya. Saya juga tidak tahu. Mungkin saya merasa pilihan saya malam ini akan menjadi serendipity, sebuah kebetulan yang menyenangkan juga. Entahlah. Pada akhirnya saya kembali menonton film yang berdurasi kurang lebih satu setengah jam ini dan pandangan saya terhadap film ini jadi berubah.

Sebelum membahas perubahan pandangan, saya perlu mengatakan bahwa alasan saya masih manyimpan film ini di hardisk adalah bukan karena ceritanya yang bagus, namun karena efek John Cusack. Yup! Saya pernah nonton film-film John yang jauh lebih bagus dari Serendipity, seperti Being John Malkovich dan Say Anything. Di antara ketiga film tersebut, sayangnya John nampak paling ganteng saat berada di Serendipity. Ia sedang berada di rentang usia paling matang seorang laki-laki. Itu sebabnya dia kelihatan sangat menarik. Saya bersyukur karena setelah nonton ulang film ini untuk mungkin yang ke-3 kali malam ini, John Cusak ternyata masih ganteng. Sayangnya, ceritanya kok masih tetap lame. Saya anti dengan film romantis yang ceritanya menye-menye. Saat biasanya teman saya merasa baper melihat film romantis, respon saya biasanya sangat sarkastik. Anehnya, malam ini saya malah jadi memikirkan konsep serendipity yang menjadi inti film ini.


                                
Konon katanya, setiap kita membaca kembali buku atau menonton ulang film, kita akan mendapatkan sesuatu yang baru yang belum pernah ditemukan di proses-proses sebelumnya. Saya memang merasa ada yang berubah tentang cara saya melihat film ini, terutama dalam proses memahami kembali judulnya.  

Serendipity, yang artinya saya singgung sedikit di awal tulisan, mengacu pada kebetulan-kebetulan yang berujung pada kebahagiaan atau keberuntungan. Singkatnya, kebetulan yang manis. Poin yang ingin saya garis bawahi adalah bahwa mungkin selama ini kita terlalu terbagi menjadi dua golongan, yang percaya bahwa semua yang terjadi pada hidup ini sudah diatur dan yang percaya bahwa hidup merupakan serangkaian kebetulan-kebetulan. Determinism vs free will. Oposisi biner ini tidak meninggalkan ruang lain selain hitam dan putih. Saya juga awalnya berpikir begitu. Lebih sering saya condong ke determinisme walaupun dalam merespon beberapa kasus, saya pernah juga menjadi penganut free will, namun tak pernah di tengah-tengah.

Malam ini saya jadi berpikir bahwa mungkin saja kehidupan manusia itu berada di antara determinism dan free will. Hidup ini berisi segala sesuatu yang sudah digariskan, sekaligus juga bertemunya kebetulan-kebetulan yang tidak bermakna. Ambillah contoh ekstrim dari Sara Thomas dan Jonathan Trager di film Serendipity. Apa sih makna penting dari dua orang yang tidak sengaja mengambil sarung tangan secara bersamaan di sebuah toko dan kemudian ngobrol lalu jatuh cinta? Tidak ada. Di suatu tempat mungkin ada orang yang bertabrakan di belokan yang juga merupakan sudut sebuah gedung dan ternyata keduanya kembar yang terpisah. Atau seseorang yang meludah dari lantai dua sebuah apartemen dan terkena orang yang sedang melintas di bawahnya yang kebetulan kepala sekolahnya. Apa arti dari kejadian-kejadian abstrak macam ini yang mungkin juga terjadi di peradaban lain yang berada di planet dan galaksi yang lain dari kita? Ada milyaran, mungkin triliunan kejadian abstrak yang remeh temeh terjadi di seluruh dunia per menitnya. Apa artinya? Tidak ada. Karena hampir semua individu mengalaminya dalam bentuk yang berbeda-beda. Tidak ada yang spesial. Semuanya terjadi saja. 

Namun, perlu untuk diketahui bahwa satu kejadian abstrak tadi pasti akan diikuti dengan konsekuensi, yaitu kejadian yang terjadi selanjutnya. Apabila Anda melakukan A, konsekuensinya adalah B, dan seterusnya. Rangkaian kejadian-kejadian tersebut lalu membuat kita melihat bahwa terdapat pola di dalamnya. Sesuatu yang berpola, yang terangkai, tentu saja terlihat seperti direncanakan. Kita akan mulai berpikir bahwa tidak mungkin sesuatu yang berpola seperti kehidupan tidak ada yang mengatur. Terlalu banyak isi dunia. Kalau semua itu dibiarkan dan tidak diatur, tentu semuanya akan saling bertubrukan.

Perlahan, kalian mulai memikirkan konsep determinism dan free will tadi. Tidak mungkin segalanya sepenuhnya berdasarkan free will karena pasti dunia akan kacau. Di sisi yang lain, sulit rasanya mengatakan bahwa kehidupan ini segalanya sudah ditentukan dan kita hanyalah robot.  

Kemudian muncullah kata “serendipity” yang sebenarnya bisa menjadi abu-abu di antara hitam dan putih. Serendipity menjadi serangkaian kebetulan abstrak namun memiliki arti seolah ada yang telah mengaturnya. Arti tersebut bisa didefinisikan sebagai kebahagiaan maupun kesedihan. Saya ulangi. Mungkin hidup ini hanyalah sejumlah kejadian yang tak bermakna, namun ketika dirangkai bisa menjadi sesuatu yang memiliki arti. Bisa jadi arti yang mengandung kebahagiaan atau kesedihan. Tidak masalah. Itu hanya perspektif. Ambil contoh Sara dan John yang bahagia karena berbagai kejadian abstrak tak berarti yang terjadi pada kehidupan mereka menuntun keduanya untuk bersatu. Tapi jangan lupakan bekas calon istri John dan mantan pacar Sara. Mereka pasti sedih dan kecewa. Sekali lagi, perspektif.

Jadi, sulit rasanya mengatakan bahwa hidup ini adalah melulu soal sudah ada yang mengatur atau rangkaian kejadian abstrak. Lebih mudah saat mulai memahaminya dengan mengambil jalan tengah. 

Sumber gambar: https://www.rottentomatoes.com/m/serendipity/