Selasa, 08 November 2016

REVIEW AMATIR DOCTOR STRANGE

Tepat seminggu yang lalu, 1 November 2016, akhirnya saya bisa nonton Doctor Strange di bioskop setelah sebelumnya dipameri beberapa teman yang bernasib baik menontonnya terlebih dahulu. Mengapa mereka harus pamer? Karena saya adalah salah satu Cumberbitches (sebutan untuk fans Benedict Cumberbatch) dan entah kenapa teman-teman saya merasa perlu untuk membuat saya menderita selama beberapa hari sebelum akhirnya saya bisa meluapkan kebahagiaan karena bisa nonton wajah Ben yang terpampang besar di layar bioskop. Terakhir saya nonton Ben di bioskop adalah saat The Imitation Game masih booming, yaitu tahun 2014. Sudah cukup lama.

Kebetulan radio tempat saya bekerja dekat lokasinya dengan Bioskop Empire XXI di Jalan Solo sehingga saya hanya perlu berjalan kaki ke sana dan membeli tiket seharga Rp 35.000,00. Saya tidak tahu sama sekali kalau di bioskop tersebut tidak terdapat 3D. Di Jogja, XXI Empire 3D tersedia di Jogja City Mall yang terletak di Jalan Magelang. Maklum saya jarang nonton bioskop jadi tidak hapal. Hahaha. Saya memilih duduk di baris A yang berarti adalah baris paling belakang atau paling jauh dari layar bioskop. Sengaja saya tidak membeli makanan di kantin bioskop atau menyelundupkan makanan yang dibeli dari luar saat menonton Doctor Strange. Untuk film-film tertentu, saya adalah tipe penonton serius yang tidak menolerir sedikit pun gangguan, termasuk suara rahang sendiri saat mengunyah snack.

Film dibuka dengan cukup keren. Sepuluh menit pertama, saya melihat adu kekuatan The Ancient One (Tilda Swinton) dan Mads Mikkelsen (Kaecilius) yang mampu membuat gedung-gedung bergerak dan berubah dimensinya dengan sangat epik dan apik. Memang ternyata mirip Inception seperti yang dikatakan review-review tapi kali ini dalam level yang berbeda. Frekuensi perubahannya lebih intens dan penonton diajak berasumsi bahwa hal tersebut terjadi di kehidupan nyata, bukan dalam pikiran seperti Inception. Hal itulah yang membuat perubahan dimensi pada gedung-gedung pencakar langit di Doctor Strange tampak lebih keren daripada di Inception.

Scene selanjutnya menurut saya berfungsi untuk memperkenalkan siapa Stephen Strange sebelum berubah menjadi superhero bernama Dr. Strange. Intinya dia adalah dokter neurosurgeon, dokter ahli bedah otak dan syaraf, yang selain jenius dan memiliki photographic memory alias bisa mengingat dengan detil hal-hal yang dilihatnya, juga memiliki keterampilan tangan yang mengagumkan saat melakukan tindakan operasi. Keterampilan ini adalah keahlian kunci bagi seorang neurosurgeon mengingat rumitnya materi yang mereka tangani dalam operasi, syaraf dan otak. Sayangnya, semua kelebihan tersebut membuatnya arogan. Sampai kemudian ia mengalami kecelakaan yang meremukkan tangganya. Ia harus hidup dengan platina yang tertanam di tangannya yang membuatnya tidak mungkin lagi melakukan operasi a.k.a. hancurlah karir yang ia banggakan selama ini.

Scene pengenalan tersebut sedikit mengingatkan saya pada Sherlock Holmes, karakter yang juga diperankan Ben. Bedanya, Stephen Strange sedikit ceroboh sedangkan Sherlock tak akan pernah membiarkan dirinya mengalami kecelakaan fatal seperti Strange.
Ben memainkan perannya dengan bagus sekali di bagian tersebut. Film-film superhero biasanya akan membuat kita terbelalak pada kecanggihan teknologi yang dipakai dan rumitnya setting tempat sehingga kualitas akting pemainnya dinomorsekiankan. Doctor Strange berbeda. Saya mengamini kualitas akting Ben terutama saat scene di mana Strange ditemui oleh Christine Palmer (Rachel McAdams), rekan sekaligus mantan kekasihnya, di dalam apartemennya yang nyaris kosong. Dalam scene tersebut, Strange meluapkan amarah dan keputusasaan atas nasibnya.

Strange mencari dan menempuh segala cara untuk bisa mengembalikan tangannya ke kondisi semula. Usaha itu pada akhirnya membawa Strange ke Kathmandu, Nepal dan bertemu dengan The Ancient One (Tilda Swinton). Strange belajar soal mysticism dengan bimbingan langsung dari The Ancient One sekaligus otodidak lewat buku-buku yang dibacanya. Karena dari pabrikannya Strange memang sudah jenius, cepatlah dia menyerap segala ilmu yang dipelajarinya. Strange kemudian diangkat menjadi salah satu master, sebutan bagi penjaga dunia dari dimensi gelap yang dikendalikan Dormammu. Dormammu ini tidak berbentuk. Dalam film, ia digambarkan sebagai bola raksasa berwarna campuran biru, ungu, dan perak. Strange kemudian membuktikan kualitas kemampuannya saat melawan Kaecilius, sekutu Dormammu, yang mencoba mengobrak-abrik ruang dan waktu di dunia.

Dari segi cerita, Dr.Strange ini plotnya biasa saja: ada seseorang yang memiliki masalah pelik mencoba mencari jalan keluar, namun akhirnya ia malah menemukan akses pada kekuatan tertentu dan tokoh lain yang membuatnya menjadi superhero dan menolong banyak orang. Biasanya cerita superhero yang saya tonton seperti itu. Yang berbeda kali ini tentu saja visual effects keren yang sudah saya singgung di awal. Kalau visual effects di awal hanya berlangsung selama beberapa menit, dalam duel antara The Ancient One vs Kaecilius dan Kaecilius vs Dr. Strange, kalian akan menemukan lebih banyak scene yang sukses membuat awestruck alias melongo. Jadi, kesimpulan awalnya, walaupun plotnya mirip, Doctor Strange tidak seperti film-film superhero yang lain berkat adanya konsep visual effects yang berbeda, baru, dan keren!

Walaupun banyak istilah baru untuk saya (saya bukan pembaca komik superhero Marvel) yang digunakan untuk menyebut konsep kekuatan Doctor Strange dan kekuatan mistis lainnya, film ini tidak terjebak terlalu lama untuk menjelaskan bagaimana cara kerja kekuatan tersebut. Saya belajar sambil jalan karena beberapa penjelasan kadang-kadang sudah tersampaikan lewat aksi tokoh-tokohnya. Contohnya adalah konsep kekuatan Strange dan kekuatan Dormammu. Kekuatan mereka bisa saya mengerti saat Strange menjebak Dormammu dalam periode waktu tertentu yang ia setting agar terjadi berulang kali. Dari situ saya tahu bahwa di dunia Dormammu, konsep waktu tidak terbatas, endless. Cara bercerita yang efektif.

Seperti halnya film superhero, Docor Strange juga tidak selamanya serius. Kalian akan menemukan beberapa scene yang sukses mengocok perut. Saya punya beberapa favorit. Pertama, saat Master Mordo (Chiwetel Ejifor) menyerahkan lembaran bertuliskan “Shamballa” pada Strange. Melihat wajah Strange yang serius, Mordo menjelaskan bahwa tulisan tersebut bukanlah mantra seperti yang dipikirkan oleh Strange, namun hanyalah password wifi. Kedua, saat Strange bingung dengan nama Master Wong yang hanya terdiri dari satu bagian, “Wong”, saat mereka berkenalan. Ia mencoba membandingkannya dengan nama-nama selebritis seperti Beyonce, Adele, dan Bono yang juga hanya terdiri dari satu bagian. Wong bingung karena tidak mengerti nama-nama tersebut. Dulu saya pernah melihat meme yang mengatakan bahwa humor-humor Marvel seperti inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Marvel lebih unggul dari DC. Untuk bisa mengamininya, saya sepertinya perlu lebih sering menonton film-film Marvel dan DC.

Selain Benedict Cumberbatch yang berakting keren, akting Tilda Swinton sebagai The Ancient One juga layak dipuji. Selain karena kontur muka Tilda yang unik cenderung aristokrat, ketenangannya sebagai The Ancient One membuatnya menjadi sosok yang paling saya ingat ketika meninggalkan bioskop. Ia adalah karakter yang karismanya sangat terlihat di Doctor Strange, bahkan melebihi Ben menurut saya. Padahal, pemilihan Swinton sebagai karakter The Ancient One sempat menuai kontroversi. The Ancient One seharusnya adalah biksu dari Kathmandu yang memiliki wajah Asia seperti yang digambarkan di komik Doctor  Strange karya Steve Ditko. Namun, The Ancient One dalam film Doctor Strange digambarkan sebagai seorang Celtic. Akan tetapi, walaupun ada isu tentang whitewash, kalian yang melihat film tersebut pasti setuju dengan saya kalau Swinton memerankan karakternya dengan baik kalau tidak dibilang sempurna.

Chiwetel Ejiofor, Benedict Wong, serta Mads Mikkelsen yang memerankan supervillain Kaecilius memerankan bagiannya dengan baik walaupun tidak bisa dibilang berkharisma seperti The Ancient One. Soal Kaecilius, saya merasa peran dia sebagai lawan Doctor Strange kurang ditonjolkan. Tidak seperti Batman vs Joker atau Thor vs Loki, ketegangan dan rasa saling benci di antara Strange dan Kaecilius tidak terlalu nampak, kalaupun memang ada. Padahal, sewaktu jadi musuh James Bond di Casino Royale, karakter Le Chiffre yang diperankan Mikkelsen bisa sangat apik menjadi musuh utama Bond yang energi dan kecerdikannya hampir sepadan.

Hal lain yang menarik dalam Doctor Strange adalah adanya Stan Lee di salah satu scenenya. Stan Lee memang terkenal sering muncul menjadi cameo di film-film superhero Marvel. Walaupun pencipta Doctor Strange adalah Steve Ditko, Stan Lee tetap nongol di film tersebut. Ia menjadi seorang kakek yang sedang membaca koran di dalam bus yang busnya hampir ditabrak oleh Strange dan Kaecilius saat mereka bertarung. Sepanjang film, saya cenderung tenang, namun saat scene tersebut, saya tidak bisa menyembunyikan keterkejutan itu sehingga berteriak, “Stan Lee!”.

Jadi, bagi yang belum menonton Doctor Strange, saya sarankan segera kunjungi bioskop-bioskop terdekat di kota Anda sebelum filmnya turun. Saya sarankan, tontonlah yang versi 3D. Nggak nyesel. Walaupun secara plot biasa saja, kalian tidak akan kecewa dengan visual effectsnya, akting Tilda Swinton, dan tentu saja Benedict Cumberbatch yang keberadaannya tidak hanya sekelebat seperti Stan Lee namun hampir sepanjang film!

Sumber foto: http://marvel.com/doctorstrangepremiere

Rabu, 02 November 2016

PRIA-PRIA IDOLAKU

Tiap perempuan sepertinya punya tipe pria idaman nan ideal yang biasanya mereka temukan pada sosok selebritis. Sebenarnya bisa juga ditemukan di profesi-profesi lain, namun sepertinya selebritis merupakan profesi yang paling banyak dijadikan rujukan. Kemungkinan besar karena selebritis selalu menjaga penampilan dan imej mereka di masyarakat. Mereka kemudian menjadi sosok nyaris tanpa cela yang diidolakan banyak orang sekaligus sulit dijangkau. Alasan terakhir itulah juga mungkin yang membuat kita seringnya hanya menerima hal-hal positif saja dari para selebritis. 
Ngomong-ngomong soal pria ideal, sejak SD sampai sekarang, saya punya sejumlah sosok pria idaman yang beberapa di antaranya masih saya idolakan sampai saat ini. Berikut ini adalah daftar pria-pria ideal versi saya yang pernah dan beberapa di antaranya masih mampu membuat histeris tiap kali saya melihat atau membaca sesuatu yang berhubungan dengan mereka. Daftar ini urutannya saya susun secara diakronik. 

1. Billy Gilman 


Mas “One Voice” ini pernah mengisi hari-hari saya saat SD. Waktu itu saya berlangganan majalah Bobo dan Bobo beberapa kali mengulas profil Billy lengkap dengan lirik dari satu atau dua lagu yang dinyanyikannya. Yang paling saya ingat tentu saja “One Voice”. MTv sering memutar lagunya. Saat itu adalah periode awal di mana saya sedang getol belajar bahasa Inggris. Lagu Billy memberikan semangat untuk belajar walaupun liriknya sulit dipahami kala itu. 
Selain Billy, masa itu adalah masa di mana saya mengenal nama-nama seperti Devon Sawa dan Macaulay Culkin gara-gara menonton Casper dan Home Alone. Kala itu saya dan teman-teman main di sekitar rumah, semua perempuan, pernah patungan untuk nonton Casper di salah satu rental VCD yang ada di samping palang perlintasan kereta api di Wates. Kami nonton berlima dan terpana saat Devon Sawa muncul. Padahal adegan di mana Devon muncul hanya berlangsung selama kurang lebih 10 menit. Namun ternyata sensasinya bisa bertahan cukup lama. Tidak terlalu lama saya mengidolakan dua orang tadi dibandingkan Billy. Saya juga tidak tahu kenapa bisa suka Billy cukup lama. Padahal selain “One Voice”, hanya 1 atau 2 lagu yang saya tahu darinya. Mungkin karena ia terlihat sangat imut dalam foto-foto yang ada di Bobo. Ada versi saat sebelum, sedang, dan sesudah ia memakai kawat gigi. Entah ke mana  sekarang Bobo edisi-edisi Billy Gilman yang dahulu sangat saya sayang dan sering buka hanya untuk melihat wajahnya. Tapi hal utama yang sangat penting dari Billy tentu saja suaranya yang ajaib. Tipikal suara merdu anak-anak yang pastinya juga disukai oleh anak-anak semacam saya kala itu. 
Teman-teman SD saya tidak terlalu banyak tahu tentang Billy Gilman, apalagi mengidolakannya. Mereka lebih fasih berbicara penyanyi anak-anak yang sering mereka lihat di Tralala Trilili, Cilukba, serta Bando Ya Ampuuuunnn (eh kalian masih pada inget nggak sih?). Tentu saja saya juga sering nonton acara-acara tersebut tetapi entah kenapa saat itu saya sangat suka sekali pada Billy. Satu-satunya teman seumuran yang bisa diajak ngobrol soal Billy adalah teman saya yang bernama Ellen. Dia sekolah di SD yang berbeda namun kami bertemu saat lomba bahasa Indonesia. Saat itu kami kenalan dan ngobrol-ngobrol soal Billy. Sumber utamanya apa lagi kalau bukan Bobo. 

2. Mark Feehily 


Setelah periode Billy Gilman berakhir dalam hidup saya, saya beralih menyukai boybands. Sebuah hal yang wajar mengingat saya saat itu mulai beranjak remaja dan tidak lagi cocok ketika membaca Bobo apalagi mendengar lagu anak-anak. Saya mulai rutin membeli majalah remaja seperti Kawanku dan Aneka Yes, kadang-kadang Gadis. Dari situlah kemudian saya tahu boybands semacam N’SYNC, Backstreet Boys, dan Westlife. Kebetulan tetangga saya yang sudah SMA sering meminjam majalah milik saya dan ia memberi tahu banyak hal soal boybands tersebut, juga informasi tentang selebritis dari luar negeri. Saat mulai meninggalkan tontonan acara musik anak-anak, saya pun punya gantinya, MTv. Saat itu MTv benar-benar surga dunia karena banyak acara-acara keren yang mengulas musik dan selebritis internasional. Dulu saya sangat suka MTv Asia Hitlist dan Triple Play. VJ Greg Utt dari Thailand adalah VJ favorit saya kala itu karena ganteng dan kocak. Dari situlah saya semakin tahu Westlife yang lagu-lagunya merajai tangga lagu di Asia. Kemudian saya jatuh cinta dengan para personilnya yang saat itu menurut saya sangat sempurna: tubuh tinggi, kulit putih, mata biru atau hijau, serta suara merdu). Di antara kelima personil tersebut, saya paling suka Mark Feehily. Saat itu ia terlihat sangat imut dengan rambut hitam, pipi merah, alis panjang aduhai, mata biru, dan gigi kelinci. Ia juga punya suara yang bagus dan paling sering mengisi vokal setelah Shane Filan. Mark juga merupakan satu-satunya personil Westlife yang tidak suka menari dan tidak luwes ketika melakukannya. Entah kenapa fakta tersebut malah membuat saya makin menyukainya. Saya juga masih ingat urutan personil dari yang paling saya sukai di Westlife: Mark Feehily, Bryan McFadden, Shane Filan, Nicky Byrne, dan Kian Egan. 
Sejak itu saya sering mengumpulkan memorabilia yang berkaitan dengan Westlife mulai dari kaset, CD, poster sampai kaos dan gantungan kunci. Saya hapal dengan semua lirik lagu mereka karena tiap pulang sekolah selalu saya dengarkan. Dinding kamar saya penuh tertutup dengan poster Westlife. Semua anggota keluarga dan teman tahu kalau saya pengemar berat mereka. Budhe saya bahkan menghadiahi kaos Westlife saat ulang tahun saya yang ke-12 atau 13 . 
Mereka juga tahu kalau saya paling suka dengan Mark. Mark Mark Mark. Pikiran saya kala itu penuh dengan bayangan tentang personil Westlife tersebut. Saya bahkan berencana pergi ke Sligo, kota tempat ia berasal di Irlandia, kalau sudah bekerja nanti. Mungkin saya bisa berkenalan dengan keluarganya dan akhirnya menikah dengannya. Benar-benar pikiran liar khas anak remaja yang kalau diingat-ingat sekarang membuat malu, begidik, dan membatin “kok bisa ya?”. Pada akhirnya keinginan gila tersebut memang tidak akan terjadi mengingat Mark adalah seorang gay. Kegilaan tersebut untungnya hanya bertahan sampai saya kelas 2 SMP. 

3. Nicholas Saputra 
Nicholas Saputra punya tempat yang spesial dalam kehidupan saya. Ia adalah satu-satunya cowok Indonesia yang bisa saya idolakan selama 13 tahun tanpa jeda. Karakternya sudah bersinonim dengan cowok keren impian. Perempuan mana coba yang bisa tidak jatuh cinta dengan sisi dingin dan misterius dari si pemilik sepasang mata elang? Itu yang pertama kali saya lihat dari Nico saat menonton AADC pertama kali saat kelas 3 SMP. Adakah yang bisa melupakan lirikan Rangga saat duduk di perpustakaan sambil memegang Akunya Sjumandjaja? Sejak saat itu sampai sekarang, informasi apapun yang berhubungan dengan laki-laki ini, saya selalu bahagia untuk mengetahuinya. Ia memang selebriti yang sangat tertutup dan pelit soal kehidupan pribadinya (udah liat kan isi IGnya?). Ia juga hemat omong walaupun kata orang-orang di lingkaran terdalamnya, ia bisa sangat lucu dan cerewet. Hal ini membuat ia makin misterius dan membuat penasaran. 
Ia juga merupakan aktor yang serius. Film-filmnya selalu berbobot karena ia terkenal tidak sembarangan dalam mengambil peran. Selain itu, di saat banyak aktor sangat memikirkan penampilannya, ia seringkali cuek kedapatan berkaos oblong dan sandal jepit, serta bertualang ke tempat-tempat terpencil yang jauh dari mainstream. Keseluruhan pribadinya dan kemisteriusannya membuat saya betah bertahan selama ini memujanya dan selalu membayangkan profilnya tiap kali ada yang bertanya bagaimana tipe laki-laki ideal menurutmu. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Itu merupakan pernyataan yang 100% saya amini. Namun, dalam ketidakmungkinan mencapai yang 100% itu, bagi saya Nico selalu ada di antara 60-80%nya. Paling tidak sampai saat ini. 

4. John Mayer 

Lagu-lagu John Mayer adalah makanan saya sehari-hari. Paling tidak, tiap minggu, lagu-lagunya pasti setia nangkring di playlist musik saya. Lagu-lagunya bertema universal, tidak melulu cinta pada lawan jenis yang liriknya cenderung menye-menye. Jadi, kalian bisa mendengarkan lagu-lagunya dalam berbagai kesempatan. Mulai dari saat patah hati, revisian skripsi dan tesis yang tak kelar-kelar, sampai bete karena uang kos naik. Sebagai musisi yang ahli bermain gitar dan jago dalam berbagai genre musik, John kemudian menjadi musisi idola saya. Itu sudah pasti. Namun, ia pernah terlalu saya idolakan sebagai musisi sehingga lama-lama akhirnya ia juga menjadi tipe cowok idola. Poin bahwa ia seorang maestro gitar tentulah bisa membuat banyak perempuan mabuk kepayang. Apalagi ia juga menciptakan dan menyanyikan lagu-lagu ciptaannya tersebut. Paket komplit sebagai musisi. Sayangnya, ia juga ganteng. Siapa yang tahan coba? 
Dari segi fisik, John memang menarik. Ia punya bibir tebal dan dagu belah yang sangat seksi. Kalau ia tersenyum, hari-hari kalian yang muram niscaya jadi cerah kembali. Ia punya senyum imut mirip bayi. Ya paling tidak itu menurut saya yang kemudian memberi gelar John musisi serba bisa cum pemilik senyum indah. Alasan itu cukup membuat John sukses menjadi laki-laki idaman sepanjang periode S1 saya. 
Saya ini tipe fan yang sangat mendukung idolanya sehingga saat ia pacaran dengan Katy Perry, saya juga turut gembira dan heboh. Sayangnya mereka putus dan entah kenapa perasaan saya pada John juga ikut padam (tsaaahhh). Mungkin karena saat itu saya mulai menyadari bahwa John punya banyak sekali mantan. Ia dikenal sebagai womanizer yang kemudian saya harus akui mengubah sedikit pandangan saya padanya. Namun, untuk urusan kualitas bermusiknya, ia masih ada di daftar atas musisi favorit saya karena sampai saat ini saya masih setia mendengarkan lagu-lagunya. 

5. Benedict Cumberbatch 



Sekarang ini, siapa yang tidak tahu nama besar dan kualitas akting Ben di dunia seni peran internasional? Rentang waktu berkarya Ben sebenarnya sudah lama namun saya baru mengenal namanya di awal tahun 2011. Gara-gara apalagi kalau bukan Sherlock. Teman-teman saya paham kalau saya adalah penggemar berat Sherlock Holmesnya Sir Arthur Conan Doyle. Beberapa teman kuliah yang rutin nonton serial-serial dari luar negeri menyarankan saya untuk coba menonton Sherlock versi BBC yang dibuat modern. Awalnya saya ragu dan sangsi. Sherlock yang otentik dari periode Victoria selamanya selalu ada di bayangan dan tak tergantikan. Selain itu, soal nonton serial, saya memang pilih-pilih. Saya takut ketagihan dan tidak punya waktu untuk hal lain. 
Namun, akhirnya saya mengalah pada bujuk rayu teman-teman. Pada akhirnya saya harus bilang bahwa menonton Sherlock versi BBC adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya ambil dalam hidup. 
Anyway, saat itulah saya langsung jatuh cinta pada Benedict Cumberbatch. Saya tidak akan pernah menyukainya kalau misalnya aktingnya buruk di Sherlock. Namun dia mampu membuat pembaca karya-karya Sir Arthur seperti saya ini yakin bahwa Sherlock BBC sebenarnya tetap membawa sifat-sifat yang dimiliki Sherlock Holmes dalam cerita Sir Arthur seperti dingin, arogan, dan ilmiah, namun dalam kadar yang jauh lebih besar. Ia mampu meyakinkan saya bahwa ia tetaplah Sherlock Holmes yang saya lihat di karya-karya Doyle dalam dimensi waktu dan ruang yang berbeda. Dan entahlah, semua itu berterima. Apalagi penulis skenario Sherlock, Steven Moffat dan Mark Gatiss, merupakan Sherlockian. Mereka selalu menggunakan kisah-kisah Holmes dari karya Doyle setelah terlebih dahulu menyesuaikannya dengan era modern secara brilian. Sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan, bahkan dibayangkan oleh para Sherlockian yang lain saya pikir. Namun, nyatanya mereka berhasil dan salah satu keberhasilan itu disebabkan oleh usaha luar biasa dari Ben. 
Sejak saat itu, saya mulai mencari segala sesuatu yang berhubungan dengan Ben. Karirnya memang semakin naik pasca menjadi Sherlock Holmes sehingga kemudian dunia bisa melihat aktingnya yang brilian di film-film semacam Tinker Tailor Soldier Spy, Star Trek Into Darkness, The Fifth Estate,  12 Years A Slave, The Imitation Game yang akhirnya membawanya ke nominasi Oscar, dan tentu saja perannya baru-baru ini sebagai salah satu superhero Marvel, Dr. Strange. Ia juga dipercaya menjadi Hamlet, oleh Barbican Theatre, sebuah pusat seni drama yang prestisius di Inggris dan salah satu yang terbesar di Eropa. Sebuah kepercayaan dan kesempatan yang mengukuhkan bahwa ia adalah aktor berkualitas. 
Di luar seni peran, ia juga dikenal sebagai pribadi yang menyenangkan, tidak membuat skandal, dan sering terlibat dalam kegiatan amal, salah satu alasan yang membuat Ratu Elizabeth II menganugerahinya gelar CBE. Ia juga merupakan sosok yang sayang keluarga. Dan di setiap acara di mana ia datang bersama istrinya, Sophie Hunter, ia selalu memastikan Sophie merasa nyaman. Kalian akan sering melihat dia berbisik atau berbicara pelan pada Sophie, “Are you OK?” berkali-kali. 
Saya tahu deskripsi ini lebih pada informasi yang bisa kalian dapat di internet. Namun, itulah keseluruhan dari Ben yang membuat saya tergila-gila. Kalau sekedar tampang, banyak lah yang lebih ganteng, namun kualitasnya sebagai aktor dan public figure, suara baritonnya yang bisa membuatmu betah mendengarkannya berjam-jam, serta tulang pipinya yang legendaris! Andai saja saya bisa memimpikannya tiap malam…. Soalnya bertemu langsung dengannya mungkin agak sulit, walaupun tidak bisa dibilang tidak mungkin. 
Baiklah. Itu tadi merupakan daftar laki-laki idaman yang pernah singgah atau masih menetap dalam pikiran saya. Mungkin beberapa tahun lagi, akan ada tambahan dalam daftar tersebut. Namun, sementara itu, yang ini dulu ya. 

Sumber gambar:
http://en.kidsmusic.info/artists/billy-gilman
https://www.pinterest.com/pin/497225615085884423/
http://putridiana87.blogspot.co.id/2011/12/nicholas-saputra.html
https://www.pinterest.com/pin/316589048778832436/
http://www.thisisyearone.com/benedict-cumberbatch-on-multitasking/

Rabu, 26 Oktober 2016

SINETRON

                                                  

Belum lama ini saya membaca sebuah artikel di portal berita yang menyatakan bahwa sinetron Indonesia merupakan bisnis triliunan rupiah. Raupan keuntungan yang sama juga didapat pebisnis media yang menayangkan sinetron-sinetron yang berasal dari India dan Turki. Mengapa keuntungan yang diraup bisa sangat banyak? Karena banyaknya produk iklan yang diputar selama jeda. Banyak dan panjangnya iklan tak pernah menyurutkan langkah para fans sinetron garis keras untuk tetap setia. Kenapa orang Indonesia menonton sinetron? Entahlah. Untuk yang satu ini, saya yakin jawabannya pasti beragam walaupun menurut portal berita tadi, banyak orang menyaksikan sinetron karena faktor pemain utamanya yang berwajah menarik dan cerita yang gampang mengaduk-aduk emosi.
Penasaran dengan alasan tersebut, saya mencoba untuk menonton sinetron saat kemarin pulang ke rumah. Sepertinya perlu saya jelaskan pada kalian bahwa sudah lama sekali saya tidak menonton televisi, dalam artian menonton satu program secara intens. Kalau hanya sekilas sambil antre beli makan di burjo atau makan sambil nonton TV selama kurang lebih 10 menit sih sering. Selain karena kecewa dengan sebagian besar programnya, internet menurut saya lebih dapat diandalkan untuk menyediakan hiburan dan informasi termutakhir. Lagipula, saya juga memang tidak memiliki televisi di kos.
Anyway, saya memilih sinetron secara acak saja. Karena yang terpampang di layar saat saya menyalakan TV adalah RCTI, ya saya nonton sinetron di stasiun TV tersebut. Cerita dari sinetron tersebut kurang lebih begini. Adalah seorang laki-laki muda kaya (sepertinya direktur perusahaan) yang ingin untuk mengikuti lomba bersepeda. Tidak jelas tipe lombanya apa. Yang ada hanyalah si laki-laki ini siap dengan baju pesepeda warna kuning, helm, dan sepedanya tentu saja. Tibalah laki-laki tersebut di lokasi lomba yang sebenarnya hanyalah lapangan yang dipasangi tenda dengan fungsi sebagai tempat duduk panitia dan ruang peserta. Di sekeliling tenda tersebut, terpasang pita panjang milik sponsor yang berujung di tenda tadi dan sepertinya berfungsi untuk mencegah penonton masuk ke area lomba.  
Bagaimana mekanisme lombanya? Ternyata Anda hanya perlu keliling lapangan yang telah dibatasi oleh pita sponsor tadi dengan sepeda. Pelan-pelan juga boleh. Entah apa maksud dari lomba ini. Yang jelas, hadiahnya 40 juta (tertulis di spanduk). Baiklah. Belum lama berselang mengayuh sepedanya, laki-laki ini tiba-tiba pucat sambil menahan sakit kemudian jatuh dan pingsan. Kemudian ia dibawa ke tenda khusus kesehatan. Ia dijaga oleh seorang wanita muda cantik yang sepertinya berprofesi sebagai asisten rumah tangga. Semua keluarganya lalu datang. Ada beberapa wanita yang tidak berhenti mencemooh ART tadi (tidak lupa dengan mimik muka yang sadisnya dilebih-lebihkan), ayah si laki-laki yang pakai setelan klimis (mungkin bertolak langsung dari kantornya), dan beberapa orang lain yang membela si Mbak ART.
Ternyata si laki-laki muda ini jatuh cinta dengan si Mbak ART. Saat ia siuman, yang pertama dicari adalah si Mbak. Si Mbak lalu menyemangatinya agar meneruskan lomba dengan cara mengingatkan bagaimana kerasnya si laki-laki sudah bermimpi untuk memenangkan lomba tersebut. Si laki-laki akhirnya bersemangat dan kembali meneruskan lomba. Adegan putar-putar lapangan dengan sepeda kemudian dimulai lagi. Kali ini dengan muka yang lebih optimis dan sesekali diselingi senyum.
Saya perlu menginformasikan bahwa di sepanjang tayangan tadi, saya sering tersenyum simpul. Bukan, bukan karena turut terharu merasakan besarnya rasa cinta para pemain utama atau terpana melihat kehebatan adu peran para pemainnya. Sepertinya kalian sudah menebak alasannya.  
Sudah saya ungkapkan kan kalau sejak awal saya sebenarnya bingung lomba sepeda macam apa yang sedang diikuti pemain utama. Terima kasih kepada sutradara karena akhirnya menyisipkan adegan-adegan downhill yang memacu adrenalin walaupun saya sebenarnya malah jadi tambah bingung karena tokoh utama kita masih saja setia hanya putar-putar naik sepeda di sekitar lapangan sambil senyum-senyum. Di mane, Tong, downhillnye?! Bagaimana dengan Mbak ART? Dia dengan setia memandangi si Mas sambil tersenyum lembut.
Tidak sampai di situ saja. Kompetisi downhill abal-abal tersebut ternyata berlangsung sampai malam hari pukul 2, Saudara-saudara! Si Mas tetap setia mengayuh sepeda mengitari lapangan. Sedangkan si Mbak dan juri-juri lain mulai mengantuk dan tertidur. Ajaibnya, si Mbak tertidur dalam posisi berdiri. Luar biasa!
Tak dinyana, hujan turun sangat lebat disertai petir. Namun, si Mas tetap setia mengayuh di bawah derasnya hujan. Karena cemas dan tidak tega jika si Mas nanti sakit, si Mbak dengan berani menerobos hujan dengan membawa payung. Ia memayungi si Mas. Awalnya si Mas menolak, namun si Mbak dengan keukeuh menolak mundur. Akhirnya terciptalah sebuah scene di mana terdapat sepasang muda-mudi mengelilingi lapangan becek bersama. Yang satu naik sepeda, yang satu memayungi. Para juri pun segera bangun dan tersenyum bahagia menyaksikan pemandangan tersebut.
Sampai di situ saya sudah tidak tahan lagi sehingga saya sudahi sesi menonton sinetron dengan mematikan TV dan pergi ke kamar untuk tidur-tiduran. Sambil gegoleran, saya tak berhenti menyakan dua pertanyaan ini di kepala: apa tadi sebenarnya yang baru saja saya tonton dan siapakah sutradara dari tontonan maha dahsyat tersebut? 

Sumber gambar:   http://weknowmemes.com/wp-content/uploads/2012/08/i-dont-watch-soap-operas-i-have-facebook.jpg

Selasa, 25 Oktober 2016

SEBUAH KISAH DALAM SEPORSI BALUNGAN



seporsi balungan Bakmi Mbah Atmo Wates


Adakah dari teman-teman yang suka balungan atau bebalungan? Bagi yang sama sekali belum pernah makan apalagi mendengar menu ini, luangkanlah sejenak waktu kalian untuk menyimak deskripsi saya karena niscaya tidak sia-sia. Balungan atau bebalungan memiliki kata dasar bahasa Jawa “balung” yang dalam bahasa Indonesia berarti “tulang”. Jadi, balungan pada dasarnya adalah tulang belulang, biasanya ayam, yang dimasak dengan cara ditumis dengan sedikit kuah berisi rempah-rempah khas Jawa sehingga menghasilkan sensasi goyang lidah saat dinikmati.
Balungan sangat mudah ditemukan di semua penjuru Jogja, tersebar di delapan arah mata angin. Kalian hanya perlu menyambangi kedai-kedai atau warung-warung bakmi jowo favorit. Harganya juga terjangkau. Berkisar dari 10-15 ribu. Menu ini biasanya bisa dipesan walaupun tidak ada di daftar menu tempat makan tersebut. Lho, kok bisa? Bahan utama balungan adalah sisa-sisa tulang ayam yang dagingnya sudah dikrokoti untuk membuat bakmi godhog (rebus) atau bakmi  goreng. Tulang-tulang ini sebenarnya nasibnya sudah digariskan, yaitu masuk tong sampah atau jadi santapan kucing. Hal inilah yang mungkin membuat para pedagang bakmi jowo tidak enak untuk memajang menu ini dalam daftar menu mereka. “Wong barang sisa kok mau dijual”. Mungkin begitu batin mereka. Akan tetapi, berhubung orang Jawa masih merupakan bagian dari orang Indonesia, pasti ada saja ide kreatif yang muncul sehingga berubahlah nasib tulang-tulang tersebut. Pada dasarnya, saat para pedagang ngrokoti daging dari tulang-tulang ayam, tulang-tulang tersebut tidak benar-benar bersih dari daging. Masih ada saja daging yang tertinggal. Daging-daging tempelan itulah yang menjadi buruan utama para penggemar balungan di manapun mereka berada.
Untuk membuat balung-balung tadi terlihat layak dikonsumsi (ya masa tulang ayam bekas dicantelin di paku atau bendrat gerobak tukang bakmi jowo langsung dimakan) dan memiliki citarasa tinggi, dimasaklah balung-balung tersebut. Sepengetahuan saya, cara para pedagang bakmi jowo memasak balungan bisa dibedakan menjadi tiga jenis: dibuat manis, gurih, dan gurih manis. Saya paling sering membeli menu tersebut di tukang-tukang bakmi jowo yang ada di Wates, kota di mana keluarga saya tinggal. Ada dua warung bakmi jowo yang rasa balungannya tidak pernah mengecewakan. Yang pertama adalah Warung Bakmi Kang Marjo yang lokasinya persis berada di depan SD Muhammadiyah Wates dan Warung Bakmi Jowo Mbah Atmo yang berlokasi juga persis di depan TK Theresia Pengasih. Balungan di lokasi pertama rasanya paling enak kalau tanpa kecap sehingga balungannya lebih baik dipesan dengan rasa gurih. Kalian bisa khusus meminta pada penjualnya. Biasanya balungan bisa diambil setelah pukul 10 atau 11 karena harus menunggu ayam yang digunakan habis dicopoti dagingnya. Untuk warung yang kedua, jangan kaget kalau tiba-tiba penjualnya bilang tidak ada/tidak jual balungan. Entahlah apa alasannya. Padahal rasanya enak karena kombinasi pedas-manis-gurihnya sangat pas. Menurut adek saya, bisa saja balungannya sudah dipesan oleh orang lain sehingga penjualnya menolak menjual pada kami. Tapi masa setiap datang, bahkan pada saat jam-jam awal dan kami berusaha memesan terlebih dahulu, balungan tetap dikatakan tidak dijual. Sejujurnya, saya sudah kangen dengan balungan a la Mbah Atmo. Tapi ya sudahlah.
Nahh, di luar aspek rasa, usaha mencari daging yang masih tertinggal di balungan bisa menjadi sebuah ajang untuk menghangatkan dan mempererat hubungan antar anggota keluarga lho. Bagaimana bisa? Keluarga saya sudah membuktikannya.
Seporsi balungan biasanya berisi tulang yang banyak. Kalau dimakan sendiri sebenarnya bisa, tapi apa ya kalian tidak kasihan dengan lipatan perut yang semakin baggy dari hari ke hari itu? Nikmatnya ngrokoti balungan semakin terasa kalau disantap bersama. Apa saja keuntungan yang bisa didapatkan saat menyantap balungan bersama keluarga?
1.       Kebersamaan yang Aktif
Memang ada kebersamaan yang pasif? Ada dong! Apa namanya kalau kalian sedang dalam posisi diajak ngobrol dengan orang tua namun disambi main ponsel. Kalian ada namun juga tiada di saat yang bersamaan. Kalian membagi jiwa, raga, dan perhatian ke dua dimensi yang berbeda sehingga percakapan yang terjadi mungkin saja hanya berjalan satu arah, monoton, dan tidak responsif. Orang tua merasa disepelekan namun Anda merasa tidak menyepelekan karena konon katanya telepon seluler yang pintar itu kini tidak bisa lagi dipisahkan dari kehidupan keseharian kita, bahkan saat kita berinteraksi langsung dengan orang.
Hal seperti itu tidak akan pernah terjadi saat kalian menyantap balungan. Kalian tidak akan mungkin tega menjamah telepon seluler pintar kesayangan dan membuat casingnya nglengo atau berminyak. Otomatis, kalian 100% berada dalam kebersamaan tersebut. Tidak ada lagi alasan mengaktifkan fake calls atau meminta teman lewat WA untuk segera menelepon Anda di saat-saat muncul pertanyaan serius, seperti kapan lulus dan setelah lulus mau apa.
2.      Masalah Penting Bisa Dibahas dengan Santai
Percaya tidak kalau keputusan Adek saya antara akan melanjutkan studi atau langsung kerja selulus S1 diambil saat dia, Ibuk, dan saya makan balungan? Nyatanya, itulah yang terjadi. Sensasi saat ngrokoti tulang mampu membuat kalian berada dalam kondisi yang sangat santai. Proses ngrokoti tulang adalah salah satu sinonim dari kenikmatan. Inilah alasannya kenapa beberapa orang yang saya kenal lebih memilih kepala atau ceker daripada dada ayam. Sensasinya itu lho!
Saat kalian tidak sedang stress, kalian cenderung tidak merasa cemas. Absennya rasa cemas tersebut bisa membantu kalian untuk membuat keputusan yang rasional tentang sesuatu. Banyak artikel neuroscience yang membahas masalah ini. Cari saja dengan kata kunci “Anxiety Causes Irrational Thoughts”. Bagaimana bisa kalian stress di saat makan enak? Hal inilah yang kemungkinan membuat keputusan-keputusan rasional yang mengubah dunia bisa saja muncul di meja makan seseorang atau restoran. Sudah saatnya menjadikan meja makan sebagai ruang diskusi! Dan balungan sebagai menu utamanya!
3.      Makan Ayam Tengah Malam? Kenapa Tidak?
Ibuk saya merupakan salah satu orang yang sangat menjaga apa yang dikonsumsi oleh buah hatinya saat mereka berada di rumah (kalau nggak di rumah dan dalam pengawasan, anak-anaknya bisa makan apa saja hahahahaha). Beliau suka parno kalau kami makan terlalu banyak ayam atau fast food sehingga di rumah saya selalu mudah untuk menemukan sayur, buah, dan ikan karena Ibu saya setiap pagi rajin pergi ke pasar tradisional untuk berbelanja.
Anehnya, Beliau tidak pernah protes kalau kami, saya dan Adek, membeli balungan malam-malam. Padahal makan malam hari menurut ahli kesehatan tidak baik, apalagi kalau yang dimakan ayam. Nahh, ternyata Ibu saya punya jawaban untuk itu. Ayam yang digunakan untuk balungan biasanya adalah ayam kampung, bukan ayam petelur. Tentu saja lebih sehat. Dan soal makan tengah malam, kalau yang dimakan hanyalah serpihan-serpihan daging unyu yang masih keukeuh nyempil di tulang, what’s the worst that could happen? Kecuali kalau kalian mengonsumsinya tiap malam dan tidak cukup hanya 1 porsi.
Bagaimana bisa hubungan antara para anggota keluarga tidak dekat dan hangat satu sama lain jika semuanya sering makan balungan? Tangan dan mulut yang klomoh kuah merupakan metafora tidak adanya sikap sok-sokan antar keluarga, tidak ada hal yang disembunyikan dalam keluarga. Mungkin bisa juga dipraktikkan untuk hubungan yang lain, seperti hubungan bisnis atau hubungan percintaan. Sayangnya, saya belum pernah mempraktikannya di dua area tersebut. Bagaimana? Tertarik untuk mencoba balungan? Membayangkannya sekarang saja sudah bikin ngiler. Segeralah bergerilya ke warung-warung bakmi jowo terdekat! 

Kamis, 20 Oktober 2016

KEJADIAN HOROR DI RADIO

https://www.graphicstock.com/stock-image/cartoon-ghost-halloween-vector-illustration


Aku ingin mengawali tulisan ini dengan mengatakan bahwa sebenarnya aku bukanlah orang yang mampu merasakan apalagi melihat keberadaan makhluk halus. Jadi, kalau ada teman-teman yang cerita soal pengalaman mereka melihat penampakan atau diganggu makhluk halus, aku sama sekali tidak punya bayangan bagaimana rasanya. Tentu saja aku percaya adanya makhluk halus dan menikmati (suka banget sih sebenarnya) kalau ada teman yang cerita soal pengalamannya dengan makhluk gaib. Dasarnya aku memang bukan penakut, paling-paling reaksiku setelah diberitahu hanya merinding.
Belum lama ini, tepatnya tadi malam, aku mengalami pengalaman dengan makhluk halus yang sedikit berbeda dengan yang dulu-dulu. Kalau biasanya aku hanya menikmati cerita, tadi malam aku melihat gangguan tersebut, walaupun bukan penampakan makhluk gaibnya.
Ceritanya diawali dari kemarin sore sehabis maghrib. Aku dan tiga orang teman berkumpul di ruang produksi radio tempatku bekerja. Setiap Rabu, kami memang rutin berkumpul untuk rekaman sandiwara radio yang diputar tiap seminggu sekali. Sebagai informasi, gedung radio tempat aku bekerja bukanlah gedung yang terlalu tua. Perkiraanku, gedung tersebut dibangun sekitar tahun 70an. Terdiri dari bagian depan dan bagian belakang. Bagian depan terdiri dari 5 ruang sedangkan bagian belakang dipergunakan sebagai auditorium. Ruang produksi terletak di bagian depan. Ukurannya sekitar 5x3 m.
Saat kemarin sore kami kelar rekaman, di ruang produksi hanya tertinggal aku dan Mbak Flo, penulis naskah dan sutradara drama. Kami sama-sama ngenet dengan koneksi radio. Kami ngobrol sambil lalu pakai bahasa Jawa. Sesaat kami terdiam cukup lama karena sibuk dengan kegiatan masing-masing sampai kemudian Mbak Flo bilang yang kalau dibahasa Indonesiakan kira-kira, “Yan, dari tadi kita tuh nggak sendiri lho.”
Aku yang dasarnya bukan penakut hanya menimpali, “Iya. Sama cicak kan?” (kebetulan memang ada suara cicak).
“Bukan, Yan, aku serius.”
“Emang di mana?”, sesaat setelah mengajukan pertanyaan ini aku menyesal karena malah membuat aku merasa takut.
“Di pojok dekat pintu keluar.”
Aku menimpali dengan, “Hmmm….”, dengan harapan Mbak Flo akan berhenti memberi tahu. Tapi tentu saja tidak dong. Dia kemudian melanjutkan, “Dari tadi aku digangguin e,” dengan suara lebih lirih.
Mungkin melihat aku merasa tidak nyaman, ia menyambung, “Tapi dia nggak jahat kok.” Aku sedikit lega ketika mendengarnya. Paling tidak, kerudungku tidak akan ditarik-tarik atau lampu tiba-tiba mati sendiri.
Beberapa menit kemudian, karena sudah merasa cukup, santai, aku melanjutkan kesibukan sambil bertanya sambil lalu, “Emang dia ngapain sekarang?”
“Ngeliatin aja.”
“Siapa yang diliatin?”
“Kamu.”
Sesaat setelah mendengar jawaban tersebut, mentalku langsung ciut. Aku kemudian berkemas-kemas sambil mengajak Mbak Flo pindah ke studio tempat siaran.

                                                        *     *     *     *     *

Saat sudah sampai di dalam studio, aku baru terpikir satu pertanyaan maha penting, “Emang kamu bisa lihat demit, Mbak?”
“Nggak. Tapi aku bisa tahu dan merasakan.”
Karena sudah nggak takut dan mulai bisa rasional, aku bertanya, “Emangnya kamu tadi diapain?”
“Pundakku kayak diguyer-guyer sama dagunya dia. Jadi geli.”
“Halah.”
“Tapi dia baik kok, Yan. Studio ini sih aman. Cuman dia sekarang ada di balik jendela kaca itu.”
Andre, teman kami yang tadi ikut rekaman dan sedang kebagian jatah siaran, mengingatkan, “Udah Mbak Flo. Jangan diceritain terus, nanti dianya nganu lho…”
Mbak Flo kemudian hanya tertawa.
Kalau dari segi rekor, Andre ini adalah penyiar yang paling sering diganggu. Tidak hanya merasakan seperti Mbak Flo. Ia pernah sengaja dikageti beberapa kali oleh hantu yang konon menghuni radio kami. Di luar kantor, Andre juga pernah beberapa kali mengalami pengalaman dengan makhluk halus.
Mbak Flo ngeyel dan melanjutkan ceritanya, “Di ruang produksi ada dua, Yan. Cowok sama cewek. Tapi semuanya baik kok.”
Aku yang mulai merasa santai juga terpancing karena dasarnya aku memang suka mendengar kisah horror, “Mereka biasanya mangkal di mana, Mbak?”
“Kalau yang cewek ada di pojokan meja yang dekat tumpukan naskah drama. Mereka biasanya selalu muncul, apalagi pas kita rekaman drama horor. Makanya aku tuh nggak suka kalau kalian kemproh di ruang produksi. Takutnya ada yang nggak berkenan.”
Kami bertiga lalu melanjutkan ngobrol hal-hal lain sampai kemudian Mbak Flo pamit pulang karena sudah pukul 10 malam. Tidak lama keluar, ia kembali lagi. Mungkin ada yang ketinggalan. Tapi ternyata tidak.
“Yan, motorku starternya nggak mau berhenti. Bunyi terus dan nggak bisa dimatiin.”
Aku langsung keluar dan melihat kondisinya. Motor bunyinya seperti digas berkali-kali tetapi saat kunci diputar, tidak ada respon sama sekali. Kunci benar-benar tidak berfungsi. Sebenarnya kami mau minta tolong Andre tetapi ia sedang sibuk ngomong di depan mikrofon sambil memakai headphone. Jadilah kami minta tolong bapak-bapak yang sedang nongkrong di pos satpam dekat gerbang radio. Walaupun sudah diutak-atik, tetap saja motor tak berhenti. Akhirnya aku masuk ke studio dan bilang ke Andre.
Andre kemudian ikut keluar. Sambil senyum ia bilang, “Kan udah aku bilangin tadi.”
Akhirnya setelah berjuang kurang lebih 15 menit, motor berhasil dimatikan dengan cara memutus sementara saluran bensin. Mbak Flo harus meninggalkan motornya di radio dan dia pulang diantar Pak Udin, salah satu pekerja di radio. Menurut Mbak Flo, motornya sama sekali belum pernah eror seperti itu.
Selama kejadian motor macet, aku berpikir apakah memang ini hasil pekerjaan si hantu. Lalu aku bersyukur karena tidak kena imbasnya walaupun sempat bertanya-tanya dalam hati karena penasaran. Aku pulang pukul 11 malam dari radio. Sampai di kos, aku langsung cuci muka, sikat gigi, dan tidur. Saat bangun tidur, aku sudah lupa dengan kejadian tadi malam sampai saat aku membuka laptop untuk mengerjakan tugas. Laptopku awalnya eror. Sesuatu yang belum pernah terjadi selama ini. Ada banyak garis-garis muncul di layarnya. Setelah menuggu beberapa saat, akhirnya bisa kembali normal. Aku tidak tahu apakah yang terjadi padaku pagi ini ada sangkut pautnya dengan kejadian tadi malam tetapi sampai sekarang, aku tidak bisa berhenti memikirkannya sehingga aku memilih untuk menuliskan kisahnya di blog.


Selasa, 27 September 2016

OBROLAN SINGKAT BERSAMA PARA SOPIR GO-JEK



http://smeaker.com/nasional/wp-content/uploads/2015/12/go-jek.jpg

Selama seminggu ini, saya sudah naik Go-Jek 3 kali dan dapat sopir yang berbeda. Saya nggak tahu kenapa, tapi sepertinya Go-Jek punya ketentuan bagi para sopirnya untuk mengajak ngobrol penumpang mereka. Mungkin itu dianggap sebagai bagian dari keramahtamahan dan profesionalisme pelayanan. Go-Jek kan bertumpu di kualitas pelayanan. Jadi yang diutamakan adalah kepuasan penumpang. Mungkin gitu ya. Yang jelas, ketiga sopir yang pernah memboncengkan saya senang ngobrol. Berikut adalah petikan obrolan saya dan mereka selama perjalanan.

Rabu, 21 September 2016

Waktu : 15.51
Rute : RRI Pro 2 Jogja – Stasiun Lempuyangan

Pak X: Di RRI penyiar, Mbak?
Saya : Iya, Pak.
Pak X : Wahhh, saya bisa request lagu dong.
Saya : Hehehe. Bisa, Pak.
Pak X : Mbaknya di pro berapa ya?
Saya : Pro 2, Pak.
Pak X : Kalau Pro 2 itu programnya apa ya?
Saya : Program untuk anak muda, Pak.
Pak X : Kalau yang berita Pro berapa ya?
Saya : Pro 3, Pak.
Pak X : Saya suka lho, Mbak, dengar RRI. Di Sumatera saya ada penyiar favorit. Wahhh, dia itu hebat sekali!
Saya : Oh Bapak asli Sumatera ya?
Pak X : Nggak, Mbak. Tapi saya pernah merantau di sana. Wahhh itu penyiar hebat sekali, Mbak! Bayangkan! Dia itu orang Jawa tapi bisa lho bahasa Minang dan Batak. Persis lho, Mbak, sampai ke dialek-dialeknya. Dia itu padahal asli Jawa, Mbak! Tulen! Saya kagum sekali sama dia.
Saya : Wahh, hebat ya, Pak?
Pak X : Hebat, Mbak! Jadi nanti kalau ganti program, dia langsung ganti bahasa. Mutarnya juga lagu-lagu daerah. Kok bisa ya, Mbak? Padahal Jawa asli lho. Yang dengerin juga banyak. Banyak yang minta lagu. Terkenal dia di sana. Eh, ada pameran lukisan ya, Mbak? (lewat di dekat jembatan Lempuyangan)
Saya : Sepertinya iya, Pak.
Pak X : Bagus bagus lukisannya.
…………………………….. hening ………………………………..
Pak X : Kalau kerja di RRI itu PNS ya, Mbak?
Saya : Ada yang PNS ada yang nggak, Pak.
Pak X: Kalau Mbaknya ini sudah PNS belum?
Saya : Ohhh saya belum PNS, Pak.
Pak X : Rencananya mau berkarir di RRI nggak?
Saya : Wah belum tahu, Pak. Hehehehe.
Pak X : Nanti bisa jadi penyiar hebat lho, Mbak. Atau kenapa nggak coba di Hard Rock FM? Bagus lho, Mbak. Bisa juga di Prambors.
Saya : Hahahaha.
Pak X : Atau bisa daftar juga jadi presenter di TV. Mbak dulu jurusannya apa?
Saya : Sastra Inggris, Pak.
Pak X : Wahh cocok itu. Kenapa nggak daftar jadi VJ MTv? (MTv sekarang apa kabar, Pak?) Nanti bisa kaya VJ Marisa (yaoloh si Bapak).
Saya : Hahaha. Marisa Nasution.
Pak X : Atau bisa kaya Oprah, Mbak. (Bapaknya ngelunjak)
…………………………… kemudian sampai di Lempuyangan ………………………………….
Pak X : Makasih ya, Mbak Nonick (username saya di aplikasi).
Saya : Sama-sama, Pak. Hati-hati.

Tipe pengamat dunia broadcasting detected.

*********************************************************************************

Sabtu, 24 September 2016

Waktu : 15.50
Rute : RRI Pro 2 Jogja – Stasiun Lempuyangan

Mas (masih mas-mas soalnya) Y: Penyiar, Mbak?
Saya : Iya, Mas.
Mas Y : Udah berapa lama, Mbak?
Saya : Sejak 2012.
Mas Y : Wahh, lama juga ya. Dulu kuliahnya di mana, Mbak?
Saya: UGM, Mas.
Mas Y : Saya Sanata Dharma.
Saya : Jurusan apa, Mas?
Mas Y : Manajemen.
Saya: Disambi berarti ya, Mas?
Mas Y : Iya, Mbak. Saya sebenarnya mau cari pengalaman, Mbak. Mau berlatih cari uang. Jenuh kalau kuliah terus. Saya ini asli Gunung Kidul jadi ya itungannya merantau, Mbak, di Jogja. Di sini kos dan jarang-jarang saya pulang walaupun dekat.
Saya : Wahhhhhh… (nggak tahu musti nanggepin apa)
Mas Y : Mbaknya kos?
Saya : Iya, Mas.
Mas Y : Aslinya mana, Mbak?
Saya : Wates.
Mas Y : Mbak udah lulus ya kuliahnya?
Saya : Iya, Mas.
Mas Y : Saya sudah KKN, Mbak. Tapi kok malas sekali ya rasanya mengerjakan skripsi? Memang benar ya, Mbak, kalau sudah pegang uang, rasanya malas nerusin kuliah. Tiap pulang kerja rasanya capek. Kalau ada waktu luang juga inginnya dibuat untuk kumpul-kumpul sama teman. Menikmati masa muda lah, Mbak. Hehehe. Nggak pengin nerusin S2, Mbak?
Saya : Saya baru lulus S2, Mas.
Mas Y : Wahhh, hebat yaaa. Saya S1 saja belum lulus. Susah memang, Mbak, kalau disambi-sambi gini. Tapi ya mau bagaimana lagi. Katanya kalau besok interview kerja juga yang ditanya masalah pengalaman kerja kan? Saya nggak mau lulus S1 tapi nggak punya pengalaman kerja. Ada tips nggak, Mbak, biar skripsi saya cepet selesai?
Saya : Wahhh. Hehehe. Apa ya, Mas? Jangan ditunda-tunda mungkin ya?
Mas Y : Iya ya, Mbak. Wahhh jan saya itu. Minta doanya ya, Mbak…
…………………… kemudian sampai di Lempuyangan …………………………….
Saya : Pas ya, Mas, delapan ribu.
Mas Y: Makasih ya, Mbak. Hati-hati.
Saya : Mari, Mas.

Tipe galau skripsi detected.

*********************************************************************************

Minggu, 25 September 2016

Waktu : 20.31
Rute : Inna Garuda – RRI Pro 2 Jogja

Pak Z : Susah ya, Mbak, aplikasinya?
Saya : Iya, Pak. Baru trouble apa?
Pak Z : Kalau hujan nggak banyak Go-Jek, Mbak. Pada malas. Orang juga nggak nyaman kan naik motor sambil hujan-hujanan? Ini tadi saya mangkal di Ketandan, Mbak. Jadi ya harus sedikit putar.
Saya : Oohh….
Pak Z : Kalau hujannya kaya kemarin malam, Mbak, wahhhh saya pilih di rumah. Mangkal juga sama aja. Susah. Malam ini untung nggak separah kemarin. Sore ini saya mulai mangkal jam 6, Mbak. Kalau malam ini hujan lagi ya saya pilih pulang.
Saya : Iya, Pak, kemarin hujannya deras. (mengulang statement si Bapak)
Pak Z : Sebenarnya ya, Mbak, Go-Jek itu ada mantolnya juga tapi jumlahnya terbatas. Kemarin kami diminta untuk ngambil di markas tapi ya karena jumlahnya sedikit saya nggak kebagian. Mantolnya itu jaaannn hanya seperti mantol yang limaribuan itu lho, Mbak.
Saya : Tipis ya, Pak?
Pak Z : Iya, Mbak. Ini nanti RRI kan, Mbak?
Saya : Iya, Pak. RRI yang Gejayan ya.
Pak Z : Nanti Mbak yang arahkan saja ya. Lihat, Mbak, jalannya sepi kan? Kalau hujan orang memang nggak suka naik motor (njih, Pak). Coba kalau hari-hari biasa, banyak Go-Jek yang sliwar sliwer di jalan ini. Berhubung hujan ya jarang. Coba Mbak lihat, berapa Go-Jek yang udah lewat?
Saya : Nggak ada, Pak.
Pak Z : Jelas nggak ada. Kalau hujan, orang malas, Mbak, naik motor (njiiiih, Pak). Walaupun misalnya nih, pakai mantol, itungannya tetep basah, Mbak (lha kan hujan, Pak). Makanya saya dan sopir-sopir lain biasanya memilih nggak narik, Mbak.
Saya : Ya, Pak.
Pak Z : Ini Mbaknya kok turun RRI kerja di sana apa?
Saya : Iya, Pak.
Pak Z : Penyiar apa?
Saya : Iya, Pak.
Pak Z : Wahhhh, suka muter lagu-lagu kenangan berarti ya, Mbak? (yakaleeeee)
Saya : Bukan, Pak. Kalau Pro 2 lagu baru.
Pak Z : Sudah tetap, Mbak?
Saya : Belum, Pak.
Pak Z : Ini besok tanggal 1 ada CPNS lho, Mbak. Ada 5000 lowongan.
Saya : Departemen apa, Pak?
Pak Z : Pokoknya itu khusus Jogja, Mbak. Keponakan saya kemarin cerita. Dia minta diantarkan ke gedung &*%$#%& (nggak jelas nama gedungnya) untuk pendaftaran (lahhhhh katanya dibuka tanggal 1).
……………………. hening ………………………
Saya : Itu depan belok kiri ya, Pak.
Pak Z : Sini ya, Mbak.
Saya : Ini ya, Pak. Makasih banyak.
Pak Z : Oke. Thank you very much.
Saya : ………. You’re welcome.


Tipe nggak suka hujan detected. 

*********************************************************************************