Senin, 15 April 2013

1000 WAJAH PRAM DALAM KATA DAN SKETSA



Buku terbitan Lentera Dipantara ini merupakan kumpulan esei mengenai Pramoedya Ananta Toer yang diterbitkan dalam rangka mengenang 1000 hari meninggalnya sang sastrawan besar. Esei ditulis oleh orang-orang dengan latar belakang yang bervariasi, mulai dari wartawan, sejarawan, mahasiswa, guru, keluarga Pram, sampai masyarakat umum yang mengaku sebagai pengagum Pram. Singkatnya, orang-orang yang merasa dirinya bertautan dengan sang penulis yang telah berulang kali dinominasikan sebagai penerima hadiah Nobel sastra. Pertautan itu banyak sekali bentuknya. Ada yang terjalin karena pertalian darah, ide, maupun inspirasi.
Total ada 67 tulisan dari berbagai kontributor tentang pandangan mereka mengenai Pram, baik secara personal maupun akademik. Namanya saja kesan, tentu saja bervariasi, namun tidak sedikit yang mengungkapkan hal-hal yang sama, terutama masalah sejarah kehidupan Pram dan penghargaannya. Hal ini menjadi membosankan karena pembaca harus membaca hal yang sama beberapa kali. Kemungkinan besar ini karena beberapa tulisan merupakan obituari di media massa yang tentu saja isinya adalah menapaki kehidupan sang sastrawan, terutama sisi yang banyak dibahas.
Beberapa kontributor memilih untuk menghadirkan sosok Pram dengan cara yang cukup unik. Goenawan Mohamad misalnya. Dengan menggunakan gaya tulisan Catatan Pinggirnya, ia menganggap Pram sebagai jembatan antara generasi zamannya dan genarasi muda dalam menularkan semangat nasionalisme. Lewat tulisannya, banyak anak muda yang terbakar dan terinspirasi. Di situ ada sebuah sejarah yang dirawat dan mimpi yang diestafetkan.  Lain lagi komentar Max Lane, penerjemah Tetralogi Buru Pram dalam bahasa Inggris. Terlepas dari karya dan pandangan Pram yang selalu disebut mengkritik Indonesia dengan keras, sebenarnya Pram adalah seorang pencinta Indonesia dengan caranya. Pram menyampaikan rasa cintanya lewat novel-novel yang ditulisnya berdasarkan penelitian sejarah. Pram memang dikenal sebagai seorang “researcher” yang tekun dan ulung. Ia ingin “menggali kembali asal usul makhluk Indonesia itu dan menjelaskan pada rakyatnya: Inilah negeri yang kucintai itu”.
Tulisan Eka Budianta mengkritik keras pemerintah Indonesia yang sampai sekarang dianggap belum mampu menghargai seorang sastrawan sehebat Pram. Hal ini memang ada hubungannya dengan sepak terjang Pram masa lalu di Lekra yang dianggap sebagai “onderbouw” atau substruktur PKI. Nampaknya masih ada rasa segan dari pemerintah Indonesia untuk mengakui prestasi putra bangsa yang memiliki keterkaitan dengan partai palu arit. Keseganan ini yang menurut Eka harus mulai dihapus mengingat kontribusi besar yang diberikan Pram bagi Indonesia, khususnya dalam dunia sastra. Lewat karyanya, Pram mengenalkan sastra Indonesia pada dunia. Tanpanya, ranah sastra Indonesia tak akan pernah dilirik oleh dunia luar. Bintang Mahaputra rasanya bukanlah penghargaan yang terlalu berlebihan, Sayang sampai akhir hayatnya, Pram tak pernah mendapat pengakuan apapun dari pemerintah Indonesia.
Masih banyak tulisan yang mengupas kehidupan Pram di buku setebal 504 halaman ini. Mulai dari masa kecilnya sampai kematiannya tanggal 30 April 2006. Beberapa tulisan juga mengupas pertentangannya dengan para penandatangan Manifesto Kebudayaan. Rata-rata tulisan tersebut menyebutkan bahwa posisi Pram bukan sebagai penentang ide demokrasi namun ia menentang seni, khususnya sastra, yang tak memiliki visi dan hanya luapan ekspresi semata.
Di antara semua tulisan untuk menghormati kepergiannya, ada 2 yang cukup unik. Pertama adalah tulisan dari Soelistiyono B.A. alias Ki Panji Konang, kawan dekat Pram saat kanak-kanak. Soelistiyono menulis menggunakan bahasa Jawa. Saya anggap ini unik karena lewat bahasa Jawa, masa kecil Pram yang dituturkan oleh sahabat masa kecilnya terasa dekat. Mungkin karena Pram sendiri adalah orang Jawa sehingg bahasa Jawa membawa pembaca pada romantisme tertentu, walaupun Pram sendiri sangat membenci bahasa Jawa yang dia anggap sebagai salah satu manifestasi hierarki dalam kebudayaan Jawa. Tulisan kedua ditulis oleh Soesilo Toer, salah satu adik Pram. Ia penyumbang tulisan terbanyak, total 93 halaman, yang semuanya mengupas sisi Pram yang sebagian besar belum pernah terekspos. Soesilo Toer tidak ragu untuk menyajikan kesan yang mungkin bisa membuat sebagian pembaca ataupun penggemar Pram terganggu. Di salah satu kenangan, disebutkan bagaimana saat dalam salah satu kunjungan ke kampung halamannya di Blora, Pram menderita diare karena menolak makan. Padahal saat itu Blora sedang kekurangan air sehingga kotorannya tak sempat dibersihkan. Atau mungkin isu yang beredar bahwa Pram mau memperkosa  teman sepermainannya yang lantas ia boyong ke Jakarta dan dijadikan pembantu rumah tangga, Inem. Inem ini adalah Inem yang sama yang menjadi salah satu tokoh dalam “Tjerita dari Blora”.
            Soesilo menggambarkan kakak tertuanya itu dalam sisi yang berbeda sama sekali. Bahwa di balik sifat kerasnya, Pram sebenarnya berhati lembut. Soesilo dalam beberapa kesempatan menyaksikannya menangis. Dengan ini, pembaca jadi tahu bahwa Pram juga seperti manusia kebanyakan. Selama ini orang menganggapnya seperti dewa yang layak dipuja dan tak pernah salah. Dalam 81 tahun masa hidupnya, pemujanya harus berbesar hati mengakui bahwa ia pernah terlibat dalam hingar bingar pertarungan ideologi di era 60an. Ia mungkin memilih jalan yang salah. Tapi sama seperti kebanyakan tokoh-tokoh dalam karya fiksinya, tidak ada manusia sempurna. Semuanya harus bergelut dengan perjuangan keras yang sering berakhir dengan kekalahan. Pram tutup usia dengan tidak diakui sepenuhnya. Tapi wasiatnya bagi generasi muda untuk membuat perubahan dan meneruskan perjuangan akan terus bergaung dan membara. Dikobarkan oleh bara humanisme di sebagian besar karyanya yang hanya bisa abadi bila dibaca dan ditularkan. Selamat membaca!

Tidak ada komentar: