Senin, 29 April 2013

RARA MENDUT: SEBUAH TRILOGI



Pencarian saya selama ini akhirnya membuahkan hasil. Menemukan buku karangan Y.B. Mangunwijaya ini nyempil di antara buku-buku di rak kesusastraan Perpustakaan Kota membuat saya tanpa pikir panjang mengambil dan meminjamnya. Saya baru menyadari betapa tebalnya novel ini saat bersiap memasukkannya dalam ransel. 802 halaman yang berisi tiga cerita: Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri. Ketiganya digabung dalam sebuah novel berjudul Rara Mendut: Sebuah Trilogi. Konsepnya seperti Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang juga terdiri dari tiga cerita.
Sebelum disusun sebagai sebuah novel, Rara Mendut terbit sebagai cerita bersambung di harian Kompas tahun 1982 kemudian dibuat menjadi sebuah film tahun 1983. Inti cerita novel ini adalah perjuangan tiga orang wanita Jawa di zaman Sultan Agung dan Amangkurat untuk mencari kebahagiaan. Maklum ketiganya tinggal di wilayah kraton dan semua wanita yang tinggal di wilayah kraton dianggap sebagai milik sang raja. Belum lagi fakta bahwa wanita di zaman tersebut dianggap lancang apabila memiliki cita-cita untuk menentukan nasibnya.
Tahun 1600an atau abad 17 adalah masa di mana raja Jawa Sultan Agung memiliki kekuasaan penuh atas hampir seluruh pulau Jawa kecuali Betawi yang dikuasai Belanda dan Banten, sebuah kesultanan Islam di ujung barat pulau Jawa yang menolak tunduk pada kekuasaan Mataram namun Sultan Agung sendiri pun segan untuk menyerang karena persamaan agama di antara keduanya. Sultan Agung dikenal sebagai raja yang bijaksana namun gemar melakukan ekspansi ke daerah-daerah yang belum mengakui kedaulatannya. Banyak pembesar setempat yang kurang setuju dengan tindakannya dan memutuskan untuk melakukan makar. Di tengah panasnya situasi inilah karakter Rara Mendut muncul.
Posisinya sebagai calon selir Adipati Pragola di Pati berubah menjadi wanita rampasan perang yang kemudian harus menetap di harem seorang tumenggung Mataram yang terkenal digdaya di medan pertempuran, Wiraguna. Rara Mendut secara pribadi memang dipilih oleh sang tumenggung dengan persetujuan Sultan Agung untuk tinggal di dalem Wiragunan, puri sang tumenggung, untuk dijadikan selir. Wiraguna yang tergila-gila dengan sang putri pantai berkulit sawo matang ini harus menunggu sementara waktu sampai sang Rara bersedia untuk digauli.
Dalam masa penantiannya, Wiraguna yang kesabarannya hampir hilang meminta Mendut untuk menyetor segepok uang atau ia harus mulai bersedia melayaninya. Dengan aturan ini, Wiraguna berharap Mendut luluh dan bersedia melakukan permintaannya. Sayangnya Mendut memutuskan untuk berjuang mencari keping-keping persembahan dengan jalan menjadi penjual puntung rokok di pasar. Gaya berjualannya yang tak biasa mengundang banyak orang yang penasaran dan legendaris. Rara Mendut hanya menjual puntung rokok yang telah dihisapnya dan ia tak pernah membiarkan orang luar melihat paras wajahnya karena itu ia berjualan dengan ditutup sebuah kerai warna merah muda. Rasa penasaran ini juga perlahan merambati seorang pemuda bernama Pranacitra, putra seorang Nyai saudagar di daerah pantai utara Jawa bernama Singabarong. Ia berhasil menyusup di balik kerai merah muda dan menyaksikan kecantikan Rara Mendut. Sang Rara juga jatuh hati dengan ketampanan sang pemuda. Asmara keduanya mencoreng muka sang Tumenggung yang kemudian memutuskan untuk memburu dan membunuh keduanya di tepi pantai Selatan.
Nama Genduk Duku di buku kedua mengacu pada seorang gadis remaja yang menjadi emban Rara Mendut sejak di istana Pati dan ikut diboyong ke puri Wiragunan di Mataram. Setelah menyaksikan kematian sang Rara yang sudah dianggapnya sebagai kakak dengan mata kepala sendiri, ia memutuskan untuk melarikan diri dan berlabuh di desa Telukcikal, desa asal Rara Mendut. Di sana ia menikah dengan pemuda setempat bernama Slamet yang berhati mulia.
Saat dalam perjalanan untuk merantau ke Cirebon, nasib membawa mereka untuk terlibat lagi dalam drama a la Mataram. Keduanya dipaksa menjadi rakyat jelata yang turut menjaga dan mengurusi rombongan yang mengantar beberapa tawanan Belanda dari Jepara ke ibukota Mataram. Setelah sampai di Mataram, keduanya mengunjungi Bendara Pahitmadu, kakak perempuan Tumenggung Wiraguna yang dahulu pernah menolong Genduk Duku setelah kematian Rara Mendut.
Perjalanan dilanjutkan untuk mengunjungi Putri Arumardi, selir Wiraguna, yang bersimpati pada Rara Mendut dan mendukung bersatunya ia dan Pranacitra. Bekerja sebagai abdi dalem, Genduk Duku kembali menyaksikan pengulangan kisah Mendut yang kini diperankan oleh seorang wanita muda bernama Tejarukmi. Tejarukmi harus menunggu dalam puri Wiragunan sebelum dianggap siap untuk melayani sang Tumenggung. Sayangnya ia keburu jatuh cinta dengan Putra Mahkota, Raden Mas Jibus, yang sekian lama juga telah menaruh hati padanya. Gayung bersambut. Wiraguna yang tak terima atas penghinaan tersebut tidak dapat berbuat banyak mengingat kali ini Putra Mahkota yang mencoreng namanya. Tejarukmi mati oleh keris Wiraguna saat ia membabi buta melampiaskan rasa malu dan murkanya yang juga direstui oleh Sang Susuhunan Mataram. Sayangnya Slamet turut menemui ajal lewat keris yang sama saat berusaha menyelamatkan Putri Arumardi dari Wiraguna yang saat itu sudah gelap mata.
Genduk Duku yang hampir gila menyaksikan kematian sang suami memutuskan untuk menjauh dari hingar bingar istana dan memilih tinggal di Bukit Tidar. Saat itu ia sudah melahirkan putri pertama dan satu-satunya yang bernama Lusi Lindri. Buku ketiga kemudian menceritakan kehidupan wanita muda yang atas persetujuan Genduk Duku dibesarkan di lingkungan istana di puri Tumenggung Singaranu, mantan dewan patih kerajaan di masa Sultan Agung.
Kehidupan Lusi Lindri yang menjadi inti buku ketiga diawali dengan penunjukannya menjadi salah satu Trinisat Kenya, pasukan pengawal Susuhunan yang terdiri dari 30 gadis. Posisinya sebagai anggota punggawa kerjaan yang paling dekat dengan raja Mataram memberinya akses yang cukup dekat pada sang Susuhunan sehingga ia diperintahkan menjadi telik sandi atau mata-mata bagi Tumenggung Singaranu yang mulai khawatir atas melemahnya Mataram karena dipimpin oleh seorang raja yang lemah dan hanya suka bersenang-senang.
Cinta masa remaja Lusi Lindri dilabuhkan pada seorang remaja tampan keturunan Belanda bernama Hans yang sayangnya harus kembali bersama keluarganya ke negeri Belanda setelah bertahun-tahun menjadi tawanan Mataram. Pada akhirnya pelabuhan cinta terakhir Lusi adalah seorang duda beranak satu bernama Peparing yang bertugas menjaga danau buatan Segarayasa namun masih keturunan Wanawangsa, sebuah klan pemberontak yang berdomisili di sekitar Gunung Kidul. Di masa awal pernikahan mereka, Peparing dan Lusi Lindri diutus untuk menjadi mata-mata di Batavia demi mengamati pergerakan pemerintah Belanda dalam hubungannya dengan pengaruhnya di istana Mataram. Mantan Putra Mahkota Raden Mas Jibus yang telah menjadi raja dan bergelar Amangkurat terkenal lunak dengan Belanda dan gampang takluk dikarenakan segunung hadiah yang diberikan oleh Gubernur Jenderal.
Keadaan ibukota Mataram yang semakin tidak menentu karena ruwetnya pemerintahan membuat Lusi dan Peparing memutuskan tinggal di wilayah Hutan Walada yang menjadi tempat tinggal Tumenggung Singaranu dan Pangeran Selarong setelah diasingkan oleh raja. Masa keemasan Mataram perlahan pudar di bawah pemerintahan Susuhunan Amangkurat. Calon penggantinya, yaitu Putra Mahkota Adipati Anom, menunjukkan gelagat memiliki hubungan baik dengan Belanda di Batavia. Sedang di daerah-daerah, pemberontak seperti Trunajaya dan Kajoran mulai mengumpulkan kekuatan untuk menyerang Mataram.  
Pada akhirnya, Susuhunan Amangkurat melarikan diri sambil membawa pusaka kerajaan ke Imogiri saat para pemberontak mulai menyerang. Lusi Lindri dan Peparing yang tinggal di dekat puncak Bukit Kelir menyaksikan iring-iringan keluarga kerajaan bersama maharajanya yang telah kehilangan taring sejak lama. Cerita ditutup dengan kematian Genduk Duku di pangkuan Lusi Lindri saat keduanya bersama Peparing pulang sehabis menengok porak-porandanya istana Mataram.
Lewat novel sejarah ini, pembaca dapat mengambil pelajaran tentang keteguhan wanita yang memilih dan berjuang untuk merengkuh impiannya pada masa di mana peranan perempuan hanya dianggap sebagai kanca wingking. Ada banyak karakter perempuan kuat ditampilkan oleh Romo Mangun selain ketiga wanita yang namanya menjadi inti novel trilogi ini. Di antaranya Nyai Singobarong yang menjadi puan armada dagang di Pantai Utara Jawa yang kekuasaan dan pengaruhnya disegani oleh para saudagar dan pembesar. Ada juga karakter Putri Arumardi dan Bendara Pahitmadu yang menggunakan pengaruhnya untuk menolong. Sampai Ni Semangka, emban Rara Mendut, pun mendapat tempat tersendiri di novel ini karena dedikasi dan sifat penyayangnya. Secara umum, tokoh-tokoh wanita di novel ini adalah penggerak utama cerita yang tanpa mereka, cerita yang bersumber dari babad-babad kuno ini hanyalah milik para pria. Wanita mengayomi dan menghidupkan, dari mereka lahir kelembutan, kecantikan, namun juga keteguhan hati yang gaungnya dapat menimbulkan kedamaian namun juga peperangan.
Mata pembaca menjadi terbuka oleh banyak hal yang berkaitan dengan sejarah kerajaan Mataram di sekitar abad ke 17. Romo Mangun kembali meneguhkan bahwa sejarah kerajaan Jawa bukan tentang romantisme kejayaan sebuah dinasti yang gemah ripah loh jinawi, namun sebuah kekuasaan yang bertangan besi dan cenderung sewenang-wenang terhadap rakyat. Tidak sedikit bagian yang mengupas pembunuhan seorang demang atau tumenggung beserta seluruh kerabatnya sampai ke anak cicit hanya karena sang pejabat ditengarai lalai menjalankan tugas. Sudah bukan rahasia lagi bahwa nyawa manusia harganya lebih murah dibandingkan ayam. Kesalahan kecil yang tidak berkenan di hati Susuhunan bisa berakibat tumpasnya seluruh anggota sebuah keluarga tanpa menyisakan apapun selain nama.
Sultan Agung memang digambarkan sebagai raja yang bijaksana dan mengayomi rakyatnya namun keputusannya untuk menaklukkan daerah yang membangkang dan menolak tunduk sampai membumihanguskan keluarga pembesar setempat sampai ke akar-akarnya membuktikan bahwa sejarah kerajaan Jawa bukanlah sebuah peradaban yang agung namun penuh kebengisan. Raja Jawa adalah tipikal raja yang menggunakan rakyatnya untuk membantu memenuhi keinginan sang raja. Sabda raja adalah titah yang mutlak dijalankan tanpa mengenal kata gagal.
Dalam menggambarkan rakyat papa, Romo Mangun yang seorang humanis menyoroti sisi penderitaan mereka yang tak henti-henti dirasakan namun masih bersedia untuk mengabdi pada rajanya apabila diperintah. Mungkin memang tak ada pilihan lain. Namun peran rakyat jelatalah yang sesungguhnya teramat besar dirasakan dalam sebuah kerajaan besar yang dikelilingi oleh beribu pembantu. Rakyatlah sebenarnya tulang punggung utama dari mengalirnya kebahagiaan dan terpenuhinya kebutuhan raja dan para pembesar. Menindas rakyat merupakan pengingkaran terbesar seorang pemimpin karena seperti kata Tumenggung Singaranu yang bijak, “Yang pantas kita abdi adalah rakyat. Kawula semua. Teristimewa yang masih menderita dan dibuat menderita.” Selamat membaca!

Tidak ada komentar: