Senin, 15 April 2013

SUKARNO: PARADOKS REVOLUSI INDONESIA



Banyak sekali buku yang mengupas Soekarno, mulai dari pemikiran, sepak terjang dalam usaha kemerdekaan RI, kehidupan pribadi, sampai mistisisme. Penulis buku-buku tersebut tidak hanya dalam lingkaran orang Indonesia namun banyak akademisi luar negeri yang turut menggali kehidupan Sang Putra Fajar. Oleh karena banyaknya buku yang telah mengupas kehidupan Sukarno, tim penyusun buku ini sempat kebingungan menentukan bahan apa yang akan dijadikan salah satu isian dalam seri Bapak Bangsa edisi Sukarno. Akhirnya kesaksian Heldy Jafar, istri terakhir Bung Karno, menjadi hal baru yang diangkat dalam buku ini, walaupun porsinya pun hanya secuil. Lainnya didominasi oleh tulisan-tulisan yang umumnya sudah menjadi bahan di buku-buku lain tentang Sukarno. Jadi jangan heran kalau buku ini bisa dikatakan tergolong tipis untuk sosok sebesar Sukarno.
Menurut buku ini, Sukarno memiliki 9 istri sah yang cukup dikenal publik. Kesembilan wanita tersebut adalah: Oetari Tjokroaminoto (putri H.O.S. Tjokroaminoto, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Dewi Soekarno, Haryati, Yurike Sanger, Kartini Manoppo, dan Heldy Djafar.Yang tidak dikenal ditengarai ada beberapa, termasuk salah satu mantan hostesu Jepang bernama Sakiko yang bunuh diri pada 30 September 1959 karena Sukarno lebih memilih Dewi yang juga mantan hostesu. Tidak semua pernikahan tersebut langgeng dan dikaruniai keturunan.
Bung Karno memang dikenal sebagai penakluk wanita. Gelar internasionalnya adalah “Le Grand Seducteur”. Menurut Bambang Widjanarko, sang ajudan, daya tarik dan taraf intelektual Sukarno memikat banyak wanita. Heldy Jafar sebagai istri terakhir dinikahi Bung Karno saat usianya masih 18, setahun sebelum Soekarno jatuh dan dijadikan tahanan rumah. Beda usia di antara keduanya 48 tahun. Dalam penahanan, Bung Karno tak lupa mengiriminya sebuah surat pendek yang disertai dengan uang dan beberapa botol parfum. Dalam buku, foto dan teks surat tersebut dimunculkan.
Selain petualangannya dengan wanita, buku ini juga membahas masuknya Megawati dalam dunia politik. Awalnya Mega tidak sekali pun diprediksi akan meneruskan karir sang ayah. Justru Guntur, kakaknya, yang selama ini disebut mewarisi pesona dan jiwa politik sang Bung yang kelihatannya akan memasuki dunia yang sama. Mega mulai masuk ke dunia politik tahun 1987 saat Soerjadi, Ketua Umum PDI mengajaknya. Romantisme akan Sukarno lewat keberadaan Mega cukup mampu mendongkrak popularitas PDI yang kemudian malah membuat resah Soeharto. Berkomplot dengan Soerjadi, Soeharto mencoba menggulingkan Mega. Semuanya bermuara pada peristiwa berdarah 27 Juli 1996.
Hal lain yang disinggung adalah kecintaan Bung Karno akan seni, terutama seni lukis. Bung Karno memilki koleksi sekitar 3000 karya seni. Pilihan Bung Karno adalah seni lukis beraliran romantik atau realistis, walaupun ia juga mengoleksi beberapa karya Affandi. Dalam mendukung dunia seni, Bung Karno berpedoman bahwa seni adalah kemerdekaan berekspresi yang sebenarnya sangat bertolak belakang dengan beberapa keputusannya di era Demokrasi Terpimpin.
Dari semua ulasan tentang Sukarno di buku ini, bagian paling menarik menurut saya ada di bagian akhir, yaitu “kolom-kolom” yang berisi esei tentang Sukarno dan ditulis oleh beberapa pakar. Mochtar Pabotinggi menyoroti kesalahan utama Sukarno yang membubarkan Konstituante yang saat itu sudah hampir selesai menyelesaikan konstitusi dan malah memberlakukan kembali UUD 1945. Padahal Sukarno mengakui bahwa konstitusi sebelumnya dibuat dengan tergesa-gesa dan darurat sehingga dibutuhkan adanya konstitusi baru yang disusun secara hati-hati dan penuh pertimbangan. Hal ini memuluskan praktek demokrasi a la Orde Baru yang kemudian menggantikan Demokrasi Terpimpin. Tanpa konstitusi negara yang kuat, Orde Baru leluasa merongrong hak warga negara dan merampas prinsip kesederajatan.
Hal lain yang menarik adalah bagian wawancara dengan Lambert Giebels, penulis biografi Soekarno Sukarno, 1901-1950. Di salah satu esei, Bonnie Triyana sempat menyoroti gaya tutur Giebels yang cenderung mengcounter apa yang dikatakan Soekarno dalam otobiografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat tulisan Cindy Adams. Giebels nampak mencari-cari kebohongan dan kelemahan Sukarno. Salah satunya ketika membahas surat permohonan maafnya pada Gubernur Jenderal terkait peristiwa pembuangannya ke Ende. Bukti keberadaan surat ini masih kontroversial. Hal lainnya adalah soal romusha. Sukarno ia anggap bertanggung jawab akan kematian ribuan nyawa saat romusha. Sukarno memang mengucapkan permintaan maaf untuk pertanggung jawabannya dalam pengorganisasian romusha dalam otobiografinya. Namun ia mengatakannya beberapa tahun kemudian, seperti memberi jarak dengan waktu terjadinya peristiwa.
Giebels sendiri berpendapat bahwa selain praktik romusha, Sukarno juga terlibat dalam pemberontakan Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar yang menimbulkan banyak kasus pemerkosaan terhadap perempuan Cina dan Belanda. Sukarno pernah menawarkan diri menjadi juri dalam kasus pemberontakan tersebut namun Jepang menolaknya karena kasus tersebut akan mempengaruhi posisi Sukarno di kemudian hari.
Terkait revolusi Indonesia, Giebels menyebutnya sebagai tindakan anarkis. Hal ini berbeda dengan pandangan Ben Anderson dan Jan Bank yang menganggap bahwa tindakan anarkis pada 10 November yang termasuk di dalamnya penjarahan, pemerkosaan, dan perampokan sebagai awal revolusi sosial. Giebels murni menyebutnya sebagai anarkisme. Pendapat ini didasarkan pada kesaksian korban dari pihak Belanda dan Indo. Sebagai referensi, ia menggunakan buku Anthony Reid dan Oki Akari (editor) dalam  The Japanese Experience in Indonesia: Selected Memoirs 1942-1945, catatan harian karangan sejarawan J. de Jong Het Koninkrijk der Nederlanden in de Tweede Wereldoorlog, buku Willy Meelhuysen Revolutie in Soerabaja, dan penilaian diplomat David Wehl dalam The Birth of Indonesia. Pemimpin republik ini dianggap tidak mampu mengendalikan maupun menghentikannya.
Terlepas dari semua pro dan kontra tentang Soekarno, ia tetaplah seorang bapak bangsa yang ide-ide dan perjuangannya menjadi dasar dibangunnya negara ini. Mungkin Bung Hatta benar saat mengatakan bahwa Sukarno adalah kebalikan tokoh Memphistopheles dalam karya Goethe, “Faust”. Menurut Hatta, “Tujuan Sukarno selalu baik, tapi langkah-langkah yang diambilnya sering menjauhkannya dari tujuan itu.” Selamat membaca!

Tidak ada komentar: