Jumat, 19 Agustus 2016

BENCI ITU AWAL DARI CINTA, TAPI YAKIN KALAU YANG DIBENCI SEPERTI INI?

Setelah hidup selama lebih kurang 27 tahun di dunia ini, saya baru sadar bahwa ada hal-hal yang saya benci secara konstan, sejak saya kecil sampai sekarang. Hal-hal tersebut relatif tidak berubah dan mungkin bisa dipakai menjadi salah satu bagian dari identitas saya ketika orang berusaha mendeskripsikan saya. Mereka bisa bilang, “Oh, Yani yang nggak suka A dan nggak tahan sama B itu lho.”
Tujuan saya menuliskan ini adalah sebagai sekedar pengingat pribadi tentang karakter saya di usia 27 sekaligus mengetahui tanggapan orang-orang yang mengenal saya ketika mereka membaca ini, apakah saya cukup konsisten dengan hal-hal yang tidak saya sukai. Selebihnya sih, untuk lucu-lucuan sekaligus unggahan tambahan saja untuk blog saya. Berikut adalah daftar hal-hal (bisa juga karakter orang) yang sangat tidak saya sukai:



                                                  

1. Kamar mandi/WC bau rokok

Saya bukan penggemar rokok, malah cenderung benci, dan tidak bisa menolerir asap rokok. Kalau masuk ke tempat yang ada asap rokok/bau rokok, biasanya saya akan langsung hengkang dari tempat tersebut. Kalau di dalam moda transportasi umum, saya akan mengalah dengan menutup hidung dan mulut memakai slayer atau syal. Dan kalau orang yang saya ajak ngobrol merokok, saya akan langsung memberi tahu kalau saya tidak suka asapnya (satu-satunya orang yang nggak saya beritahu adalah Pak Faruk, dosen pembimbing tesis saya, sehingga saya sering tahan napas diam-diam waktu bimbingan hehehe). Jadi bisa dibilang kalau semua masalah tentang rokok di kehidupan sehari-hari saya selalu ada solusinya. Yang nggak ada solusinya itu kalau yang bau adalah kamar mandi/WC. Gimana ceritanya saya bisa mandi pakai slayer/syal? Dan gimana juga ceritanya saya bisa memberi tahu pemakai kamar mandi/WC yang sudah keluar untuk mengembalikan aroma KM/WC seperti semula? Bisa saja sih saya mengalah untuk nggak jadi masuk KM/WC. Tapi kalau sudah kebelet? Menyakiti diri sendiri dong namanya. Sekedar informasi bagi yang belum menyadari, bau rokok yang ada di KM/WC itu dahsyat sekali karena bisa bertahan lebih dari setengah hari dan saya selalu punya keparnoan tersendiri tentang KM/WC yang baru saja dipakai perokok. Saya akan langsung membayangkan bahwa udara, air, dan segala macam perabot termasuk gayung dan shower sudah tercemar oleh rokok. Sialnya lagi, pacar-pacar teman kos saya adalah perokok. Saat mereka memenuhi jadwal apel, mau tak mau mereka pasti menggunakan KM/WC di kos saya yang tidak mengenal KM/WC dalam. Memang sih mereka tidak merokok di dalam, tapi entah kenapa, KM yang dipakai oleh perokok pasti ikut bau rokok. Mungkin karena pipis, kotoran, atau baju mereka sudah bau rokok ya. Kalau sudah begitu, saya hanya bisa tafakur selama beberapa menit di luar KM/WC sambil misuh-misuh lirih. Memberitahu teman-teman kos saya rasanya juga bukan pilihan yang bijaksana kecuali saya mau memulai perang dingin dengan mereka atau ditanggapi dengan jawaban klise semacam, “Lha terus kalau kebelet gimana dong?" Setelah masuk, biasanya seluruh dinding akan saya siram dengan air baru kemudian pintu saya tutup dan bisa melakukan apa yang harus saya lakukan di dalam KM/WC.

2. Pengendara yang pencet klakson padahal lampu belum hijau

Saya belum berani naik motor di Jogja. Oleh karena itu, ke mana-mana saya selalu naik sepeda. Kekurangan ini kemudian menjadi hobi yang sampai sekarang sulit lepas. Kalau kamu orang Jogja, kamu pasti tahu kalau konstruksi jalan di Jogja itu selain tidak ramah dengan para pejalan kaki, juga menomorsekiankan pengayuh sepeda. Melihat jalur sepeda yang digunakan oleh pengendara motor atau mobil dan bahkan dibuat parkir itu sudah biasa. Menyaksikan ruang tunggu sepeda di lampu merah disesaki oleh pengendara moda transportasi lain (apalagi di jam-jam macet), juga sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Tunggu, ternyata ada lagi yang membuat geleng-geleng. Dulu, salah satu alasan mengapa tinggal di Jogja masih menyenangkan adalah karena orang tidak heboh pencet-pencet klakson saat lampu lalu lintas masih merah. Sayangnya, populasi pemencet klakson tak tahu adat ini entah kenapa sekarang makin merebak, terlebih di jam-jam berangkat dan pulang kantor. Kalau menunggu di belakang orang udik itu saya agak tidak masalah. Tapi kalau kebetulan ada di depannya, saya merasa dianggap bodoh dan bersalah padahal dia yang bodoh dan salah. Apa pasal? Pengendara di garda depan lampu merah punya tanggung jawab paling besar untuk selalu fokus dengan perkembangan arus lalu lintas. Bagi mereka yang sudah memenuhi kewajibannya dengan terus memantau perubahan warna lampu dan hilir mudik kendaraan, diklakson tiba-tiba padahal lampu belum berubah menjadi hijau adalah suatu pelecehan. Ibarat sudah kerja disiplin dan sesuai target tapi tiba-tiba dipecat. Sakit tahu. Seolah-olah kami ini datang dari zaman Flinstone yang belum mengenal lampu. Mungkin orang-orang itu yang datang dari zaman batu. Mengira kalau lampu merah berarti boleh jalan. Tapi kalau memang itu pikiran mereka, mengapa mereka tidak membunyikan klakson sejak lampu merah pertama menyala? Nah, jelas kan yang bodoh dan salah siapa? Kalau sudah begitu, saya yang naik sepeda hanya bisa menunggu sampai lampu hijau (ya iyalah) dan saat kendaraan yang hobi main klakson melintas di sebelah saya, saya diam-diam akan misuh “celeng,celeng,celeng…”

3. Knalpot blombongan/ mengarah ke atas

Suatu kali saya pernah berhenti karena lampu merah di belakang mas-mas yang memakai sebuah motor cowok berwarna hijau putih. Rasanya saya nggak perlu bilang merk motornya apa karena sepertinya semuanya sudah tahu. Motor mas-mas itu dalam keadaan mati karena mungkin ingin menghemat bahan bakar. Saat lampu sudah akan berubah dari warna merah ke hijau, tiba-tiba wajah saya terkena angin sangat kencang yang ternyata merupakan asap dari knalpot mas-mas di depan saya. Saya kaget dan mengerjap-ngerjapkan mata sehingga lupa kalau sudah waktunya sepeda saya kayuh. Otomatis saya diklakson oleh berbagai macam kendaraan di belakang saya. Sedangkan mas-mas tadi melenggang tanpa rasa bersalah dan bahkan tidak tahu malapetaka apa yang baru saja diciptakannya. Sambil masih kaget dan terseok-seok mencari pedal yang selalu meleset, saya akhirnya berhasil juga menjalankan sepeda. Saya kemudian sadar bahwa saya terkena asap dari knalpot yang arahnya bukannya horizontal tapi dibuat miring mungkin hampir 90 derajat. Sampai sekarang saya tidak pernah lupa kejadian tersebut dan selalu menghindar untuk berhenti di belakang motor knalpot njepat di lampu merah. Saya memang tidak punya pengalaman langsung dengan knalpot blombongan di lampu merah. Mendengar suaranya dari kejauhan saja sudah bikin bising dan kepala pening. Amit-amit deh kalau sampai berhenti di samping mereka saat di lampu merah. Menurut saya, jika benar neraka itu memang ada tujuh lapis dan yang terpanas bernama jahanam, mereka layak dimasukkan di dalamnya. Coba saja hitung berapa jumlah orang yang sudah terganggu dengan suara yang muncul dari knalpot blombongan itu. 1 juta mungkin ada.

4. Penyerobot antrean

Dalam sebulan ini, sudah dua kali saya diserobot saat sedang mengantre. Yang pertama saat beli es krim di kedai makanan cepat saji di daerah Malioboro. Antrean sudah jelas-jelas mengular. Tiba-tiba ada dua orang mbak-mbak udik yang modus operandinya foto-foto di sebelah kanan antrean. Saat mbak-mbak di depan saya bersiap maju untuk memesan es krimnya, dua orang tadi tiba-tiba merangsak dan hampir sampai ke tempat pemesanan ketika saya berteriak, “Woy, antre!” Dua orang tadi tanpa melihat ke arah saya dan yang paling parah tanpa rasa bersalah langsung bergumam, “Oh antre ya”. Asem banget nggak sih. Saya langsung tahu kalau mereka bukan orang Jogja saat mereka berkomunikasi menggunakan bahasa daerah yang entah bahasa mana saat turun tangga dan melewati saya. Saya memperhatikan mereka sambil melirik sadis. Lirikan sadis itu masih saya berikan saat saya pulang membawa es krim dan melihat dua orang aneh itu berdiri di antrean belakang. Mereka tahu kalau saya lihat dengan sadis tapi pura-pura tak melihat. Kira-kira sebenci itulah saya dengan orang yang menyerobot antrean. Pengalaman lain saya alami saat mengantre membayar biaya cek kesehatan di RS Wates. Antrean saya tiba-tiba diserobot bapak-bapak dari sebelah kiri. Saya sudah melirik sadis dan siap marah-marah ketika untung saja saya melihat anak si Bapak yang ada di belakangnya. Anaknya ini kelihatannya tuna grahita dan entah kenapa saya langsung mendadak merasa tidak enak, tapi tentu saja masih dongkol. Sambil berdiri di belakang si Bapak, saya amati bahwa Bapak itu memakai kemeja yang kainnya sudah lusuh dan sobek di bagian ketiak. Saya kemudian kembali mengamati anaknya, kurang lebih penampilannya sama. Akhirnya saya memilih diam walaupun saat si Bapak pergi, saya masih melirik dengan dongkol. Kesimpulan saya, di dunia ini ada dua orang tipe penyerobot antrean. Yang pertama, orang yang mengerti konsep antre tetapi tidak melakukannya karena malas. Contohnya ya dua mbak-mbak tadi. Yang kedua adalah orang yang tahu antre itu apa namun tidak melakukannya karena tidak terbiasa dan mungkin tidak mengerti konsepnya. Contohnya ya si Bapak tadi yang mukanya terlihat sangat polos saat menyerobot. Tipe manapun kalian, kalau saya bertemu dengan penyerobot antrean, saya pasti marah. Kalau nggak protes, ya minimal saya lirik dengan sadis.

5. Buku yang salah satu/beberapa halamannya sengaja disobek

Walaupun nggak sering, saya beberapa kali terkena zonk saat meminjam buku atau komik di perpustakaan dan tempat persewaan komik. Sialnya, saya pasti sudah membaca beberapa lembar sampai kemudian sadar kalau ada satu atau beberapa lembar dari bacaan tersebut yang hilang. Saya memiliki kebiasaan untuk membaca buku secara tuntas, mulai dari lembar pertama sampai terakhir, termasuk kata pengantar yang kadang ditulis dengan bahasa ndakik-ndakik serta promosi buku-buku lain terbitan penerbit yang sama yang biasanya ditempatkan di halaman belakang. Kalau belum semuanya saya baca, saya merasa berhutang dengan buku tersebut. Bisa dibayangkan dong rasanya ketika saya sudah mulai larut ke dalam bacaan namun tiba-tiba halaman 24 saya temukan menghilang atau ilustrasi pertarungan tokoh A dengan musuh bebuyutannya yang legendaris lenyap dari komik favorit saya. Rasa benci pada para pembaca yang tak bertanggung jawab ini sudah tertanam sangat kuat sejak saya SMP. Sekolah saya waktu itu memiliki berbagai macam koleksi ensiklopedia mulai dari tema dewa-dewi Yunani kuno sampai galaksi dan planet. Sayangnya, ada beberapa gambar menarik dari kumpulan ensiklopedia tersebut yang disobek tangan-tangan nggrathil. Tolong jangan membayangkan betapa dongkolnya saya saat mau membaca keterangan lanjutan dari cerita Ikarus namun ternyata halaman selanjutnya menguap entah ke mana. Hanya menyisakan sisa sobekan bergerigi macam gunung-gunung di The Lord of the Rings. Sejak saat itulah saya menyimpan dendam pada para penyobek buku atau komik pinjaman. Mungkin kalau neraka memang ada 7 lapis, mereka pantas ditempatkan bersama pemilik kendaraan berknalpot blombong.

6. Orang yang hobi terlambat

Kalau ada orang yang terlambat, saya sebenarnya bisa memaklumi. Biasanya alasan orang-orang terlambat adalah karena macet, anak yang tiba-tiba sakit, urusan di kelurahan, ban bocor, mengajar, dan alasan-alasan lain yang kadang ajaib, seperti diare karena keracunan es melon di acara buka bersama (ini beneran!). Yang tidak bisa saya maklumi itu kalau terlambatnya sudah seperti hobi. Jadi, belum pernah tidak terlambat. Sayangnya, saya punya beberapa kenalan yang punya kebiasaan jelek seperti ini. Biasanya saya selalu mencari celah agar tidak berurusan dengan mereka di kemudian hari dengan cara sengaja tidak mengakrabkan diri dengan mereka. Bagi saya yang punya prinsip anti terlambat, berurusan dengan orang yang hobi telat hanya akan membuat dongkol dan marah-marah. Sedangkan yang terlambat biasanya hanya tersenyum dan minta maaf saat menyadari kalau sudah ditunggu lama. Iya, memang dimaafkan. Tapi kalau tersenyum dan minta maafnya sudah jadi langganan ya ogah saya gaul sama yang begituan. Kecuali kamu adalah Rangga Yosrizal, jangan harap senyum dan minta maaf berulang kalimu bisa ditolerir.

7. Minta bukain garasi rumah dengan memencet klakson berulang kali

Pengalaman saya dengan klakson di poin sebelumnya mestinya bisa memberikan sedikit gambaran bagaimana bencinya saya dengan klakson yang digunakan tidak dengan bijaksana. Dengan bijaksana? Lho, iya! Kita bicara soal klakson yang suaranya bisa bikin kaget semua jenis makhluk hidup. Apalagi kalau dibunyikan berulang kali. Jadi cerita dimulai saat saya pertama kali ngekos di Jogja di pertengahan tahun 2013. Kos saya terletak di sebuah kompleks dengan warga yang tingkat ekonominya bermacam-macam. Tepat di sebelah selatan pintu masuk kos saya, terletak rumah orang yang mungkin paling kaya sekompleks karena menurut desas desus warga yang sering saya dengar saat membeli makan di warung, yang punya adalah pemilik atau petinggi sebuah bank di Jogja. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila di garasinya terdapat 3 atau 4 mobil. Yang sering saya lihat adalah Innova dan Alphard. Si pemilik rumah dan keluarganya ke mana-mana selalu diantar oleh sopir-sopirnya. Sopir-sopir inilah yang membuat masalah dengan klakson mobil. Tiap kali mereka mau masuk ke garasi, mereka akan memberi kode orang di dalam rumah untuk membuka pintu garasi dengan cara memencet klakson berulang kali. Suaranya itu nyuwun tulung ya bisa membuat pekak telinga dan entah kenapa bisa memunculkan rasa marah dengan tiba-tiba. Bukan saya saja yang merasa terganggu, teman kos saya pernah membuka pintu gerbang kos dan berteriak, “Iya sabaaarrrr!” kepada si sopir yang tak tahu adat itu. Maksud saya, bisa kan SMS atau bawa kunci cadangan. Turun dan membuka pintu garasi apa susahnya sih. Kalau saya berada di dalam kos seharian, bisa 3 sampai 4 kali saya mendengar suara memekakkan itu. Sangat mengganggu. Mulai saat itulah saya benci tipe orang seperti itu. Untung saja tetangga-tetangga saya di rumah yang punya mobil tidak ada yang sebebal sopir-sopir itu.

8. Pemilik kepribadian ganda

Yang dimaksud di sini bukanlah dissociative identity disorder yang biasa dikenal dengan istilah kepribadian ganda dalam bidang psikiatri. Istilah ini saya ciptakan untuk sebuah karakter yang saya tidak tahan ketika berdekatan dengan orang yang memilikinya. Berdasarkan pengalaman kerja dan organisasi saya di berbagai tempat sejak saya masih menjadi mahasiswa S1, saya bisa bilang bahwa selalu ada orang yang suka bergosip dan menjelek-jelekkan rekan sejawatnya di setiap kantor atau organisasi. Selama ini saya cenderung bersikap netral sehingga belum pernah kena masalah atau menjadi bahan gosip (atau saya yang nggak tahu aja ya?). Sikap netral di organisasi dan tempat kerja menurut saya sangat membantu dalam bergaul dengan berbagai macam karakter orang. Sebenarnya, saya tidak pernah keberatan kalau ada rekan atau teman saya yang nggak suka dengan kinerja atau karakter seseorang lalu menggosip. Itu urusan pribadi mereka. Justru saya biasanya terbantu oleh para penggosip ini dalam hal cara berhubungan dengan orang yang digosipkan. Karena tahu karakternya, saya biasanya lebih hati-hati dalam bergaul dengan orang tersebut. Bukan termakan kebencian tapi ya. Karena saya nggak punya masalah dengan yang digosipkan. Nahh, yang bikin saya iritasi itu kalau tukang gosip yang menjelek-jelekkan rekannya tadi menjadi orang yang super manis kalau bertemu dengan yang digosipkan. Mulai dari memuji-muji secara langsung atau lewat sosial media, ngajak ngobrol akrab mirip sahabat dekat, bahkan menggosipkan orang lain bersama-sama. Nggak ada orang di dunia ini yang lebih menjijikkan dari penggosip yang menjilat ludah sendiri. Bersikap baik itu bagus dan harus. Tapi kalau kemudian menjadi berlebihan, apalagi pada orang yang selalu dibusuk-busukkan di belakang, saya kok melihatnya sebagai sikap yang tidak sembodo ya dalam bahasa Jawanya. Sebenarnya, sikap orang berkepribadian ganda tersebut bukan urusan saya juga sih. Namun, karena saya merasa tidak nyaman dengan sikapnya, saya biasanya dengan tegas memutuskan untuk tidak dekat-dekat dengan orang yang menciptakan ketidaknyamanan tersebut. Jadi prinsipnya, sekedar rekan kerja atau organisasi oke, tapi saya tidak bisa untuk menjadi temannya.
Itu tadi 8 hal yang benar-benar saya benci atau hindari di kehidupan ini. Banyak juga hal lain yang saya benci seperti cacing atau musik dangdut, tapi saya masih bisa menolerirnya. Sedangkan yang kedelapan tadi statusnya sudah ada di level diktator, sulit untuk diajak negosiasi.
Suatu hari kalau kamu lihat saya sedang misuh-misuh atau pasang tampang jutek seharian dan kamu tidak sengaja pernah membaca tulisan saya ini, hubungkan saja keadaan saya dengan kemungkinan bahwa saya bertemu salah satu atau mungkin lebih dari 8 hal di atas. Kalau hari itu tiba, tolong maklumi saya yaaaaa…..

Sumber gambar: http://favim.com/image/848622/

Kamis, 14 Juli 2016

LE PETIT NICOLAS

Pernah nggak merasa bosan tanpa sebab yang jelas? Atau capek karena seharian bekerja tapi malamnya kamu nggak bisa tidur karena banyak pikiran? Pernah pasti ya. Tiap orang pasti punya caranya sendiri ketika menghadapi salah satu atau bahkan dua situasi di atas sekaligus. Menurut survey American Psychological Association yang dirilis tahun 2015, tiga cara paling populer untuk menghadapi stress di kalangan orang Amerika adalah melakukan aktivitas fisik, terlibat dalam kegiatan relijius, dan makan banyak atau minum alkohol. Saya nggak tahu apakah cara tersebut populer di Indonesia tetapi sayangnya cara yang paling sering saya lakukan untuk menghilangkan stress tidak termasuk di dalam tiga cara paling populer tadi. Saya memilih nonton film, membaca fiksi, atau menyanyi. Ahhhh mainstream. Ya nggak apa-apa dong. Seperti yang saya bilang tadi, tiap orang kan punya caranya sendiri.
Terkait nonton film, ada beberapa film yang selama ini tidak pernah saya hapus dari laptop saya karena sering digunakan sebagai obat bosan atau stress. Film-film itu selalu nangkring di drive D dalam folder “XXX” (nggak usah tanya kenapa nama foldernya seperti itu). Di folder tersebut, akan selalu bisa ditemukan To Kill a Mockingbird, Babies, dan Le Petit Nicolas. Untuk yang pernah nonton semua film tersebut, pasti langsung berkomentar, “filmnya tentang anak-anak semua!”. Benar juga. Saya juga baru sadar malam ini. Hal inilah yang membuat saya tergerak untuk menuliskannya di blog setelah sekian lama blog saya anggurkan.
Kali ini saya akan membahas secara spesifik dan subjektif tentang film ketiga, Le Petit Nicola, yang akan disambungkan dengan ketidaksengajaan yang baru saya sadari malam tadi. Kenapa LPN? Karena itu adalah film yang akhir-akhir ini sering saya tonton yang mengindikasikan kalau saya sedang sering merasa bosan, stress, atau campuran keduanya.

Dari kiri ke kanan: Nicolas, Alceste, Clotaire, Rufus, Geoffrey, dan Eudes.

LPN bercerita tentang kehidupan seorang bocah cilik bernama Nicola yang hidup di Prancis sekitar tahun 50an. Nicola ini usianya katakan saja sekitar 7 atau 8 tahun dan ia bersekolah di sebuah sekolah khusus putra. Diangkat dari komik karya René Goscinny, pengarang Astérix, yang bekerjasama dengan ilustrator Jean-Jaques Sempé, cerita LPN berkisar di seputaran kegiatan Nicolas bersama teman-temannya di sekolah serta keluarganya di rumah. Nicolas memiliki 5 orang teman dekat bernama Clotaire, Alceste, Geoffrey, Rufus, dan Eudes. Clotaire adalah seorang penggemar sepeda yang malas belajar dan sering tidur di kelas. Alceste suka makan dan bercita-cita menjadi menteri karena dia pikir menteri pasti sering makan enak. Geoffrey memiliki ayah yang kaya raya sehingga ke mana-mana ia selalu diantar dan ditemani sopirnya. Rufus bercita-cita menjadi seorang polisi seperti ayahnya . Eudes memiliki sifat masa bodoh dengan segala sesuatu dan ingin menjadi bandit. Keenam sekawan itu tidak terpisahkan baik saat main di halaman sekolah yang dijaga penjaga galak Monsieur Dubon yang mereka panggil “le Buillon” atau saat main di luar sekolah. Oh iya, mereka juga punya satu teman kelas yang tidak mereka sukai bernama Agnan. Agnan selalu cari perhatian pada guru dan melaporkan murid yang ramai atau mencontek. Selain teman-temannya tadi, orang terdekat Nicolas adalah ayah dan ibunya. Ibunya adalah seorang ibu rumah tangga biasa dan ayahnya bekerja di sebuah perusahaan dengan seorang bos galak bernama Monsieur Moucheboume.
Kehidupan Nicolas yang sempurna dengan adanya teman-teman yang mengasyikkan dan keluarga yang menyayanginya terusik ketika ia berasumsi bahwa ia akan segera punya adik. Asumsi tersebut dipicu oleh pengalaman teman sekelasnya, Joachim, yang baru saja mendapatkan adik. Joachim mengatakan pada geng Nicolas bahwa sejak punya adik, banyak hal buruk terjadi di hidupnya. Ia sempat menyebutkan tanda apa saja yang bisa digunakan untuk menyimpulkan bahwa seseorang akan segera punya adik. Nicolas yang naif berpikir bahwa ia telah melihat tanda-tanda yang disebutkan oleh Joachim terjadi di keluarganya. Ia kemudian meminta teman-temannya untuk membantunya “membuang” si adik yang bahkan belum lahir. Dari sinilah banyak kejadian konyol akan terjadi. Kenaifan Nicolas dan teman-temannya dalam berpikir dan bertindak adalah kunci menariknya film ini. Sepanjang film, saya sering tersenyum atau bahkan terpingkal melihat tingkah mereka yang sangat polos menyikapi semua hal. Kan sudah ditonton berulang kali, Yan? Ya memang. Tapi selalu saja tertawa walaupun bahkan sudah hapal beberapa kata-katanya yang berbahasa Prancis. Itu ajaibnya anak-anak polos tadi. 
Kepolosan anak-anak itu jugalah yang saya temukan di To Kill a Mockingbird dan Babies. Kepolosan tersebut cukup untuk menyadarkan saya bahwa saat sedang stress atau bosan, sebenarnya  saya hanya perlu berhenti untuk berpikir dan menimbang banyak hal, bahkan yang sepele atau yang sama, berulang kali. Dipikir sekali saja cukup dan biarkan semuanya mengalir. Atau kadang-kadang jangan dipikir dan andalkan spontanitas dan nasib baik saja. Rasa stress dan bosan memang bisa datang berulang kali, mirip penyakit. Namun, sama halnya dengan penyakit pilek atau batuk, walaupun sudah diserang puluhan kali sejak anak-anak sampai dewasa, bisa saja obatnya hanya satu merk. Yang penting kalau sakit datang, kita sudah siap dengan obatnya. Untuk penyakit bosan dan stress, nonton film obatnya. Anak-anak selalu jadi obat terbaik memang. Hidup anak-anak! Dan selamat menonton!  

Minggu, 09 Agustus 2015

“KAMPOENG NELAYAN” HOTEL IBIS STYLES JOGJA

Belum lama ini saya diajak oleh salah seorang teman untuk mencoba promo terbaru Hotel Ibis Styles Yogyakarta. Teman saya kebetulan adalah seorang blogger kuliner terkenal di Jogja. Kalau kalian ketik kata kunci “kuliner Jogja blog” di google, blognya akan langsung muncul di halaman pertama pencarian. Tidak heran kalau dia sering mendapat undangan makan di banyak tempat. Gratis. Sebagai timbal balik, ia harus menuliskan uraian mengenai tempat dan rasa makanan yang ia kunjungi. 
Promo baru Hotel Ibis Styles yang saya sebutkan di awal tadi memungkinkan ia mengajak teman. Jadilah saya mengekor dia. Namun, saya sadar jika saya juga punya tanggung jawab untuk turut menyebarkan promo Hotel Ibis Styles lewat blog saya.
Promo spesial yang ditawarkan Hotel Ibis Styles Jogja adalah “Kampoeng Nelayan”, sebuah pengalaman kuliner berkonsep buffet all you can eat. Bagi penggemar seafood, Juli dan Agustus merupakan kesempatan yang tepat untuk mencicipi masakan-masakan olahan ikan dan teman-temannya di Hotel Ibis Styles Jogja. Ada banyak menu yang ditawarkan. Mulai dari ikan bakar saus padang dan saus manis, kepiting lada hitam, otak-otak, tekwan, cumi saus tiram, dan masih banyak lagi. Bisa pilih dan makan sesukamu. Karena kemarin sedang promo, saya dapat gratisan. Kalau kamu mau datang, bisa dengan membayar Rp 125.000,00 per orang. “Kampoeng Nelayan” ada setiap hari Kamis dan Jumat, mulai pukul 18.00 sampai 22.00. Tempatnya di lobby teras lantai 1 Hotel Ibis Styles yang beralamat di Jl. Dagen No. 109 Malioboro, Yogyakarta.
Tidak hanya makan, di sana kamu juga bisa melihat langsung cara memasaknya alias live cooking. Chefnya namanya Christino Dwi Setiawan.
Berikut adalah beberapa gambar masakan yang sempat saya cicipi.


Ikan kakap super besar dan pepes ikan
Kepiting saus lada hitam dan kerang saus tiramnya juara! Udangnya so so laahh. Akan lebih baik kalau udangnya super segar.
Otak-otaknya enak. Bumbu ikan bakar saus padang dan saus manisnya kurang meresap.
Cuminya besar-besar! Tapi karena aku kebanyakan makan jadi sakit rahangnya. Hahaha!
Kepitingnya nambah lagi dong!
Suasananya cozy karena ada live music
Ada juga makanan non-seafood yang disediakan oleh pihak Hotel Ibis Styles Jogja, yaitu tahu gejrot dan rujak buah. 
Rujak buahnya enak tapi tahu gejrotnya tidak pedas sama sekali.
Secara umum, makanannya menyenangkan. Kenapa menyenangkan? Karena orang Indonesia jarang makan ikan, walaupun kita dikelilingi oleh laut. Paling banter mungkin ikan lele, yang sebenarnya ikan air tawar. Jadi, kehadiran "Kampoeng Nelayan" cukup bisa untuk mengiming-imingi penduduk Indonesia, terutama yang berada di Jogja dengan bermacam pilihan masakan. Pastinya menyenangkan bukan, bisa makan olahan laut yang jarang dikonsumsi dengan berbagai varian masakan? Satu lagi, kebersihan di sini terjamin sehingga kita bisa menikmati olahan laut dengan tenang walaupun dimasak setengah matang. 
Di akhir acara, ada sesi bagi-bagi doorprize. Tidak dinyana, saya kebagian hadiah utama: voucher menginap di Hotel Ibis Styles Solo selama semalam untuk dua orang. Hahaha. Beruntungnya. 
Bagaimana? Makan ikan itu sehat lho. Ayo makan olahan laut!

LIMA HARI DI BANGKOK

Ini kali pertama saya menjamah blog setelah berbulan-bulan saya anggurkan. Hahaha. Dalam tulisan ini saya akan berbagi tentang pengalaman saya berkunjung ke Bangkok selama 5 hari (1-5 Agustus 2015). Semoga bisa bermanfaat bagi yang sedang mencari panduan ke Bangkok mengingat sebelum berangkat ke sana, saya juga mengandalkan banyak informasi dari blog para traveller yang pernah ke sana.
Saya berangkat ke Bangkok bersama teman satu kelas saya, Isti. Dari Jogja kami naik kereta Senja Utama ke Jakarta, sebuah kereta bisnis dengan tarif Rp 256.250,00. Agak mahal dari hari-hari biasa karena kami memesannya pada tanggal 25 Juli, masih beberapa hari pasca Hari Raya Idul Fitri. Mau pesan kereta ekonomi jelas sudah ludes terjual. Pilihan yang tersisa tinggal kelas bisnis dan eksekutif.
Alasan kami menggunakan kereta untuk ke Jakarta dulu baru naik pesawat dari Soetta ke Bangkok adalah karena pesawat dari Jogja langsung ke Bangkok jatuhnya lebih mahal saat coba kami bandingkan. Kami berburu tiket pesawat hanya satu bulan sebelum keberangkatan. Soetta-Don Mueang Rp 987.900,00 sedangkan Don Mueang-Soetta Rp 1.373.500,00 dengan 1 kali transit di Malaysia. Kalau bisa pesan beberapa bulan sebelumnya, peluang mendapat tiket yang lebih murah akan lebih besar.
Hari I
Di Jakarta kami turun di stasiun Senen dan dijemput Oom saya untuk istirahat di rumah Beliau selama beberapa jam sebelum berangkat ke Soetta. Pesawat Air Asia kami berangkat pukul 16.45 dan tiba di Don Mueang pukul 20.00. Tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Bangkok. Tanggal 1 Agustus malam Bangkok sedang diguyur hujan. Pesawat kami landing tidak terlalu mulus karena landasannya licin pasca diguyur hujan.
Dari Don Mueang kami langsung ke bagian informasi bandara untuk mengetahui cara agar bisa sampai ke Cu i House (guest house Universitas Chulalongkorn). Mereka akan memberi kalian peta Bangkok yang super bermanfaat karena tidak hanya terdiri dari peta namun juga jalur-jalur BTS (semacam kereta cepat), bahasa Thai untuk survival, dan informasi penting lainnya. Dari bandara kami harus naik bus jalur 1 ke Mo Chit. Di sana ada stasiun BTS yang akan membawa kami ke stasiun BTS Siam, stasiun BTS yang paling dekat dengan penginapan kami di Chula Soi 9 (nama jalan). Biaya naik bus 30 baht sedangkan biaya BTS 42 baht. Cobalah dihitung dengan kurs rupiah dengan parameter 10 baht=Rp 4.300,00. Termasuk murah. Karena kami sampai di stasiun Siam hampir tengah malam dan merasa capek, kami memutuskan naik tuk-tuk (semacam kereta yang ditarik motor) sembari berusaha memetakan jalan walaupun sebenarnya jarak dari stasiun BTS ke penginapan tidak terlalu jauh. Satu tuk-tuk dihargai 80 baht. Jadi 40 baht untuk masing-masing kepala. Lumayan asyik lho naik tuk-tuk. Cobalah.
Penginapan kami sangat nyaman. Dengan biaya 3600 baht atau sekitar 1,2 juta per kamar selama 5 hari 4 malam, kami bisa mendapat fasilitas yang menyenangkan (2 tempat tidur, AC, kamar mandi berheater dan shower, TV berchannel internasional, lemari es), keamanan yang terjamin, dan lokasi yang sangat strategis di pusat kota Bangkok. Cobalah akses penginapan ini kalau ke Bangkok. Tidak akan menyesal. Kami mendapat rekomendasi dan bantuan pemesanan dari teman kami, Doni, yang saat ini menjadi mahasiswa di Universitas Chulalongkorn.
Doni banyak membantu kami di hari pertama kami berada di Bangkok. Mulai dari mengantar kami ke supermarket terdekat, memilihkan makan malam yang halal, sampai mencarikan kartu internet dan mendaftarkannya. Terima kasih banyak, Don!
Makanan favorit saya selama di Bangkok: vegetarian dinner seharga 29 baht yang dihangatkan dengan microwave. Dibeli di kios 7 eleven dekat penginapan. Rasanya ajib! Thailand banget!

Hari II
Hari kedua, kami naik taksi menuju The Grand Palace, kompleks kuil yang paling besar dan indah. Dari Chula Soi 9 - The Grand Palace kira-kira butuh waktu 20 menit dan kami hanya membayar 77 baht. Murah lho. Coba kalau naik taksi di Jogja. Hari di mana kami datang bertepatan dengan hari ulang tahun Ratu Sirikit, permaisuri Raja Bhumibol Adulyadej. Semua tempat wisata tiket masuknya dihargai dengan harga wisatawan domestik. Kami sebenarnya berniat masuk namun mengingat ada banyak sekali jumlah wisatawan asing yang bergerombol di sekitaran tempat wisata, kami mengurungkan niat. Saya tidak pernah bisa dan mau menikmati keindahan tempat yang terlalu banyak orang. Saya agak tidak suka dengan kebisingan dan kerumunan orang. Untunglah Isti juga berpendapat sama sehingga kami memutuskan jalan-jalan di sekitaran The Grand Place yang ternyata di kanan kirinya penuh dengan kuil-kuil dan bangunan indah lainnya. FYI, kuil di sana disebut dengan nama Wat.
Sungai Chao Praya yang lebar serta bersih. Digunakan sebagai jalur transportasi pariwisata. 
Di sebelah The Grand Palace atau Wat Phra Kaeo terdapat Wat Po. Di depan Wat Po, kami didatangi oleh seorang bapak-bapak yang kami kira adalah pegawai Departemen Pariwisata Thailand karena ia memberi kami informasi tentang Wat Arun, sebuah kompleks kuil yang terletak di seberang sungai Chao Praya dan untuk ke sana harus menggunakan perahu. Ia tiba-tiba memanggil salah satu sopir tuk-tuk yang membawa kami ke boat pier atau dermaga kapal. Untuk keliling sekitar Chao Praya selama satu jam, kami diminta membayar 1000 baht. Sontak kami menolak dan minta untuk dibawa kembali ke depan Wat Po. Doni pernah bilang pada kami bahwa untuk naik perahu ke Wat Arun hanya butuh 3 baht. Untung sopir tuk-tuk kami baik dan bisa menerima alasan kalau kami hanyalah dua mahasiswa bokek. Jadilah kami naik tuk-tuk bolak-balik yang menghabiskan 20 baht atau sekitar Rp 8.000,00. Murah ya. Walaupun tertipu 20 baht, kami bisa melihat sudut-sudut perkampungan sekitaran The Grand Palace yang tidak mungkin dilewati kalau menggunakan kendaraan yang melewati jalan umum khusus turis. Jadi, jangan gampang tertipu dengan seseorang yang tiba-tiba memberi informasi cuma-cuma kecuali ia berseragam dan kita memintanya memberi informasi.
Salah satu sudut The Grand Palace yang tidak kami masuki. Kuil-kuilnya indah dan unik. 

Kami naik perahu dengan biaya 3 baht ke Wat Arun setelah bertanya lokasinya pada seorang pegawai dinas pariwisata yang berseragam. Wat Phra Kaew,Wat Po, dan Wat Arun saling berdekatan sehingga sangat mudah untuk mencapai ketiganya hanya dalam satu hari. Naik perahu menyeberangi Chao Praya merupakan sebuah pengalaman baru bagi kami. Walaupun warna airnya coklat, tidak terlihat satu pun sampah yang mengambang. Kapan sungai-suangai di Jawa bisa dimanfaatkan menjadi jalur transportasi sekaligus pariwisata ya?
Wat Arun merupakan sebuah kompleks kuil yang sangat indah karena ada bermacam jenis kuil dengan fungsi, arsitektur, dan warna yang berbeda. Saya masuk tanpa membayar tiket. Entahlah apakah karena efek ulang tahun Ratu Sirikit, kompleks Wat Arun yang sedang direnovasi, atau petugas tiket luput mellihat kami.
3 buah jendela sebuah bangunan di kompleks Wat Arun yang dihias dengan ukiran dan pewarnaan yang sangat detil
Selesai berkeliling Wat Arun, kami mencari taksi untuk ke Catuchak. Biaya taksi dari Wat Arun ke Catuchak hanya 135 baht padahal jaraknya lumayan jauh lho. Transportasi umum di Bangkok benar-benar top deh. Catuchak adalah sebuah pasar kaget yang hanya beroperasi tiap hari Sabtu dan Minggu. Hampir mirip seperti Sunmor UGM kalau di Jogja. Bedanya, Catuchak buka sampai sekitar jam 6 sore dan lokasinya dibagi menjadi dua, pusat kuliner dan belanja. Jadi kalau sudah puas belanja barang-barang yang berharga sangat terjangkau di pusat belanjanya, kamu bisa memuaskan dahaga dan rasa lapar di bagian kulinernya. Hanya saja bagi yang Muslim, harus selektif sebelum mencoba makanan di sini mengingat banyak B2. Penjualnya cukup informatif dan pengertian kok. Mereka tahu kata “halal”. Jadi jangan ragu untuk bertanya. Untuk wisata belanjanya sendiri, sepertinya saya tidak perlu menguraikannya. Intinya di sini semua barang-barang berharga sangat terjangkau dan bisa ditawar. Untuk beberapa barang, harganya bisa bikin kaget karena sangat murah.
Dari Catuchak, kami mencari stasiun BTS untuk pulang ke penginapan di Chula i House. Stasiun BTS terletak tidak jauh dari Catuchak. Di sana banyak polisi yang berjaga, jadi tinggal tanya saja arahnya. Namun, harus siap-siap dengan keramaian dan kepadatan ya karena banyak sekali orang yang pulang dan pergi berkunjung ke Catuchak dengan BTS. Maklum, hanya buka di akhir pekan saja. Selama di BTS dan Catuchak, kami bertemu dengan orang-orang dari berbagai bangsa dan ras yang bisa teridentifikasi dari bahasa mereka. Ini membuktikan bahwa Bangkok telah menjadi surga belanja dan wisata yang cukup terkenal di dunia. Orang-orang lokal juga terlihat sangat terbiasa dengan keberadaan orang-orang asing di sekitar mereka. Semuanya bisa berbaur dengan harmonis. Sangat terlihat saat berada di dalam BTS.
Es krim kelapa dengan pilihan topping yang bisa diambil sebanyak yang kamu mau. Enak!

Hari III dan IV
Kedua hari tersebut merupakan hari yang padat karena kami harus mengikuti konferensi dan presentasi di sesi panel. Untuk makan siang dan makan malam, kami sudah memesan makanan halal saat pendaftaran jadi kami mendapatkan sesuai dengan apa yang kami pesan. Konferensi diselenggarakan di Hotel Mandarin, Rama Road IV. Lokasinya tidak jauh dari tempat kami menginap sehingga pulang pergi kami hanya jalan kaki.
Selama jalan kaki di pagi dan malam hari, saya mengamati bahwa Bangkok merupakan kota yang bersih. Tidak ada satu pun sampah plastik yang terlihat dibuang sembarangan. Kami selalu bertemu dengan petugas kebersihan yang bertugas di pagi hari. Namun, menurut saya, lingkungan yang bersih tidak hanya disebabkan faktor adanya petugas kebersihan. Kebersihan tidak mungkin tercipta jika penduduknya masih bandel membuang sampah. Salut!
Saat jam pulang kerja, macet ada di mana-mana namun tidak semacet Jakarta. Kemacetan akan berlangsung kira-kira sampai pukul 9 malam.
Di hari ke-empat, saya dan Isti pulang dari seminar pukul 4 sore jadi kami masih punya waktu untuk ke MBK. Dari penginapan ke MBK cukup hanya berjalan kaki. MBK merupakan sebuah mall luas yang menjual banyak barang. Kami ke sini untuk membeli oleh-oleh yang berupa makanan, walaupun ada banyak souvenir jenis lain. Di lantai 5 pengunjung bisa menemukan banyak penjual souvenir dan makanan khas Thailand. Yang paling terkenal mungkin adalah keripik durian. Kalau mau membeli makanan instant, cukup pergi ke lantai 2 di mana terdapat supermarket yang memiliki pilihan snack-snack yang bisa dibawa pulang. Biasanya yang dibeli adalah yang memiliki rasa green tea karena di Indonesia masih jarang sekali ditemukan.

Hari V
Kami bangun pukul 03.30 pagi dan meninggalkan penginapan sekitar pukul 04.00 karena pesawat kami berangkat jam 08.40. Sebenarnya kami bisa berangkat lebih siang, namun kami mengantisipasi segala kemungkinan terburuk karena jarak penginapan ke bandara Don Mueang yang cukup jauh. Benar saja. Kami harus menunggu taksi sekitar 20 menitan karena lupa pesan taksi sebelumnya. Di pagi hari pukul 04.00 taksi sangat jarang ditemukan. Untung kami ditemani seorang bapak security penginapan yang baik. Kami hanya berkomunikasi dengan bahasa tubuh. Si Bapak membuat saya tertawa dan cukup bisa mengurangi rasa kantuk. Dari Chula Soi 9 ke Don Mueang di pagi hari yang lengang, kami membutuhkan waktu hampir setengah jam. Saya tidak bisa membayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan kalau kami naik taksi di siang atau sore hari. Kali ini sopir taksi menolak memasang argonya, yang bisa saya mengerti karena alasan pagi hari dan jalanan yang masih lengang. Ia yang menentukan harga. 200 baht. Masih tergolong standard menurut saya.
Kami pulang naik Malindo dan harus transit di Malaysia untuk ganti pesawat. Dari Kuala Lumpur ke Jakarta kami naik KLM, maskapai Kerajaan Belanda. Dari beberapa kali kesempatan naik pesawat, baru kali ini saya naik pesawat dengan kapasitas sebesar KLM. Lumayan dapat makan minum dan free bagasi 20 kg.
Begitu kira-kira cerita perjalanan selama 5 hari 4 malam di Bangkok. Semoga bisa bermanfaat bagi yang sedang mencari informasi tentang Bangkok.

PS:
Contoh kurs dari Baht ke Rupiah
50 baht = Rp 21.500,00 (50xRp 430,00)


Jumat, 02 Januari 2015

BURUNG-BURUNG MANYAR


Berhubung saya tidak punya acara khusus di malam tahun baru 2015, saya memilih untuk menghabiskan waktu membaca kembali karya YB. Mangunwijaya atau yang lebih dikenal dengan Romo Mangun berjudul Burung-burung Manyar. Misi membaca kembali ini sudah saya mulai satu hari sebelumnya sehingga di pagi hari 1 Januari 2015 saya hanya perlu menyelesaikan 3 bab terakhir.
Alasan mengapa saya memilih buku tersebut untuk dibaca kembali sebenarnya sangat simple. Belum lama ini saya jalan-jalan ke Togamas dan di sana saya menemukan buku ini. Dulu saat kelas 2 SMP saya pernah membaca buku tersebut tetapi lupa-lupa ingat dengan ceritanya sehingga saya bertekad untuk membacanya kembali dan tidak lupa dengan ceritanya. Jadi, saya membeli buku tersebut dan baru sempat saya baca 1 hari sebelum malam tahun baru 2015.
Buku ini menarik karena diawali dengan sebuah pembuka yang diberi judul “Prawayang”. Dalam bagian ini, Romo Mangun menceritakan sebuah babak dalam cerita pewayangan di mana Kakrasana yang merupakan titisan Dewa Basuki dan putra Basudewa sejak kecil sudah dititipkan di keluarga Antapoga, sang gembala istana, bersama saudara-saudarinya, Narayana dan Rara Ireng. Mereka tumbuh bersama putri Antaboga yang bernama Rarasati. Dalam perang Barathayuda, Kakrasana yang kemudian bergelar Raja Baladewa sejak awal memihak Kurawa padahal hati dan dukungannya sepenuhnya ia serahkan pada Pandawa. Hal ini demi kesetiaannya pada istri dan mertuanya, Raja Salya. Sudah bisa ditebak bahwa keputusan dan nasib yang ditimpakan kepada beberapa tokoh dalam kisah pewayangan tersebut berhubungan dengan karakter-karakter yang nantinya akan ditemukan dalam novel.
Rangkaian kisah setebal 406 halaman pada dasarnya menceritakan kehidupan dua orang anak manusia bernama Setadewa atau Teto dan Larasati atau Atik. Keduanya berasal dari keluarga terpandang dan ningrat. Masing-masing keluarga memiliki pertautan dengan Kraton Mangkunegaran di Solo. Saat keduanya tumbuh besar, mereka tumbuh dengan kesadaran bahwa mereka mencintai satu sama lain namun situasi saat itu tidak memungkinkan mereka untuk bersatu. Teto memilih untuk menjadi tentara KNIL dan berperang melawan tentara-tentara Indonesia karena kekecewaanya pada pemerintah Indonesia yang menurutnya hanya kepanjangan tangan Jepang. Ia teramat membenci Jepang karena sang ibu yang Indo dan berparas cantik, Marice, dipaksa menjadi gundik Jepang sampai akhirnya menjadi gila. Sedangkan ayahnya, Letnan Brajabasuki, yang mengabdi para pemerintah Hindia Belanda, ditahan oleh Jepang dan setelah itu tidak pernah diketahui lagi kabarnya.
Kebencian Teto ini berkebalikan dengan dukungan yang diberikan keluarga Antana, orang tua Larasati, terhadap pemerintahan pimpinan Soekarno. Bahkan Larasati saat zaman perjuangan sempat menjadi juru ketik Perdana Menteri Sjahrir. Dua komitmen bertentangan antara sepasang orang yang saling mencintai ini mengingatkan saya pada sebuah film drama romantis tahun 70an yang dibintangi Robert Redford dan Barbara Streissand berjudul The Way We Were.
Kisah kehidupan yang berisi tentang keteguhan hati yang diombang-ambingkan oleh perasaan purba manusia yaitu cinta, masa perjuangan yang keras, sadis, namun romatik, dan besarnya cinta kasih keluarga membuat Burung-burung Manyar menyajikan salah satu prototipe kisah manusia di zaman perjuangan dan Orde Baru. Ada banyak tawa dan sayang namun hati yang hancur dan putus asa juga menjadi bagian yang niscaya dari proses menjadi manusia. Apalagi di masa yang sangat tidak menentu. Pada akhirnya mereka memang tidak bisa bersatu menjadi suami istri namun keterhubungan mereka melalui romantisme masa lalu dan cara mereka memperlakukan masa kini dan menyambut masa depan membuat hubungan mereka bertahan dengan cara yang santun.  
Karena dibagi menjadi 3 bagian berdasarkan keadaan sosial politik di Indonesia (1934-1944 masa penjajahan Hindia Belanda, 1945-1950 masa mempertahankan kemerdekaan dan diplomasi, 1968-1978 masa Orde Baru), pembaca dapat melihat kontrasnya kedaan yang menjadi latar belakang dan bagaimana keadaan tersebut juga mempengaruhi pergulatan batin yang dialami oleh karakter Teto dan Atik.
Sungguh buku ini membukakan mata akan rumitnya perjalanan hidup manusia yang kerapkali bisa mengendalikan nuraninya namun di sisi lain sering juga kalah oleh egonya. Lama kelamaan, sering karena waktu, seorang manusia akan lebih memiliki kekuatan dan kendali terhadap nurani dan egonya. Buku ini penuh berisi dialog antara Teto dengan dirinya untuk menimbang sesuatu atau sekedar meyakinkan diri bahwa yang dilakukannya sudah benar walaupun terkadang ia tahu kalau sebenarnya salah. Hal yang akrab dengan pengalaman sebagai manusia.
Buku ini pertama kali terbit tahun 1981 dan mendapatkan penghargaan Ramon Magsaysay pada tahun 1996. Sejauh ini, Burung-burung Manyar adalah karya YB. Mangunwijaya yang paling sering saya dengar dibicarakan. Selamat membaca!


Rabu, 06 Agustus 2014

JALAN TAK ADA UJUNG


Dari beberapa karya Mochtar Lubis yang pernah saya baca, Jalan Tak Ada Ujung sampai saat ini masih jadi favorit saya. Sudah tak terhitung berapa kali novel ini telah saya baca gara-gara novel ini menjadi salah satu koleksi sepupu dan dapat dengan mudah dijangkau di rak bukunya. Sejak saya belum sekolah sampai SMA kelas 2, saya tidak pernah absen untuk menghabiskan waktu liburan di rumah Pakdhe dan Budhe yang ada di kota sebelah. Jalan Tak Ada Ujung telah menemani hari-hari libur saya di sana selama tahun-tahun tersebut selain novel-novel Mira W, majalah Bobo dan Djaka Lodhang. Ada mungkin 10 kali buku ini telah saya baca.
Bersetting bulan-bulan setelah proklamasi kemerdekaan, novel ini bercerita seputar kehidupan seorang guru bernama Isa yang merasa dirinya lemah dan penakut. Selama ini ia berusaha keras untuk menyembunyikan ketakutannya tersebut sehingga tidak ada orang yang tahu. Ia takut pada zaman yang semakin sulit, ia takut pada gajinya yang tersendat, ia takut pada NICA, ia takut menjadi kurir para pejuang. Rasa takutnya membuatnya menjadi lemah dan berimbas pada ketidakmampuannya untuk melayani istrinya di ranjang. Guru Isa sadar bahwa darahnya tak lagi meletup-letup seperti dulu kala. Ia kini telah hampir padam.
Guru Isa menjadi kurir para pejuang kemerdekaan yang mencegah kekuatan pihak asing, baik itu Belanda maupun Inggris, untuk kembali menanamkan pengaruhnya di republik yang sudah merdeka. Tugasnya hanya berkisar di antara menyampaikan pesan atau mencari kendaraan untuk mengangkut amunisi para pejuang. Dalam melakukannya, ia merasa terbebani dan menderita karena rasa takutnya. Ia sering bermimpi terjebak dalam sebuah jalan yang tak ada ujung. Saat ia takut dan berniat kembali, jalan di belakangnya telah menghilang.
Rasa takut Guru Isa ini berbanding terbalik dengan semangat Hazil yang menyala-nyala. Hazil adalah seorang pemuda yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Ia mengorganisir banyak hal untuk melancarkan perjuangan. Ayahnya adalah seorang mantan pegawai kolonial yang mengutuk zaman kemerdekaan karena membuat hidupnya susah tanpa pekerjaan, penghasilan, dan pengaruh. Ayah Hazil adalah contoh generasi tua yang lebih memilih untuk mendukung kolonisasi asalkan hidupnya tenang dan tercukupi, sedangkan Hazil adalah kebalikannya.
Seperti Guru Isa, Hazil adalah seorang penggemar musik sekaligus pemain biola yang mahir. Ia sering berkunjung ke kediaman Guru Isa untuk berlatih dan membuat komposisi lagu bersama. Dengan hadirnya Hazil, hidup Guru Isa sedikit lebih bersemangat. Intensitas kunjungan Hazil ke rumah Guru Isa pun mendekatkannya dengan Fatimah, istri Guru Isa. Kedekatan itu pun berbuah menjadi rasa suka dan Hazil mampu memenuhi tempat Guru Isa yang selama ini tidak mampu untuk membahagiakan sang istri. Pada akhirnya Guru Isa diam-diam mengetahui hubungan tersebut, namun tidak ada yang dapat dilakukannya. Ia cenderung menyalahkan dirinya sendiri yang lemah.
Perjanjian Linggarjati yang dinilai merugikan Indonesia membuat para pejuang ingin menunjukkan bahwa mereka masih memiliki taring. Direncanakanlah untuk melemparkan granat pada sekumpulan tentara Belanda yang baru keluar dari bioskop Rex. Tugas itu akan dipasrahkan pada Hazil dan Rakhmat. Sedangkan Guru Isa bertugas mengamati berhasil tidaknya lemparan granat tersebut dan seberapa parah dampaknya. Granat tersebut hanya menewaskan beberapa serdadu. Namun, setelah itu Guru Isa dibayangi ketakutan akan polisi militer yang memburunya.
Pada akhirnya, polisi militer behasil mengankap Hazil. Setelah menerima berbagai siksaan, ia menyebut nama Rakhmat dan Guru Isa. Jadilah Guru Isa diciduk dan dibawa ke tahanan. Ia juga menerima siksaan yang tiada henti. Namun mulai dari sini, ketakutan dalam diri Guru Isa mulai menghilang. Ternyata apa yang dibayangkannya selama ini tidak semenakutkan apa yang dialaminya. Ia masih bisa bertahan. Kesadarannya ini menumbuhkan kembali keberaniannya. Ia merasa darahnya mulai kembali panas dan bersemangat. Sebaliknya, Hazil menjadi rapuh dan terjebak dalam ketakutannya.
Dengan bahasa yang lugas, novel ini justru bisa membawa kepada sebuah situasi manusiawi yang dialami oleh kebanyakan masyarakat di zaman tersebut. Setiap orang memiliki ketakutannya masing-masing. Namun di antara ketakutan dan rasa putus asa yang mengikuti, ada juga harapan akan masa depan yang lebih baik yang memunculkan kebahagiaan.
Dari sisi sejarah, novel ini bisa menggambarkan sisi gelap perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Perjuangan tersebut bisa mengorbankan segalanya, termasuk kemanusiaan. Ada bagian di mana Guru Isa, Hazil, dan Rakhmat bertemu dengan anggota pejuang kemerdekaan yang tak segan menyembelih orang lain tanpa banyak pertimbangan. Semua yang dianggap mencurigakan langsung dihabisi. Nurani mereka terkoyak saat menyaksikan dua tubuh hasil sembelihan yang mulai membusuk. Perang kadang memang menghasilkan orang-orang biadab yang kehilangan nurani.
Di masa itu, manusia di Jakarta, mulai dari tukang becak sampai pegawai berjuang mati-matian untuk bisa sekedar makan. Kondisi yang tidak aman memperlambat pasokan bahan makanan dan menimbulkan kelangkaan sehingga harga-harga cepat naik. Berhutang adalah hal yang lumrah. Namun, di antara semua kekurangan dan bayang-bayang pencidukan oleh polisi militer karena dituduh musuh, masih ada harapan yang bisa bertransformasi menjadi senda gurau saat bertemu kawan. Semua orang Indonesia tidak ragu untuk mengucapkan salam “Merdeka!” tiap bertemu orang Indonesia yang lain. Mereka bisa sangat dekat dan tidak ragu untuk menolong. Tidak ada kesenjangan karena semua orang susah dan berjuang. Sangat berbeda dengan novel Mochtar Lubis yang berjudul “Senja di Jakarta” yang menggambarkan sebuah bangsa di alam merdeka yang justru punya kesenjangan sosial teramat lebar. Fakta lain yang menurut saya menarik adalah masyarakat zaman itu menyebut tentara dengan sebutan “ubel-ubel”. Ini ditujukan bagi tentara sekutu yang kebanyakan berasal dari India dan menggunakan kain yang dililitkan (Jawa: diubelke) di kepala.
Secara pribadi novel setebal 167 halaman ini membuat saya melihat pergulatan yang dialami oleh seorang manusia di dunia ini dengan rasa takutnya. Saya pikir, siapapun yang membacanya pasti tidak akan asing dengan pergulatan tersebut. Kita pun punya pergulatan dalam diri masing-masing. Selamat membaca!

Selasa, 05 Agustus 2014

HARIMAU! HARIMAU!


Diterbitkan pertama kali oleh penerbit Pustaka Jaya pada tahun 1975, judul awal buku ini bukanlah Harimau! Harimau! namun Hutan. Novel yang dikarang saat Mochtar Lubis mendekam di penjara di Madiun ini menerima penghargaan buku terbaik dari Yayasan Buku Utama pada tahun 1975 dan Yayasan Jaya Raya di tahun 1979 serta telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa seperti Inggris dan Belanda.
Novel ini bercerita tentang tujuh pencari damar yang harus berjuang hidup dan main petak umpet dengan harimau yang memburu mereka. Ketujuh orang itu adalah Sutan, Talib, Sanip, Wak Katok, Pak Balam, Pak Haji, dan Buyung. Masing-masing dari mereka memiliki masa lalu dan dosa yang mereka anggap sebagai penyebab dari diburunya mereka oleh sang harimau. Mereka bergelut dengan pertanyaan apakah harus mengakui kesalahan mereka selama ini atau menyangkal dan menyimpannya dalam-dalam agar harimau tidak memburu mereka lagi. Ada yang mudah tergoda dengan wanita, ada yang dengan sengaja membunuh teman sendiri saat zaman perjuangan, ada yang mencuri, ada yang berzina, ada yang menipu, ada yang tidak percaya dengan manusia lain dan Tuhan, singkatnya semua hal yang dianggap buruk terkumpul dalam dosa dan masa lalu ketujuh tokoh tersebut.
Menarik saat membicarakan rasa percaya mereka bahwa harimau yang mereka hadapi adalah harimau jadi-jadian yang dikirim untuk menghukum. Hal ini memunculkan perdebatan di antara para tokoh tentang apa yang harus dilakukan untuk menolak hukuman. Satu-satunya cara yang disepakati adalah mengatakan dosa dan masa lalu. Pilihan ini sebenarnya banyak ditentang oleh semuanya, kecuali Pak Balam yang mengusulkannya saat menunggu ajal datang setelah diterkam harimau. Semuanya ingin sembunyi dan lari dari dosanya dan meyakinkan diri sendiri bahwa harimau yang ada hanyalah harimau biasa yang sedang lapar.
Namun kemudian Talib diterkam. Selanjutnya Sutan. Dan yang lain mulai mempertanyakan kemungkinan bahwa memang benar yang datang adalah harimau siluman. Tapi yang lebih penting adalah pergelutan mereka dengan hati nurani sendiri. Benarkah semua hal buruk yang dilakukan di masa lalu itu adalah dosa? Atau hanya hal biasa karena setiap orang pun berdosa dan lumrah dilakukan. Lagipula dosa pribadi mereka tidak terlalu besar dibandingkan dosa teman yang lain.
Pada akhirnya hanya tinggal Buyung, Sanip, dan Wak Katok. Di situasi yang mengharuskan mereka berhadap-hadapan dengan sang harimau, terlihat watak asli Wak Katok. Ia yang selama ini dianggap sebagai pemimpin karena karisma dan ilmunya ternyata hanyalah manusia biasa yang penuh dengan rasa takut. Semua orang salah menganggapnya sebagai seorang yang bijaksana. Ia memperkosa istri-istri musuh di zaman perjuangan, membunuh teman sendiri, menipu warga desa, dan juga berzina dengan Siti Rapiah, istri muda Wak Hitam yang pondoknya di tengah hutan mereka tinggali saat mencari damar. Di akhir cerita, Wak Katok benar-benar hancur sebagai manusia. Tidak ada dari harga dirinya yang tertinggal di mata Buyung dan Sanip yang berhasil membunuh harimau yang ternyata hanyalah harimau lapar.
Satu hal yang membuat buku yang terdiri dari tujuh bab ini menjadi salah satu novel Indonesia favorit saya adalah kemampuannya untuk membuat pembacanya tidak beranjak sebelum cerita selesai, apalagi untuk yang baru pertama kali membacanya. Mungkin alasan tersebut berkorelasi dengan fakta bahwa cerita dalam novel ini adalah tentang cara-cara berbagai manusia bertahan hidup dari ancaman harimau. Karakter setiap tokoh berfungsi seperti petunjuk yang membuat pembaca mengira-ngira siapa lagi yang akan mati terkena terkaman sang raja hutan. Dengan mangikuti alurnya, akan tampak satu demi satu, siapa saja yang akhirnya meregang nyawa.
Sebenarnya ini bukan kali pertama saya membaca Harimau! Harimau!. Terhitung ini sudah yang ketiga kalinya. Namun tidak seperti menonton film, membaca buku menurut saya bisa memberi pembaca perspektif baru walaupun yang dibaca adalah buku yang sama. Tiga kali proses pembacaan yang saya pernah lakukan pada novel ini mengantarkan pada pemahaman yang semakin kaya. Jika pengalaman membaca yang pertama (kelas 2 SMP) saya lebih penasaran terhadap siapa saja yang akan selamat dari terkaman harimau, pembacaan kedua yang saya lakukan (kelas 3 SMA) membuka mata saya bahwa novel ini bukan sekedar tentang para pencari damar yang bertahan hidup di tengah hutan yang berbahaya karena terdapat seekor harimau lapar. Saya mulai mengerti bahwa novel ini adalah tentang manusia yang sebenarnya harus bergelut dengan usaha tiada henti untuk, seperti yang dikatakan Pak Haji, melawan harimau yang ada dalam diri mereka sendiri dan betapa pentingnya untuk bersikap jujur sesuai dengan hati nurani.
Di ketiga kalinya, saya menemukan bahwa buku ini mengandung isu politik yang kental. Ketujuh pendamar adaah representasi rakyat Indonesia yang dikomandoi oleh seorang sosok karismatik Wak Katok yang merupakan alegori untuk Presiden Soekarno. Harimau bisa diartikan sebagai tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia.
Novel ini hanya setebal 214 halaman. Ada banyak waktu yang bisa diluangkan untuk membacanya dan menemukan keasyikan dalam mengikuti alurnya. Selamat membaca!