Sabtu, 19 Januari 2013

REPUBLIK #JANCUKERS




Bagi yang rajin mengakses twitter, pasti tidak asing dengan istilah “Jancukers”. Apalagi bagi para tweeps yang memang memfollow sebuah akun bernama @sudjiwotedjo. Hampir setiap hari pasti istilah “Jancuk” atau “Jancukers” menghiasi tweet-tweet si empunya akun. Yang memfollow juga pasti tidak lagi kaget dengan istilah yang mungkin kala pertama mendengar akan tedengar sangat kasar. Tapi kalau sudah tahu maknanya, hilang lah anggapan buruk tersebut.
“Republik #Jancukers” menurut pengantar yang ditulis di cover belakang buku adalah hasil perenungan Sujiwo Tejo, sang penulis, akan hal-hal keseharian. Perenungan itu memunculkan sebuah cita-cita, nyaris utopia, yang dinamainya Republik Jancukers. Jancukers adalah nama follower Sujiwo Tejo di Twitter. Republik Jancukers berarti Republik ideal yang berpenduduk orang-orang dengan jiwa Jancukers. Sujiwo Tejo pastilah berkemauan agar followersnya mengerti benar alam pikiran dan cita-citanya akan sebuah negara dan bangsa yang ideal.
Secara tidak langsung, “Republik #Jancukers” adalah antitesis dari Republik Indonesia. Walaupun tidak disebutkan secara gamblang, namun cara Sujiwo Tejo menceritakan permasalahan yang terjadi di Indonesia dan bagaimana orang-orang di sana menyikapinya tampak kontras dengan cara rakyat dan peraturan di negara Jancukers yang dipimpin olehnya melihat masalah yang sama. Tapi jangan lalu menganggap bahwa buku ini berisi sesuatu yang sangat berat. Malah sebaliknya.
Tulisan yang tersaji sangat kocak karena Sujiwo Tejo memposisikan dirinya bukan sebagai pengkritik tapi pengamat. Sering saya terbawa untuk tertawa ngakak. Caranya mengamati ya dengan memberikan perbandingan antara situasi di Indonesia dengan apa yang terjadi bila itu ada di negara Jancukers. Contohnya saat ia membahasa ketidaktahuan masyarakat sekarang tentang dasar negara yang sangat kontras dengan keupdatean mereka tentang masalah remeh temeh yang lain seperti kehidupan pribadi orang lain. Kanguru sendiri adalah cara Sujiwo Tejo menggarisbawahi esensi suatu hal. Bahwa yang paling penting dari sebuah benda bukan namanya, namun esensinya, maknanya. Australia dinamakan “negeri Kanguru” karena mamalia tersebut banyak ditemukan di sana. Lalu kenapa “Papua” tidak disebut “negeri Kanguru” juga? Pesan dari perumpamaan ini jelas.  Masyarakat Indonesia cenderung mengedepankan nama atau bentuk luar sesuatu tanpa meresapi makna dibaliknya. Sama seperti ketika mereka memaknai dasar negara sebatas sebuah istilah tanpa memahami kepribadian di dalamnya.
Masih banyak perumpamaan serupa karena sejatinya buku ini adalah rangkuman dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang luput diamati. Sujiwo Tejo mengambil hal tersebut sebagai sebuah bahasan untuk mengantar ke sebuah diskusi yang lebih mendalam tentang kualitas sebuah bangsa dan negara. Memang kalau dipikir-pikir, Indonesia jadi terlihat sangat buruk setelah membaca buku ini. Tapi yang berpikiran positif malah bisa terpacu untuk mulai berbenah diri karena sebenarnya berbuat baik sebagai warga negara juga adalah tentang melakukan hal-hal keseharian yang remeh-temeh.
Total ada 14 bab yang masing-masing diberi judul sesuai dengan judul-judul lagu di album barunya “Mirah Ingsun”. Kalau membeli bukunya, dapat gratis sebuah CD dari album ini. Di awal bab, selalu ada lirik dari judul lagu yang dijadikan nama bab dan yang menarik, selalu ada versi bahasa Inggris dari lirik tersebut. Dari semua hal yang ada di buku ini, terjemahan tersebut paling menarik perhatian saya karena Bahasa Inggrisnya bukan merupakan hasil penerjemahan lirik dari Bahasa Indonesia tapi Bahasa Jawa. Memang lagu-lagu di “Mirah Ingsun” semuanya berbahasa Jawa dan bukan bahasa Jawa yang diksinya familiar untuk saya (saya orang Jawa tulen). Diksinya adalah diksi bahasa Jawa yang biasa dipakai untuk berpuisi. Mungkin termasuk tingkatan krama inggil atau kuno saya tidak tahu tapi jelas bahwa itu bahasa Jawa.
Sebagai anak sastra, saya tergerak untuk menelusuri tiap kata hasil terjemahan. Mencari tahu tingkat kesesuaian maknanya dan pilihan diksi yang digunakan. Kesimpulan: terjemahan itu bukan pekerjaan mudah.
Intinya, kalau ada yang ingin tahu atau penasaran dengan gaya tulisan Sujiwo Tejo yang nyeleneh, baca saja buku setebal 400 halaman ini. Selain berisi kritik, buku ini juga berisi humor, sesuai dengan kepribadian penulisnya yang agak antik. Selamat membaca!

Tidak ada komentar: