Jumat, 15 Februari 2013

POLEMIK KEBUDAYAAN


  

Dalam sejarah seni dan budaya, Indonesia memiliki dua buah peristiwa yang mempengaruhi arah jalannya budaya dan corak yang dianut oleh para cendekia. Yang pertama adalah Polemik Kebudayaan yang terjadi antara Agustus 1935-Juni 1939. Yang kedua adalah Manifesto Kebudayaan yang diproklamirkan pada 1963. Yang pertama bisa disebut sebagai peletak dasar kebudayaan Indonesia pertama kali karena saat itu orang-orang, terutama para cerdik cendekia, mempertanyakan budaya jenis apa yang seharusnya dianut oleh bangsa Indonesia.
Lewat buku berjudul Polemik Kebudayaan , Achdiat Karta Mihardja mengumpulkan tulisan para tokoh kebudayaan Indonesia di zaman itu yang coba untuk ditampilkan kembali agar tidak terlupakan seiring bergantinya zaman, terutama oleh generasi muda. Menyadari pentingnya peran Polemik Kebudayaan dalam menggambarkan pokok pikiran para pendahulu, buku ini telah mengalami tiga kali turun cetak oleh Penerbit Balai Pustaka. Cetakan terakhir ada di tahun 1998.
Tulisan di buku ini menggunakan bahasa Indonesia yang masih sarat dengan pengaruh Melayu. Tidak heran karena setelah diproklamirkan lewat Kongres Pemuda pada 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia mulai dipakai sebagai bahasa pengantar oleh sebagian besar penerbitan dan percetakan surat kabar serta buku bangsa Indonesia secara luas. Struktur dan diksinya masih agak sama dengan bahasa Melayu karena memang bahasa Indonesia adalah anak atau cabang dari bahasa tersebut. Dari sinilah nantinya bahasa Indonesia berkembang menjadi bahasa seperti yang dipakai saat ini.
Dari proses pengumpulan tulisan yang dilakukan oleh Achdiat Karta Mihardja, hasilnya disusun dalam dua buku. Buku yang akan dibahas adalah kumpulan pertama dari tulisan tentang Polemik Kebudayaan. Penyumbang tulisan ini antara lain: Sutan Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, Dr. Purbatjaraka, Tjindarbumi, Adinegoro, Dr. M. Amir, dan Ki Hadjar Dewantara.  Ketujuh penulis datang dari berbagai latar belakang yang tidak jauh berbeda, yaitu kesusastraan, jurnalisme, dan pendidikan. Tiga ranah yang sangat terhubung erat dan menjadi tonggak-tonggak perjuangan di masa itu.
Achdiat Karta Mihardja mengelompokkan tulisan-tulisan yang dikumpulkannya dalam tiga jenis polemik yang berjudul Polemik I, II, dan III. Sutan Takdir Alisjahbana adalah orang yang bertanggung jawab terhadap terciptanya pertukaran ide yang hebat ini. Dalam Polemik I, ia mempertanyakan kebudayaan jenis apa yang sesuai untuk dimiliki bangsa Indonesia yang baru lahir. Tentu saja bukan kebudayaan daerah yang dianggapnya sangat erat unsur kedaerahan, STA menyebut kebudayaan berorientasi daerah sebagai provincialisme. Ini membuat STA membuat zaman yang dinamainya  zaman Indonesia dan Prae-Indonesia. Zaman Indonesia adalah zaman di mana bangsa Indonesia memiliki tujuan sama dan tidak mengagungkan sejarah dan potensi kedaerahannya. Zaman Prae-Indonesia adalah zaman di mana konsep bangsa Indonesia belum terbentuk dan tiap-tiap orang masih mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari suku Jawa, Bugis, Maluku, dll., bukan bagian dari bangsa Indonesia. Sehingga dalam merumuskan kebudayaan Indonesia saat itu, sangkut paut dengan sejarah sebelum terbentuknya konsep bangsa Indonesia murni harus dinafikkan. Kebudayaan Indonesia harus mulai dibangun dan didefinisikan. Untuk membangun dan mendefinisikan, bangsa Indonesia harus berpedoman pada Barat karena Barat dianggap telah mampu mengandalkan kemampuannya sebagai manusia untuk menaklukkan alam serta meningkatkan kualitas diri secara materi. Tulisannya ini berjudul “Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru” dan diterbitkan di harian Pujangga Baru.
Pandangan ini mengundang bantahan dari pemikir lain, di antaranya Sanusi Pane dan Purbatjaraka. Keduanya sepakat bahwa zaman sebelum nama bangsa Indonesia dideklarasikan adalah sejarah yang tak terpisahkan dari kebudayaan Indonesia masa sekarang. Dalam membangun, kombinasi antara Barat dan Timur merupakan rumus yang ideal. Tidak bisa meninggalkan Timur yang telah mendarah daging dan mempengaruhi semua aspek keIndonesiaan saat ini.
Dalam Polemik II, lewat karyanya berjudul “Semboyan yang Tegas”, STA kembali melempar sebuah tulisan yang merupakan kritik atas hasil Kongres Permusyawaratan Perguruan Indonesia yang pertama di Solo tanggal 8, 9, dan 10 Juni. Antiintelektualisme, antiindividualisme, antiegoisme, dan antimaterialisme yang didengungkan sebagai isi utama kongres tidak bisa dilakukan dalam membangun dan mendidik generasi muda. Intelektualisme, Individualisme, egoisme, dan materialism adalah jiwa pendidikan dan pembangunan Barat yang harus merasuk dalam sanubari generasi penerus. Pendidikan a la Barat harus lebih diutamakan dan mendapatkan tempat khusus dalam membangun bangsa Indonesia yang baru lahir. Keempatnya merupakan pilar utama yang membuat sebuah bangsa menjadi kuat dan mendapat gairah untuk berusaha dan bersaing. Pendidikan Timur mengacu pada didikan pasif karena sifatnya yang komunal, bukan individual. Masyarakat tidak tergerak untuk memperkaya dirinya karena lingkungannya tidak tergerak untuk berkembang.    
Tanggapan datang dari R. Sutomo sebagai salah satu penggagas keempat “anti’ tadi dan juga Adinegoro. R. Sutomo menyoroti kekurangan pengajaran Barat yang menjauhkan keeratan antar individu. Ada jurang pemisah antara pelajar yang bersekolah di sekolah-sekolah Barat yang dibuat dalam berbagai level. Anak-anak yang bersekolah di HIS atau ELS cenderung menganggap dirinya lebih baik dari anak-anak dari sekolah lain. Sifat seperti ini akan menimbulkan kerenggangan persatuan di antara generasi muda. Sedang pendidikan Barat a la Timur yang dinamainya pesantren terbukti faedahnya dalam menyatukan generasi muda dan mengawasi akhlaknya karena mereka hidup dalam pemondokan yang dibuat sekolah. Adinegoro muncul dengan menyoroti perbedaan antara culture dan civilization. Pendidikan Barat yang sifatnya teknik bisa dipindahkan ke Timur. Teknik ini adalah contoh civilization yang bisa dipindahkan dan diadopsi untuk mempermudah terselenggaranya kehidupan keseharian namun berbeda dengan culture. Culture adalah bagian dari masyarakat yang melekat dan khas dari suatu bangsa. Dengan ini, tidak mungkin untuk mengadopsi keseluruhan kebudayaan Barat lewat pendidikannya dan melekatkannya secara langsung pada bangsa Indonesia.
Di antara para pengkritik, ada juga Tjindarbumi yang setuju dengan pemikiran STA. Sedangkan Dr. M. Amir dan Ki Hadjar Dewantara hadir dengan caranya sendiri dalam menyikapi ide STA. Dr. M. Amir lewat tulisannya yang panjang mengungkapkan ide utama pemikir-pemikir Barat bahwa kebudayaan dan kemegahan Barat yang sekarang dicapai lewat proses panjang dan bukan murni hasil dari intelektualisme, individualisme, egoisme, dan materialism. Kemegahan Barat juga hadir lewat jiwa-jiwa rohaniah yang dibawa agama dan filosofi Yunani kuno. Sehingga dalam mencontoh Barat, kenasionalan yang lama dibangun sebelum terbentuk bangsa Indonesia tetap tidak bisa dinafikkan.
Ki Hadjar Dewantara menyadari bahwa keinginan manusia terhadap pergantian adat adalah naluriah dan alamiah. Manusia menginginkan perubahan yang merupakan manifestasi keadaan “alam” dan “zaman” dan sebagai makhluk berakal, manusia memiliki kuasa untuk melakukan perubahan ini. Pertentangan pemikiran sebagai dampak dari kuasa tersebut harus didikapi secara positif karena masing-masing kubu yang saling bertentangan bermaksud baik.
Polemik terakhir yaitu Polemik III kembali lagi menyoroti masalah kebudayaan baru yang menurut STA harus sesuai dengan kebudayaan internasional dan oleh karena itu harus 100% berbeda dari kebudayaan nenek moyang. Dalam tulisannya yang berjudul “Pekerjaan Pembangunan Bangsa Sebagai Pekerjaan Pendidikan”, pendidikan sebagai media pengantar ide harus mampu membawa generasi muda Indonesia ke kondisi tersebut. Sedangkan Dr. M. Amir dalam menanggapi pernyataan STA hadir dengan argumen bahwa bangsa Indonesia harus memperhatikan dan mempertahankan budayanya karena itu yang menjadi pokok dan memberi definisi pada sebuah bangsa.
Kumpulan tulisan dari ketujuh pemikir di zaman sebelum kemerdekaan ini bukan menunjukkan perpecahan namun justru merupakan bukti bahwa para cendekiawan saat itu hadir dan menawarkan ide yang menurut masing-masing dari mereka sesuai untuk membangun bangsa Indonesia yang masih sangat muda. Pertentangan ide membuktikan adanya energi positif sebagai hasil dari proses berpikir. Semuanya mati-matian mempertahankan gagasan atas dasar kebaikan bagi bangsa Indonesia. STA yang Barat sentris percaya bahwa modernisasi adalah tujuan yang harus diraih oleh bangsa Indonesia yang baru lahir. Ketertinggalan dengan negara-negara maju lain yang sudah merdeka harus dikejar. Satu-satunya cara untuk bisa menjadi mereka adalah berpikir dan berlaku menjadi mereka. Pemikir yang lain seperti R. Sutomo berpendapat bahwa sebagai orang Timur, kebudayaan Timur harus mendapat tempat penuh. Pendidikan pun harus disampaikan dengan cara Timur karena sifatnya yang menjiwai semangat dan kekhasan masyarakatnya yang komunal. Pemikir yang lain menawarkan sebuah penggabungan antara Barat dan Timur. Menggabungkan saripati Barat lewat civilization yang termanifestasi dalam teknik dan culture Timur yang menjadi akar dan tak terpisah dari bangsa dan budaya Indonesia. 
Menarik juga ketika ide yang disampaikan hampir 80 tahun yang lalu masih relevan dengan keadaan saat ini. Saat ini orang mempermasalahkan efek buruk globalisasi yang menggerus budaya nasional dan semakin membawa bangsa ini meninggalkan kearifan lokal dan nasional. Cita-cita nasional dan kerjasama bukan menjadi prioritas lagi. Orang lebih tertarik untuk berjuang secara individu dan meningkatkan kualitas pribadi.
Polemik Kebudayaan adalah salah satu bukti bahwa Indonesia pernah punya pemikir hebat yang berusaha memberikan definisi pada bangsa ini di kehidupan mendatang. Mereka mempunyai kepercayaan bahwa bangsa ini akan menjadi bangsa besar dan oleh karena itu konsep tentang berbudaya pun penting untuk dirumuskan. Padahal saat itu nama Indonesia sebagai sebuah negara belum ada. Ia baru dideklarasikan 10 tahun kemudian. Beberapa dari pemikir Polemik Kebudayaan tersebut sudah berpulang ketika akhirnya bangsa yang mereka cita-citakan punya wadah untuk membuktikan dan mewujudkan cita-citanya. Tapi gaung pemikiran mereka tak akan pernah padam ditelan zaman karena ketulusan, kepercayaan dan dedikasi mereka pada bangsa yang dulu masih muda ini. Selamat membaca!

2 komentar:

utami de.ka mengatakan...

izin copas ya . makasih sangat bermanfaat :)

nonick mengatakan...

Silakan. Dengan senang hati..